oleh

Usia Masjid Ini Sudah Hampir Dua Abad!

Masjid tua di Desa PAdang Betuah
Masjid tua di Desa PAdang Betuah

kupasbengkulu.com – Dari penampilan luarnya, sudah tertebak bahwa bangunan masjid yang hampir tak terpakai lagi di Desa Padang Betuah, Kabupaten Bengkulu Tengah ini sudah berumur ratusan tahun.

Masjid ini dahulu diberi nama Masjid Al Ikhlas Muhammadiyah, karena ajaran Kyai Ahmad Dahlan itu begitu kencang pengaruhnya di desa ini. Menurut penuturan Imam desa setempat, H Harezen, masjid ini dibangun sejak akhir abad ke 18, atau kurang lebih hampir 200 tahun yang lalu. Banyak informasi yang berkembang bahwa masjid ini adalah peninggalan Kerajaan Sungai Limau dan Harezen tidak menampik hal tersebut.

“Tapi yang perlu diluruskan adalah, masjid ini memang milik desa ini, warga desa ini yang buat sendiri, hanya saja wilayah desa ini termasuk ke Kerajaan Sungai Limau, sehingga masjid ini juga dikatakan peninggalan kerajaan itu,”cerita Harezen.

Awal dibuat, dinding masjid terbuat dari kayu sedangkan atapnya dibuat dari alang-alang kering. Berjalannya waktu, orang-orang desa mulai menambahkan sejumlah tiang penyangga dan memberi lantai, sedangkan atap diganti dengan daun rumbia.

Masjid tua tampak dari
Masjid tua tampak dari

Sekitar tahun 1985, warga desa setempat sepakat membuat masjid baru, sebab masjid tua ini tidak mampu menampung seluruh warga desa Padang Betuah, terutama untuk shalat Id atau hari raya. Akhirnya, berdirilah sebuah masjid lagi yang diberi nama Masjid Al Ikhlas, sedangkan si masjid “tua” diberi nama Masjid Padang Betuah.

“Itulah mengapa kami sepakat membuat masjid baru di desa ini,”lanjut Harezen.

Pada tahun 1998, ketika cagar budaya masih berada dibawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bengkulu Utara (waktu itu, Padang Betuah masih termasuk wilayah Bengkulu Utara), mengambil alih masjid tua ini dan melakukan renovasi. Hasilnya, seperti yang terlihat saat ini, meskipun bentuk masjid masih dipertahankan, namun bahan-bahan masjid sudah berganti menjadi lebih modern. Selepas itu, masjid ini masih digunakan oleh kaum perempuan untuk shalat dzuhur, terutama pada hari Jumat.

Sayangnya, bentuk masjid ini semakin memprihatinkan. Selain atap bocor dimana-mana, bedug yang sudah robek dan beberapa bagian pagar yang terbuat dari kayu dan bambu mulai roboh.

Padahal, masjid ini selain menjadi kekayaan cagar budaya desa hingga Kabupaten Setempat, tentu masjid ini juga masih bisa digunakan untuk penelitian pengaruh Islam di Bengkulu Tengah pada akhir abad 18 dan awal abad ke 19. Harezen menyatakan, saat ini masjid tua itu menjadi prioritas utama bagi desa selain tetap membangun masjid yang baru.

“Tentu saja, kita rugi kalau bangunan bernilai sejarah seperti itu rusak bahkan hilang,”pungkas Harezen. (vai)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed