oleh

Modal Rp 6 Juta, Tukang Rumput Mampu Sedot Pengunjung Wisatawan

jembatan gantung
Jembatan Gantung di Sungai Suci, Bengkulu Tengah

kupasbengkulu.com – Siapa menyangkan, sosok Hajidal yang berprofesi sebagia tukang rumput ini mampu menarik pengunjung untuk menikmati suasana alam obyek wisata Sungai Suci di Desa Pasar Pedati, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Siapakah Hatijal? Ya, dia pria parubaya yang menyulap salah satu kawasan obyek wisata andalan di Bengkulu Tengah, dengan membagun sebuah jembatan gantung. Ide tersebut muncul setelah dirinya berpikir, jika animo masyarakat selama ini di Sungai Suci hanya untuk ke warung remang-remang (Warem).

Hanya bermodal Rp 6 juta, dirinya bersama rekan-rekannya berhasil membangun jembatan gantung, dengan panjang sekitar 8 meter di atas bebatuan yang menghubungkan dua tanah terkikis abrasi.

”Saya berpikir bangun jembatan ini bisa mengalihkan perhatian orang yang berniat ke warung remang-remang (warem) disekitar sini. Nah, dari sini pengunjung yang datang bisa mengurungkan niat untuk masuk warem,” kata Hajidal yang akrab disapa Ujang, saat ditemui, Rabu (30/7/2014).

Kecakapannya sebagai nelayan dan pengalaman menjadi pelaut bertahun-tahun serta merantau ke berbagai belahan nusantara membuatnya, sosok pria ini, mahir mengayam tali yang digunakan sebagai bahan utama jembatan. Bahkan, dalam pembuatan itu suami dari Salbani ini, tetap mengutamakan keselamatan pengunjung guna merasakan sensasi menyebrangi jembatan.

”Kedepannya saya ingin mengganti tali ini dengan sling anti karat, agar lebih tahan lama,” imbuh bapak empat anak ini.

Sejak jembatan ini dirikan dua tahun lalu, lanjut dia, telah banyak perubahan positif di kawasan wisata Sungai Suci, yang mana keinginan untuk mengurangi jumlah pengunjung warem perlahan mulai terwujud. Bahkan, kedepannya dirinya berkeinginan mendirikan mushola.

”Alhamdulillah, kalau orang ke Sungai Suci tidak lagi dianggap mau masuk warem, karena orang sudah tahu ada jembatan yang bisa dijadikan lokasi foto bagi anak muda. Nanti rencananya mau membuat mushola yang sederhana saja, yang penting orang ke sini bisa wisata tanpa meninggalkan ibadah,” ucap Ujang, sambil memandang laut lepas.

Saat ditemui sang istri Ujang, Salbani mengatakan, pengunjung dapat menaiki jembatan gantung, hanya dengan mengeluarkan kocek (Uang,red), dari Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu per orang. Diakuinya, ketika hari biasa dirinya mampu mengantongi Rp 50 ribu per hari. Namun, ketika, hari libur terlebih khususnya hari raya Idul Fitri tahun ini, dirinya mampu mengumpulkan uang hingga Rp 500 ribu per hari.

”Kalau suami sedang ada kerja merumput saya jaga sendiri. Tapi, kalau suami sedang libur kami jaga berdua,” cerita perempuan penjaga dan pemandu jembatan gantung ini.

Sebagai isteri, dirinya sangat bersyukur mempunyai suami yang berkeinginan kuat dan berani melakukan sesuatu yang baru.

”Ide bapak (Suami,red) untuk mendirikan jembatan ini terwujud. Dari sini kami sekeluarga bisa hidup dan anak bisa sekolah. Salah satu anak kami berhasil masuk salah satu pesantren di pulau Jawa,” demikia Salbani.

Andai ada sepuluh Hajidal mungkin telah lama impian tersebut dapat terwujud. Seorang tukang potong rumput saja mampu berfikir cerdas dan membawa perubahan positif bagi suatu tempat, bagaimana dengan kita?

Penulis : Evi Valendri, Bengkulu Tengah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed