oleh

Tren Batu Akik Diprediksi Bertahan Hingga Puluhan Tahun

Pengrajin batu akik di Kepahiang
Pengrajin batu akik di Kepahiang

Kepahiang, kupasbengkulu.com – Tren batu akik yang di Provinsi Bengkulu, khususnya di Kabupaten Kepahiang diperkirakan sekitar tahun 2013 lalu. Persisnya saat pengrajin batu akik asal kota Bengkulu yang akrab dipanggil Opung Lubis memperkenalkan jenis usahanya yang ada di kawasan desa Tebat Monok kepada sejumlah warga Kepahiang.

Lantaran hasil karyanya pada tahun 90an pernah diminati oleh sejumlah pejabat tinggi, seperti mantan wakil Presiden RI, Tri Sutrisno, akhirnya menarik banyak peminat yang awalnya terdiri dari warga sekitar Kepahiang dan beberapa warga dari Kota Bengkulu dan Sumatera Selatan. Secara perlahan, usaha batu akik di Kepahiang bermunculan hingga menjamur seperti yang kita lihat pada saat ini.

Lantas, sampai kapan tren batu akik ini akan bertahan ? banyak pihak yang memperkirakan, terutama dari kalangan pecinta batu akik dari Kepahiang akan lama bertahan, bahkan hingga puluhan tahun.

Alasan mereka, karena tren batu akik akan bergantung pada jenis baru batu akik. Berbicara tentang jenis dengan nama baru ini, menurut mereka akan sulit untuk diprediksi.

“Bayangkan saja. Kita dari Kepahiang mengenal batu akik sudah sekitar 2 tahun yang lalu. Meskipun sesaat pernah surut, dengan cepat kembali bahkan lebih menggeliat. Itu artinya, tren batu akik akan cukup panjang dan sulit diprediksi sampai kapan akan berhenti,” terang pengrajin batu akik asal desa Tebat Monok, Arsan.

Keterangan sulit untuk memprediksi ini, diperkuat oleh penggemar batu akik asal Kelurahan Pasar Sejantung, Mukhtar. Menurutnya, temuan baru jenis batu akik sangat mempengaruhi tren batu akik. Seperti halnya yang tengah dinantikan kalangan pecinta batu akik yakni batu akik khas Kepahiang.

“Saya sependapat dengan apa yang disampaikan oleh warga pengrajin batu akik itu. Salah satu buktinya, adalah dengan batu khas bengkulu yang dinamakan red rafflesia, membuat penggemar ramai-ramai memburunya. Jika nantinya ada juga batu akik khas Kepahiang yang benar-benar menarik seperti yang isukan selama ini, maka penggemar juga akan beralih ke batu akik kepahiang,” kata Mukhtar.

Disinggung tentang awal mulanya Muhktar tertarik dengan batu akik, diakuinya belum begitu lama atau dapat digolongkan sebagai pemula. Meskipun demikian, dirinya sudah mengoleksi sejumlah batu akik diantaranya, lavander, dan red rafllesia.

“Sejak batu akik diperkenalkan di Kepahiang (Tahun 2013), memang belum sempat menarik perhatian masyarakat, seperti halnya dengan saya. Lantaran sudah menjamur, akhirnya membuat saya tertarik,” ujar Mukhtar.(slo)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

20 − eight =

News Feed