oleh

Yuk!, Melihat Bunga Terbesar Didunia, Mumpung Lagi Mekar

holidi
Bunga Rafflesia mekar di register 5 Bukit Daun Kabupaten Kepahiang

kupasbengkulu.com – Hawa sejuk langsung menyergap saat pertama kali memasuki kawasan Hutan Lindung Bukit Daun register 5, Kabupaten Kepahiang. Nyanyian serangga mengiringi langkah demi langkah melewati jalur setapak yang basah. Dedaunan menguning dari pepohonan yang melindungi kawasan hutan sesekali jatuh menimpah daun, yang telah terlebih dahulu menutupi tanah lalu kemudian membusuk.

Holidi (47), ia adalah pria paruh baya yang menghabiskan 16 tahun masa hidupya dengan mencari, merawat, menjaga, dan mencari ilmu tentang bunga berukuran raksasa yang merupakan bunga terbesar di dunia. yaitu, Bunga Bangkai spesies Amorphpophallus Titanium dan Padma raksasa (Rafflesia Arnoldii) yang tumbuh di kawasan ini.

Kali ini ia memandu kupasbengkulu.com, untuk menuju lokasi Bunga Rafflesia mekar yang berdiameter sekitar 40 cm dengan tinggi sekitar 15 cm yang memiliki lima kelopak lima. Saat melewati anak sungai, terlihat tiga potong papan tua yang sudah tak terpakai tersandar miring.

“Ini adalah jembatan yang saya bangun sendiri dulu pada waktu anak sungai ini dalam airnya. Kondisi jembatannya, ya seadanya saja tanpa standar keamanan, karena inilah kemampuan saya. Waktu itu ada turis dari India yang pernah jatuh di sini dan patah tangan karena tergelincir,” ujarnya sambil berdiri di bebatuan kecil anak sungai tersebut, Rabu (10/9/2014).

mekarrr
Jurnalis kupasbengkulu.com mengabadikan moment Bunga Rafflesia yang lagi mekar

Menurut Holidi, Rafflesia mekar Bukit Daun telah mengundang banyak turis untuk datang. Namun, hingga kini dirinya tetap saja merawat wilayah ini bersama saudara tanpa bantuan pihak pemerintah.

“Saya sendiri yang mengkonservasi wilayah sini kadang dibantu saudara, ini adalah register lima. Selama 16 tahun menghabiskan waktu untuk memahami tentang bunga raksasa seperti bunga bangkai dan rafflesia saya jadi kenal betul titik di mana saja mereka bisa tumbuh,” jelas Holidi terus bercerita sambil menapaki jalan.

Menurutnya, bunga Rafflesia hanya bisa tumbuh pada tempat di mana ada satu akar yang biasa ia sebut ‘Pohon Rafflesia’. Akar menggantung tersebut bertumpuh pada tanah dan menjalar, lalu bongkol-bongkol Rafflesia akan tumbuh di sekitarnya dan mekar.

jalan
Jalan menuju Bunga Rafflesia

kupasbengkulu.com melihat langsung akar yang ia maksud, setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari tepi jalan besar. Benar saja, di sekitar akar ini terlihat Rafflesia yang baru saja mekar tiga hari yang lalu, didekatnya nampak pula yang sudah membusuk dan ada empat bongkol lagi yang masih kecil.

Holidi menuturkan, kecemasannya jika suatu hari wilayah dimana bunga kebanggaan Provinsi Bengkulu ini tumbuh akan hilang. Sekitar 500 meter dari lokasi terjadi perambahan hutan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Ia mengaku, tak dapat berbuat banyak sebab hal tersebut akan memicu keributan.

“Takutnya nanti perambahan itu menyentuh lokasi ini, dan itu bisa mengancam habitat asli Bunga Rafflesia. Saya tidak berani menegur karena takut nanti kami malah ribut, ini kan persoalan materi dan sensitif sekali. Saya harap pemerintahlah sebagai yang paling berwenang untuk menyelamatkan habitat bunga ini dan melarang perambahan serta meninjau ke sini,” harap Holidi, sembari menepuk nyamuk yang mencoba menggigit.

Tak ingin kehilangan moment, kami pun mengabadikan bunga itu yang sedang mekar. Sayang, Posisi untuk mendokumentasikan bunga itu cukup sulit. Sebab, posisi bunga berada di tepi tebing yang tidak begitu banyak tempat bergelayut.

Bagi saya, perjalanan menuju lokasi Bunga Rafflesia sangat mengesankan. Selain unik, perjalanan menuju kesana bagaikan petualangan menyisiri kekayaan milik daerah Kabupaten Kepahiang. Bagi anda yang mengaku pecinta alam, rasanya belum lengkap pengalaman anda bila belum sampai ke lokasi Bunga Rafflesia di Hutan Lindung, Bukit Daun register 5 Kabupaten Kepahiang.

Hawa hutan yang sejuk dan nyaman serta gemericik air dari anak sungai akan menjadi saksi bisu, akankah kecemasan Holidi menjadi nyata atau tidak. Jika, ia maka semua saksi ini akan turut melebur dalam sebuah cerita tentang hilangnya hijau alam sumatera.

Penulis : Evi Valendri, Kabupaten Kepahiang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

fourteen + 19 =

News Feed