oleh

Teri, Kresek Hitam, Baju Lebaran dan Sekolah

Teri penjual kresek di Pasar Panorama
Teri penjual kresek di Pasar Panorama

Matahari di atas kepala membuat para pengguna jalan di Pasar Panorama lekas berlari berteduh di bawah tenda jualan atau segera menyelinap memasuki pasar yang teduh nan sumpek.

Pluitan nyaring para tukang parkir yang berebut pelanggan bersahutan dengan klakson mobil dan motor yang gerah mengular karena sempitnya badan jalan, semakin menambah deretan kepeningan siang ini.

Para pedagang di sini sibuk menawarkan dagangan mereka seolah tak peduli atau mungkin sudah terbiasa dengan kebisingan pasar yang pernah menjadi pasar percontohan nasional (PPN) ini. Namun toh pasar tetap saja semrawut, pedagangnya pun tak ragu ambil posisi di badan jalan dan menggelar lapak mereka.

“Ayuk (panggilan untuk kakak perempuan di bengkulu) asoi yuk ?” ungkap seorang bocah menawarkan kantong kresek hitam ukuran besar jualannya.

“Asoi” yang dimaksud adalah kantong kresek hitam tersebut. Ia pun seolah terbiasa dengan kondisi pasar yang hingar bingar.

Bocah ini sudah sedari pagi menjajakan kresek hitam, sasarannya adalah para pembeli sayuran yang ada di pasar ini. Setiap orang yang membawa sayuran atau yang sedang membeli sayur langsung ia tawarkan dagangannya.

“namaku teri, jualan asoy sudah lama” ungkapnya malu-malu sambil menggigit telunjuk.

Teri mengaku sudah dua tahun lebih berjualan kresek bersama teman temannya. Ayahnya adalah seorang tukang parkir, sedangkan ibunya berjualan jagung. Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengaku sengaja bekerja sendiri untuk membantu ibunya dan untuk mengumpulkan biaya masuk sekolah.

“Ingin bantu ibu, buat nanti untuk masuk sekolah di SD 24, nanti duitnya juga buat beli baju lebaran yuk” teri menunduk malu, sambil menarik narik kerah bajunya yang sederhana.

Dalam sehari teri mampu mengumpulkan uang hasil menjual kresek sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Terkadang uang tersebut ia pegang sendiri atau ia beri pada ibunya, tapi hasil jualan selama bulan puasa ingin ia simpan sendiri.

“duitnya mau disimpan sendiri kalau yang puasa, biar nanti beli baju lebarannya bisa sendiri dan bisa pilih sendiri” ucapnya kemudian berlari menuju panggilan temannya di depan kios telur.

Teri adalah bocah sederhana yang bekerja keras mewujudkan mimpinya melalui selembar kresek hitam, tanpa segan ia habiskan waktu bermain demi wujudkan impiannya.

Terkadang rasa malu dan gengsi membuat kita enggan bekerja, padahal nyatanya, seorang anak kecil pun paham bahwa buah manis dari perjuangan hanya datang pada orang yang mau bekerja.

Penulis: Evi Valendri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed