oleh

Merasa Sensasi Mendaki Gunung di Malam Hari

Suasana di Puncak Bukit Kaba
Suasana di Puncak Bukit Kaba

Menikmati keindahan pantai mungkin sudah menjadi hal yang biasa dilaukan oleh masyarakat yang tinggal di Kota Bengkulu. Namun menikmati keidahan panorama alam pegunungan menjadi hal yang jarang dan menarik untuk dinikmati. Apalagi untuk menikmati pemandangan alam pegunungan ini diperlukan perjuangan yang tidak mudah, karena kita harus mendaki untuk sampai kepuncak.

Di Provinsi Bengkulu terdapat sebuah bukit yang cukup terkenal dan menjadi tempat favorit untuk melakukan pendakian, namanya “Bukit Kaba”. kupasbengkulu.com pun tidak ingin ketinggalan untuk menikmati pemandangan dari puncak yang memiliki ketinggian 1.938 m dpl ini.

Bukit Kaba terletak di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupuh Rejang Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu sekitar 95 KM dari Kota Bengkulu. Perjalan kami lakukan menggunakan sepeda motor yang memakan waktu 3 jam perjalanan dari Kota Bengkulu.

Perjalan yang cukup melelahkan, karena kami harus mengemban kebutuhan logistik dan perlengkapan kemah lainya. Ditambah lagi kabut dan dingin yang mulai menusuk kulit karena kami melakukan perjalanan sore. Pukul setengah 4 sore kami berangkat dari Kota Bengkulu dan pukul setengah 7 malam kami telah tiba di area Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) pos terakhir untuk melakukan pendakian.

kupas

Kali ini kami akan melakukan pendakian malam. Setiba di Pokdarwis kami memilih untuk istirahat sejenak, sembari memerisa perlengkapan kembali terutama senter untuk menerangi jalan. setelah dirasa cukup, lalu kami mendaftarkan diri terlebih dahulu kepada petugas yang berjaga, tepat pukul 20.00 WIB malam kami memulai pendakian. Bismillah, dengan semangat kaki kami melangkah dengan harapan dapat selamat sampai ke puncak dengan selamat.

Diawal pendakian kita akan menyeberangi sungai yang tidak begitu deras dan langsung disambut oleh tebing yang cukup tinggi. Track yang cukup membuat “ngos-ngosan” bagi yang tidak tebiasa olahraga. Menjaga semangat dan saling memotivasi kami lakukan agar dapat mencapai puncak dengan selamat karena perjalanan kami baru saja dimulai.

Sepanjang perjalan kami merasa beruntung karena ditemani sinar bulan yang begitu terang. Sesekali kami istirahat dan melihat ke langit untuk menikmati cahaya bulan yang terasa begitu sempurna menembus dedaunan dan ranting pohon. Tapi kami tidak mau terlena, kami harus segera melanjutkan perjalanan menuju puncak mengingat waktu terus berjalan.

Kami tidak menjumpai satu orang pun pendaki lainya di jalan, kami rasa kami adalah pendaki terakhir malam itu. Setelah 2 jam perjalan barulah terdengar suara para pendaki lainya yang berada di puncak. Kaki kami pun semakin semangat untuk melangkah karena itu pertanda bahwa kami akan segera sampai ke puncak.

Langkah kaki kami pun terasa semakin pendek karena mulai kehabisan tenaga namun kami harus tetap menjaganya karena puncak sudah di depan mata. Udara dingin tidak begitu terasa karena keringat yang sudah bercucuran. Suara pendaki lain pun makin jelas terdengar, dan tepat pukul setengah 11 kami tiba di kuba bukit kaba.

“Assalamualaikum” sapa kami kepada para pendaki lainya yang sedang melingkari api unggun. “waalaikumsalam” sahut mereka dengan ramah.

Sesampainya di puncak kami langsung mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Kami harus naik ke atas sedikit lagi untuk mendapatkan lokasi yang pas untuk mendirikan tenda dan dekat dengan sumber air bersih. Setelah mendapat lokasi yang pas kami mulai membagi tugas, ada yang mendirikan tenda, mengambil air bersih, dan masak.

kaba1

Setelah tenda berdiri, lalu kami memulai menikmati malam dengan memandangi bulan dan kelap kelip cahaya lampu di kejauhan. Semua rasa letih, pegal yang menyiksa selama pendakian hilang seketika tergantikan oleh keindahan cipataan tuhan yang kami nikmati. Mata seolah tak rela untuk terlelap melewatkan malam. Namun kabut dan dingin yang mulai datang mengharuskan kami kembali ke dalam tenda dan beristirahat untuk memulai pertualangan besok pagi.

Keesokan harinya, matahari telah menampakkan sinar namun sayangnya kami tidak dapat mengabadikan sunrise yang sempurna karena matahari terhalang kabut yang cukup tebal dan sedikit rintik hujan. Kamipun memilih untuk menikmati sarapan dengan segelas susu dan biskuit.

Setelah itu kami harus meninggalkan tenda sejenak untk melakukan perjalanan menuju puncak tertinggi bukit kaba. Sekitar 30 menit perjalanan menanjak kami tiba di puncak melewati ratusan anak tangga yang menyiksa kaki.

kawah belerang aktif
kawah belerang aktif

Dari puncak tertinggi bukit kaba kami segera mengabadikan dengan berphoto bersama. Dari puncak ini kita dapat leluasa memandang perbukitan yang ada di sekitar Bukit Kaba dan kepulan asap yang muncul dari kawah.

Di bukit kaba ini kita dapat turun dan mendekat ke kawah belerang, namun kita harus waspada dan menggunakan masker karena aroma belerang yang sangat pekat dapat berbahaya bagi pernafasan Jika terhirup. Untuk turun ke kawah kita harus waspada, jika tidak lkaki yang terbiasa mendaki akan tergelincir karena menahan beban tubuh.

Lagi-lagi kami merasa sangat beruntung karena cuaca tidak begitu terik dan tidak juga berkabut, sehingga kami betah berlamama-lama di alam terbuaka untuk mengabadikan setiap moment di tempat ini.

Tidak terasa telah setengah hari kami mengitari puncak bukit kaba untuk menikmati keindahan kawah dan bukit yang mengelilingi bukit kaba. Kami harus segera kembali ke tenda untuk mengisi perut dan siap-siapa turun gunung.

Pukul 4 sore kami telah siap dan bergegas untuk turun, sebelum hujan dan kabut datang karena akan membuat jalan yang kami lalui akan semakin licin dan membahayakan perjalanan kami. Pukul 6 sore kami telah tiba di Poksarwis tempat dimana kami memulai pendakian. ini artinya perjalanan pulang lebih cepat setengah jam dibandingkan pada waktu pendakian.

Melihat beratnya track dan jaunya perjanan yang telah dilalui, rasanya tidak menyangka telah melalui semuanya. Memang setiap langkah menuju puncak adalah perjuangan dan yakin bahwa nanti semuanya akan tergantikan dengan hal-hal yang tidak terduga. Dalam perjalanan, nikmati semua hal yang bisa dinikmati. Meskipun sakit menyiksa kaki, tapi rasanya kami tidak akan jera untuk kembali ke sini.

Penulis; Metalia Soneta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed