oleh

Simak Ulasan Persilangan Itik dan Entog Mahasiswa Unib

Tigtog hasil persilangan antara itik talang benih dan entog oleh mahasiswa Unib
Tigtog hasil persilangan antara itik talang benih dan entog oleh mahasiswa Unib

kupasbengkulu.com – Marisa Tenti beserta delapan rekannya dari jurusan peternakan Universitas Bengkulu, melakukan penelitian berupa penyilangan unik antara itik talang benih betina (Anas Plathyrinchos) dengan entog jantan (Cairina mustacha). Produk persilangan ini mereka beri nama Tiktog (singkatan dari itik entog).

“Ini terobosan dari kami untuk menghasilkan itik-itik pedaging dalam jumlah banyak, dengan kualitas daging super yang seperti entog,” ujarnya.

Menurutnya, daging itik adalah salah satu produk yang disukai banyak orang, namun jumlah pengusaha khusus itik pedaging masih sangat terbatas. Khususnya di kota Bengkulu, belum ditemukan pengusaha khusus itik pedaging.

“kalau pun ada usaha itik pedaging, peternak itik hanya memanfaatkan itik-itik afkir atau itik-itik tua yang produksi telurnya sudah menurun sekali. Dan itu kalau umurnya sudah lebih dua tahun. itu kan lama juga nunggunya. Itik-itik yang masih produktif tentu jarang dipotong, karena sayang,” tambah Marisa.

Tiktog hasil produksi silangan ini dapat dikonsumsi sejak berumur umur dua bulan. Dan harus diketahui bahwa tiktog tidak bisa menghasilkan keturunan alias steril. Jadi, keberadaannya memang dijadikan sebagai itik-itik pedaging super.

Menurut Ir. Hidayat, itik dan entog masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Ini lah yang mendasari ide penyatuan atau penyilang kedua spesies ini.

Entog dikenal dengan kualitas dagingnya yang luar biasa. Daging entog masuk ke dalam kategori daging merah. Ukuran tubuh entog juga relatif lebih besar ketimbang itik. Namun, kelemahannya adalah produksi telur yang relatif kecil.

“Produksi telur entog tidak lebih dari 70 butir dalam setahun,” ujar Ir. Hidayat.

Lain halnya dengan itik. Unggas ini dikenal dengan produktivitas telurnya yang tergolong tinggi, bisa lebih dari 200 butir per tahun. Namun, itik memiliki beberapa kekurangan, di antaranya ukuran yang lebih kecil, serta kualitas daging relatif rendah dibandingkan entog.

Melalui metode penyilangan inseminasi buatan (kawin suntik), diperoleh sifat yang sangat menguntungkan dari dua spesies. Entog berkontribusi dengan ukuran tubuh dan kualitas dagingnya, sedangkan itik menyediakan produksi telur yang banyak.

Dari hasil pengamatan, mereka mendeskripsikan tubuh tiktog hasil silangan mereka sebagai berikut, ukuran tubuh tiktog lebih besar menyerupai entog, postur lebih tinggi menyerupai itik, paruh lebih besar seperti entog, bunyi menyerupai itik, bulu-bulu lebih dominan menyerupai itik, ditambah bulu khas warna biru berkilau pada bagian ujung sayapnya.

Penelitian yang dimulai sejak Agustus 2013 ini telah menghasilkan 22 ekor individu baru (tigtog), usia bervariasi antara 2-10 minggu. Penelitian dijalankan oleh satu tim peneliti dari mahasiswa peternakan, terdiri dari sembilan anggota dengan tugas dan kompetensi yang berbeda-beda.

Ke sembilan mahasiswa itu adalah Irone Wahyunu (meneliti kualitas sperma entog), Isnawati anggraini (meneliti dosis inseminasi), Marisa Tenti (meneliti interval inseminasi), Bayu Adi Nugraha (deposisi/penempatan inseminasi), Yusuf Kurniawan (meneliti batas lama penyimpanan semen/air mani entog), Frengki Sembiring (meneliti jenis pengencer semen entog), Mila Angelica Sembiring (meneliti pertumbuhan tiktog), Mery Handayani (meneliti karkas/persentase daging dan kualitasnya), Fitri Evianita Simarmata (performa produktivitas indukan itik).

Penelitian mereka dibimbing dan difasilitasi oleh dosen-dosen peternakan yang kompeten, yaitu Ir Kususiyah, drH Tatiek Suteky, Ir Tris Akbarillah, Ir Hidayat, Ir Warnoto, Ir Desia Kaharudin, dan Heri Dwi Putranto, Ph.D.

“Kami berharap, nantinya kami bisa memproduksi itik-itik pedaging super ini secara besar-besaran. Sehingga dapat membantu menyuplai kebutuhan daging unggas, khususnya untuk masyarakat kota Bengkulu ini,” pungkas Marisa. (cr2)

Rekomendasi