oleh

Petani Gotong Royong Bangun Jembatan Gantung

B
Jembatan gantung swadaya masyarakat.

Bengkulu Tengah, kupasbengkulu.com – Masyarakat yang memiliki kebun dan sawah berada di Desa Surau, Kecamatan Taba Penanjung, Minggu (15/5), bergotong royong membangun jembatan gantung.

Jembatan sebagai akses penghubung Desa Surau menuju lokasi kebun dan sawah mereka, yang berada di seberang Sungai Air Susup.

“Jembantan gantung ini untuk mempermudah para petani dalam mengangkut hasil pertaniannya. Dimana selama ini, mereka pergi dan pulang ke kebun dan sawahnya, dengan harus menyeberangi sungai tersebut,” ujar Babinsa Desa Surau Serda Sukoco, selaku koordinator pembangunan jembatan gantung.

Pembangunan jembatan gantung dengan panjang 12,5 Meter dan lebar 1,70 Meter, yang terbuat dari bambu dan kawat jelas Sukoco, merupakan swadaya masyarakat yang memiliki kebun dan sawah yang berada diseberang Air Sungai Susup tersebut.

“Para petani bersepakat swadaya dan dengan mengumpulkan dana yang terkumpul sebesar Rp 3 Juta, untuk pembuatan jembatan gantung tersebut,” jelas Sukoco.

Setelah dana terkumpul dan bahan yang diperlukan sudah siap, maka disepakati mulai pukul 08.00 WIB. Sebanyak 96 warga pemilik kebun dan sawah, yang berasal dari Desa Surau, Taba Teret, Taba Baru, Kelurahan Taba Penanjung, Tanjung Heran dan Rindu Hati, bergotong royong membangun jembatan gantung tersebut.

“Alhamdulillah, sekitar pukul 17.00 WIB, jembatan gantung itu selesai dibuat, dan dapat dimanfaatkan para petani untuk akses menyeberang dan mengangkut hasil pertaniannya,” lanjutnya.

Selain untuk mempermudah akses jalan bagi petani, pembangunan jembatan gantung itu juga dilatarbelakangi akibat beberapa kali kejadian petani ada yang hanyut, terseret arus sungai ketika mereka menyeberangi Air Susup.

“Beberapa waktu lalu, ada 11 petani. Baik laki-laki dan perempuan yang sempat terseret air yang meluap, ketika mereka menyeberang dan semuanya bisa diselamatkan,” ungkapnya.

Dengan adanya jembatan gantung itu, kini petani sudah mudah untuk ke kebun dan sawah, mereka serta membawa hasil panen pertaniannya.

“Kami bersyukur dan sangat senang dengan adanya jembatan gantung ini. Meskipun terbuat dari bambu dan kawat, tetapi kini kami lebih mudah untuk ke kebun dan membawa hasil panen dari kebun kami. Tanpa takut menyeberangi sungai saat air banjir,” jelas Bambang salah seorang petani setempat.(***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed