oleh

Yuk Belajar Beternak Ayam Petelur

Asep Irawan, mahasiswa peternakan Unib
Asep Irawan, mahasiswa peternakan Unib

kupasbengkulu.com – Usaha peternakan adalah usaha yang cukup menjanjikan. Ada banyak macam usaha ternak, salah satunya beternak ayam petelur.

“Beternak ayam petelur, keuntungan bisa mencapai 40 persen, dipotong biaya pakan, obat-obatan dan sebagainya,” ujar Asep Irawan, mahasiswa peternakan Universitas Bengkulu yang bertanggung jawab mengurusi ayam petelur milik jurusan peternakan.

Lanjut Asep, jumlah pakan per ekor ayam petelur yang sudah produktif ini rata-rata 120 gram per hari, dengan biaya 3.600 kg pakan.

“Pakannya dicampur, 50 persen dedak padi, 25 persen jagung, dan 25 persen konsentrat. kalau dihitung-hitung harga pakannya jadi 3.600 per kg,” tambahnya.

Ayam petelur yang dibudidayakan ini adalah ayam petelur jenis Hisex brown atau ayam petelur warna cokelat dengan nama ilmiah Gallus gallus.

Masa produktif ayam petelur jenis ini rata-rata dimulai usia 4,5 hingga 5,5 bulan, serta mulai berhenti produksi pada usia dua tahun.

“Ada dua jenis ayam petelur, white legorn dan hisex brown. Kami memilih jenis hisex brown karena ayam ini ada banyak kelebihan, telurnya besar-besar, produktivitasnya tinggi mencapai 300 telur per ekor dalam setahun. Kalau ayam yang putih atau white legorn tadi ukuran telurnya kecil, produktivitas rata-rata cuma 260 butir per ekor dalam setahunnya,” tutur Asep sambil memanen telur-telur ayamnya.

Sebanyak 1.500 ekor ayam yang dipeliharanya, terdapat 1000 ekor yang sedang produktif, sisanya masih dalam usia pertumbuhan (grower).

Ayam-ayam dikelompokkan ke dalam tiga kandang, kandang I, kandang II, Dan kandang III. Masing-masing kandang terdapat kotak-kotak atau yang terbuat dari bambu. Tiap box hanya berisi satu ekor ayam. Lantai kandang dibuat miring ke depan, dengan kemiringan kurang lebih 20 derajat. Sistem perkandangan seperti ini dinamakan kandang batrai (batrayy cage).

Kenapa mesti memakai kandang batrai?
Beberapa alasan seperti yang dituturlan Asep, yaitu memberi kemudahan dalam mengontrol ayam satu per satu, memudahkan membersihkan kotoran, memudahkan pemerataan pakan, serta memudahkan saat memanen telur karena telur yang baru dikeluarkan dari kloaka langsung menggelinding ke tempat pengambilan.

“Keuntungan dari usaha ayam petelur ini cukup menjanjikan. Dari 1.000 ayam usia produktif ini bisa menghasilkan 750 – 900 butir per hari. Keuntungan per bulannya rata-rata Rp8.000.000 per bulan, sudah dipotong biaya pakan, obat, dan lain-lain,” pungkasnya.

Namun, setiap usaha pasti ada hambatan, termasuk usaha ayam petelur ini. Hambatan yang umum terjadi adalah terserangnya ayam-ayam oleh penyakit, seperti tetelo (Newcastle Disease), IB (Infection Bronchitic), IBD ( Infection Bursal Disease), dan sebagainya.

Penyakit tetelo, misalnya, ditandai perubahan bulu menjadi kusam, paruh berlendir, agresivitas menurun, nafsu makan berkurang, kepala berputar-putar tidak menentu, serta feses encer kehijauan.

“Untuk pencegahan penyakit ini harus menjaga kebersihan kandang, harus ada sanitasi yang baik. Kandangnya harus disemprot pakai disinfektan dua kali seminggu, untuk membunuh kuman-kuman penyakit itu supaya tidak menyerang ayam,” tandasnya. (cr2)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed