oleh

Patung Kayu dan Piring Kosong

Patung kayu Pria papua dan piring kosong karya wamsimor
Patung kayu Pria papua dan piring kosong karya wamsimor

Sebuah patung kayu cukup menarik para pengunjung Festival Budaya dalam Rakernas IV, Aliansi Masyarakat Adat Nasional (Aman), di lapangan Woronai, Sorong, Papua, Selasa (7/3/2015).

Patung tersebut berada di sebelah kiri panggung utama deretan stand pameran, patung pria Papua tersebut cukup menyita perhatian pengunjung yang berasal dari seluruh Tanah Air.

Patung kayu pahatan itu, berada di atas sebuah potongan kayu tebangan setinggi sekitar 80 sentimeter, masih terlihat sisa akar di pangkal pohon, menambah kesan artistik dan filosofis.

Di sepanjang pohon tersebut terdapat seekor pahatan ular menggelung pohon. Sementara pada bagian puncak sisa potongan pohon itulah patung pria papua tanpa baju, duduk menyedihkan bersama satu tangan memegang piring kosong.

Selanjutnya di bagian depan patung terdapat tulisan dari selembar kertas berisikan kesedihan si pemahat atas kelaparan, kemiskinan masyarakat Papua akibat rusaknya hutan.

David Womsiwor (64) adalah pemahat patung itu, ia merupakan seniman pahat asal Sorong, Papua.

“Pahatan patung ini imbauan rasa prihatin terhdap hutan papua yg telah dibabat habis. Kami tak bisaa menyuarakan kalau hutan jangan ditbang, kami  hanyaa bisa lewat karya,” kata Womsimor belum lama ini.

Womsimor melanjutkan, replika patung pria Papua kelaparan itu sekarang telah menjadi nyata, banyak anak-anak Papua kelaparan karena hutan telah dirusak untuk HPH, kebun sawit, pertambangan, dan masih banyak lagi.

“Hutan dirusak anak cucu akan menderita, itu maknanya menatap piring kosong kelaparan dari patung kayu itu,” lanjut Womsimor.

Massifnya pembukaan hutan di Papua menurut Womsimor mengakibatkan secara langsung menghabiskan hutan rakyat.

“Sagu diganti beras, anak tidak lagi dapat makan, mereka diminta makan beras padahal makanan pokonya sagu, ubi sekarang dibabat habis diganti beras, hasil buruan sudah sulit, dulu berburu gampang sekarang jauh duluu bisa didapat di belakang kampung, cari rotan, kayu buat rumah, sekarang rotan tak ada harus cari jauh, itupun kalau mencari ke dalam hutan akan berhadapan dengan perushaan,” cerita Womsimor.

Saat ini keluh seniman Sorong itu takyat tak berdaya untuk melawan, pemerintah harus bijak mendekati masyarakat terhadap apa yang mereka mau.

Hari semakin siang, seremoni acara pembukaan telah usai, sayang tak terlihat apakah Mendagri, Tjahyo Kumolo dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sempat memperhatikan pahatan Womsimor.

Penulis: Firmansyah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

nine − one =

News Feed