oleh

Prof Dr Hazairin SH Sang Pembaharu (2 tamat)

-Opini-13 views

“Hukum tanpa moral adalah kezaliman. Moral tanpa hukum adalah anarkhi dan utopi dan menjurus kepada perikebinatangan”.

  Prof DR Hazairin SH  bijak tanggap dan bijak nilai di bidang yang ditekuninya lebih menampangkan “levens beschouing” dan “levens program”. Beliau yang menuju kesuatu titik.  Dalam hal ini beliau berhasrat untuk melihat penerapan hukum berdasarkan kesusilaan, sehingga tercapailah keadilan.

Diceritakan Prof Rasjidi Oesman SH, dalam karangan Prof DR Hazairin  tentang “Demokrasi Pancasila”,  beliau mengatakan:  “Hidup bersusila atau berkesusilaan, atau hidup bermoral adalah tuntutan yang paling pokok dalam menegangkan Pancasila bagi keselamatan negara, bangsa dan masyarakat. Sebab Pancasila bukan saja (Secara deduksi dan induksi) menghimpun norma-norma hukum, tetapi juga menghimpun norma-norma moral.

Negara Republik Indonesia (NKRI) adalah sebuah negara yang terdiri atas kesadaran, bahwa hukum dan moral tidak dapat dipisah-pisahkan. Hukum tanpa moral adalah kezaliman. Moral tanpa hukum adalah anarkhi dan utopi dan menjurus kepada perikebinatangan.

Hanya hukum yang diliputi oleh berakar pada kesusilaan dapat menerapkan kemanusian. Kesadaran persenyawaan antara hukum dan kesusilaan hukum terpampang dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 1 yang berbunyi:

“Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung arti,  bahwa negara, bangsa dan masyarakat mematuhi norma-norma kesusilaan. Oleh karena itu,  maka dalam Republik Indonesia tidak boleh dibiarkan ada yang bertentangan dengan sesuatu norma illahi dan tidak boleh dibiarkan ada “kesusilaan” yang berlawan dengan sesuatu norma ilahi.

Menambah garis-garis hukum dan garis-garis kesusilaan kepada norma illahi, tetapi tidak bertentangan dengan norma-norma ilahi adalah bebas leluasa. Dalam menilai manusia menurut ukuran Pancasila,  orang hanya dapat memperhatikan perkataan, perbuatan dan periperangai manusia itu.

Manusia yang tidak berkesusilaan perkataannya yang indah-indah, dengan perbuatan dan laku perangainya disebut munafik, sangat berbahaya di negara, bangsa dan masyarakat. Walaupun dia tidak pernah melakukan pelanggaran hukum. Orang yang dalam musyawarah tidak dapat memberikan argumen (Dalil) yang berkesusilaan dan bersih,  keras pada pendirian pribadi adalah orang yang tidak berkemauan baik. Pendiriannya yang tidak berdalil itu tidak boleh diperhitungkan dalam mencari kata mufakat.

Keberuntungan

Dinamika proses berfikir beliau yang dapat di kaji melalui karangan beliau, memberikan pengetahuan bagi setiap budiman tentang filsafat ilmu dan filsafat hidup yang dia nut oleh beliau.

Filsafat keilmuannya mendorong beliau pada tingkat kesadaran yang tinggi, yaitu alam fisik empirik ke alam metafisik meta-empirik. Dari logika keilmuan menjadi supralogika. Hal ini tergambar dalam tulisannya tentang ajjarmu’l-Quran (Jagat raya menurut alquran ). Tulisan ini ditujukan kepada murid muridnya untuk membangkitkan minat murid-muridnya akan kekayaan bahan-bahan ilmu yang terkandung ayat ayat Quran.

 Prof DR Hazairin bilang, ”jika benar Quran itu Firman Allah, maka tidak mungkin ada ayat ayatnya yang bertentangan dengan pendapat pendapat ilmiah yang telah rampung, karena ilmu sesungguhnya berasal dari Allah yang di berikan juga kepada manusia”.

Dipaparkan Sang Pembaharu ini,  mereka yang telah menguasai sesuatu cabang ilmu, akan beruntung dapat memperdalam ilmunya atau mendekatkan pengertian alam yang nyata kepada alam yang gaib. Jika ia mau mencoba memahami ayat ayat Quran dengan bantuan cahaya ilmiah yang diperolehnya dan dengan demikian memperbesar cahaya ilmunya itu.

Karena keyakian itulah maka dalam usia di atas 50 tahun, timbul keinginan dalam diriku hendak kembali ke usia 20 tahun, untuk dapat belajar lagi dalam berbagai disiplin ilmu, yang selama ini aku tidak mempunyai kesempatan untuk  mencurahkan minat kepadanya. Seperti fisika, biologi, geologi, ilmu binatang dan sebagainya. Namun apalah daya hendak membelokan perjalan waktu,  sesal kemudian tidak berguna. Sebab itu aku berpesan kepada murid murid ku, menjadilah penggemar ilmu yang mencakup segalanya (All round) menurut kesanggupan yang ada pada masing – masing dirimu.

Jika aku memberanikan diri juga membicarakan soal-soal pelik dalam tulisan ini,  sementara aku tidak mempunyai kelengkapan ilmu ,maka sebabnya adalah karena aku terdorong oleh sesuatu harapan.  Mudah- mudahan percikan sinar cahaya fajar di dalam terang-terang sabak, yang diliputi alam pikiran, pada suatu ketika akan menjadi terang benderang di waktu Dhuha bagi tunas muda yang akan tumbuh .

Aku mengakui bahwa tulisan tidak seluruhnya 100 % ilmiah, karena aku tidak mempunyai kelengkapan ilmu yang diperlukan. Akan tetapi jika  tulisan ini dapat menimbulkan dahaga ilmu dalam sanubari murid murid ku, maka jerihpayahku telah terasa mendapat upah yang sebesar-sebesarnya.

“ Maafkan aku jika pada suatu ketika aku menangguk dari alam mistik yang ada pada diriku. Alam mistik bukanlah alam akal, bukanlah alam ilmiah, tetapi tidak perlu pula berarti alam khayal. Kadang-kadang mistik itu setaraf dengan ilham atau setaraf dengan ilmu murni jika dapat diberikan argumentasinya“.

Menurut Prof Rasjidi, dari uraian tersebut,  almarhum bukan hanya mengenal proses rasional dalam memperoleh ilmu secara objektif. Beliau mencanangkan pengetahuan dan penghormatan,  adanya proses subyektif yang menjadi sumber,  yang tidak kalah pentingnya sebagai sumber ilmu.

Proses subjektif yang dimaksud adalah intuitif-spiritual, metafisika atau transedental. Intuisi adalah merupakan petunjuk yang diperoleh secara tiba-tiba melalui renungan yang mendalam dengan keheningan suasana, seraya menghilangkan pikiran duniawi serta memusatkan pikiran, untuk memperolehnya dengan jalan permohonan dan pendekatan pada Sang Pencipta Alam Semesta, Allah Yang Maha Berilmu.

 Dengan karangan beliau, Prof DR Hazairin SH tentang jagat raya menurut Al-Qur’an, beliau memperkenalkan kepada kita suatu keterpaduan ilmu objektif dan eksistensi dan esensi proses intuisi spiritual sebagai ilmu subektif.

    Saya tidak berani terlalu jauh untuk mengungkapkan pribadi almarhum Bapak Prof. Dr. Hazairin, S.H,  kata Prof Rasjidi. Khawatir kalau ungkapan saya dianggap berlebih-lebihan. Namun semua ungkapan itu saya dasarkan atas tulisan-tulisan beliau, yang kebetulan sebagian besar tulisan beliau ditugaskan pada saya pengetikannya,  sehingga terhayati juga apa yang telah beliau uraikan dalam tulisan itu.

Jelaslah kiranya bahwa almarhum telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi perkembangan dunia ilmu pengetahuan. (Benny Hakim Benardie)

 

 

News Feed