oleh

Tengadah Senja Kala Ramadhan

Rosmawati penghuni panti jompo
Rosmawati penghuni panti jompo

Rasanya baru kemarin Rosmawati yang akrab di sapa Ros jatuh cinta pada seorang sersan bernama Hasan Kusai. Pertemuan pertama di sebuah penginapan Kota Curup dengan pria asal kota Padang yang membuatnya melepaskan cincin tunangan dengan lelaki pilihan orangtuanya.

“Aku sempat dijodohkan orangtua, tapi karena bertemu dia dan kakakku mendukung akhirnya kami berjodoh” ungkap ros berkaca

Jodoh itu datang Tahun 1961 silam dan membuat Ros memutuskan menghentikan pendidikan di PGA (Pendidikan Guru Agama).

Setelah menikah Ros memutuskan untuk ikut suami dinas. Berpindah-pindah tempat mengikuti sang suami bertugas adalah hal biasa baginya.
Sosok suami yang lembut dan penyabar hingga kini terasa masih selalu ada di sampingnya, meski ia telah kembali pada Yang Kuasa 21 tahun lalu.

“Dia itu bagiku adalah jodoh yang luar biasa, sampai saat ini aku tidak berhenti bersyukur pada Allah, karena bersamanya aku bisa hidup bahagia walaupun kami tidak punya anak. Pernah beberapa kali aku minta dia menikah lagi, tapi dia tidak mau,” bulir airmata mulai mengalir di wajah tuanya.

Saat ini kerinduan Ros pada almarhum suami makin terasa. Meski telah berpuluh tahun hidup sendiri tapi ia selalu terkenang indahnya Ramadhan bersama suami.

“Dulu kalau bulan puasa aku tidak pernah diam begini, aku pasti sibuk mulai menjahit baju lebaran untuk kami berdua. kalau bayar penjahit mahal, lagi pula jarang ada waktu. Kalau aku sedang sibuk jahit baju pasti dia bantu. dia itu paling suka bantu jahit kancingnya,” kali ini Ros menghapus tetes bening sudut mata dengan ujung kerudungnya.

Sekarang Ros tinggal di panti pelayanan penyantunan lansia, JL Adam malik KM 9, Kota Bengkulu. Ramadhan tahun ini adalah tahun keenam ia menempati kamar di wisma Anggrek ini bersama empat lansia lainnya.

Ia mengakui kehidupannya banyak berubah semenjak suaminya tiada, Ros merasa kekasihnya itu meninggal begitu cepat hingga impian mereka untuk pergi ke tanah suci bersama akhirnya pupus. padahal uang tabungan yang mereka kumpulkan sejak menikah untuk naik haji, terpaksa Ros nikmati sendiri dengan berangkat Haji pada tahun 1996.

Pulang ke Talo adalah pilihannya ketika suami telah tiada, ia memutuskan menjual pula kebun serta rumah hasil jerih payah mereka berdua yang terletak di Kota Lubuklinggau ,Sumatera Selatan.

Namun kepulangan ke tanah kelahiran rupanya awal dari kepedihan yang tak terlupakan baginya. Ros ditipu oleh seseorang yang masih terhitung keponakan, yang membuatnya kehilangan semua uang penjualan rumah dan kebun.
Akhirnya dengan bantuan seorang kerabat Ros minta diantar ke panti dimana ia tinggal saat ini. Ia sadar betul, tanpa anak ia tidak bisa menggantungkan hidupnya pada siapapun.

“Karena tidak punya anak, siapa yang akan mengurusku ketika tua. Karena teringat suami pernah berjasa pada negara, aku juga berharap pemerintah mau peduli padaku. Makanya aku tinggal disini”  ungkap Ros.

Di usianya yang hampir menginjak angka 78 tahun, Ros mengakui hanya berdoa dan ibadah-lah yang ia utamakan, terlebih ketika ramadhan tiba ia akan beribadah dan berdo’a lebih banyak untuknya dan almarhum suami tercinta.

“Aku tidak lagi berharap tentang dunia ini, bagiku bisa tinggal disini gratis dan ada yang mengurus sudah sangat bersyukur. Karena orangtua seperti kami ini susah. Ada teman kamar sebelah anaknya 7 tapi tidak ada yang mau mengurus. Do’a untuk aku sama suami yang utama, karena dia-lah aku jadi lebih tenang hidup dan mengenal agama. ya Allah..” Ros menengadahkan kedua telapak tuanya dengan lelehan airmata.

Nenek Ros adalah satu dari sekian banyak orangtua yang merasa terasing dari keluarga hingga memutuskan menghabiskan hari tua di panti jompo. Pilihan ini masih lebih baik dibandingkan beberapa yang memutuskan menjadi gelandangan atau pengemis.

Pada bulan penuh berkah ini , mulai saat ini mari kita ingat, sudahkah kita membahagiakan orangtua kita ? sudahkah kita peduli peduli pada sesama ?

Penulis: Evi Valendri

Rekomendasi