oleh

Catatan 2008: Manusia Harimau Dari Gunung Dempo

“Salah satu keunikkan ciptaan illahi lainnya, terdapat pohon Kayu Panjang Umur, yang tertanam secara rapih, tertata dengan jarak antara pohon satu dengan pohon lainnya berkelang dua  meter. Bila tumbuh kurang dari itu,  pohon tersebut akan mati dengan sendirinya”. 

Opini:  Benny Hakim Benardie  

Telah banyak legenda yang kita dengar tentang manusia jadi-jadian (Jelmaan) Harimau yang sakti mandraguna. Memiliki kekuatan dahsyat, bahkan dapat menghindar dari terjangan senjata tajam. Berbagai cerita acapkali dipaparkan berbagai media massa untuk  penampakan “manusia jadi-jadian” tersebut. Bagaimanakah cerita legenda itu sebenarnya?

Dalam catatan pinggir penulis Hakim Benardie Sabrie, terkuak misteri dan sempat mewawancarai beberapa orang yang dinilai cukup mengetahui,  memaparkan seluk-beluk kejadian manusia Harimau tersebut.

Kisah manusia Harimau berawal dari sebuah tarian Ulu, yaitu silat Harimau. Silat ini bernuansa magis. Tidak semua atau sembarangan orang yang nantinya akan terpilih, kendati yang mengikuti latihan silat tersebut dalam jumlah banyak, untuk terpilih langsung mendapatkan wangsit dari Sang Suhu (Guru besar yang memiliki langsung Ilmu Harimau) yang berada di Gunung Dempo.

Lantas yang menjadi pertanyaan kita adalah, siapa Sang Suhu itu sebenarnya? Manusia (Puyang) ataukah mahluk haluskah (Dedemit)? Misteri inilah yang hingga kini belum terungkap.

Memang hal-hal yang berbau mistik sukar dinalar secara ilmiah, namun fakta menunjukkan dan membuktikan bahwa kekuatan spritual itu memang ada. Mereka yang terpilih (memiliki ilmu Harimau) itu dapat dibuktikan secara kasat mata.

Sebelum kita masuk kedalam cerita silat Ulu atau silat Harimau, tak salahnya kalau kita mengamati terlebih dahulu bagaimana kondisi di puncak Gunung Dempo sesungguhnya.

Gunung Dempo

Gunung Dempo yang berada di Sumatera Selatan, memiliki ketinggian lebih kurang 3.159 meter dari permukaan laut. Situasi berkabut, dengan suhu puncak gunung mencapai dibawah 1–3 derajat Celcius. Dipuncak gunung terdapat beberapa kawah, dan diantaranya diperoleh sumber  air yang dapat dikonsumsi langsung.

Salah satu keunikkan ciptaan illahi lainnya, terdapat pohon Kayu Panjang Umur, yang tertanam secara rapih, tertata dengan jarak antara pohon satu dengan pohon lainnya berkelang dua  meter. Bila tumbuh kurang dari itu,  pohon tersebut akan mati dengan sendirinya.

Bila ditilik sepintas lalu, kita akan mengatakan bahwa tanaman ini ada orang yang menanam, merawat dan memeliharanya, karena tanaman tertata dengan baik. Padahal tidak demikian.  Konon, Kayu Panjang Umur inilah yang nantinya selalu dibawa oleh sangmurid, saat berhasil menuntut ilmu (Wisudawan) Harimau, disamping beberapa ranting kayu lainnya, seperti dari  Pohon Kayu Api.

Dipuncak Gunung Dempo, air tidak akam mendidih, bila direbus menggunakan kompor minyak atau kompor gas, kecuali bila menggunakan Pohon Kayu Api. Kayu warna hijau, basah, namun bila kayu tersebut di gesek antar kayu, maka akan menimbulkan api. Dengan menggunakan Pohon Kayu Api inilah, memasak akan sempurna.

Kayu Api (Tanaman basah) ini di dalam Al-Quran disebut sebagai mana Firman Allah SWT dalam surat Yaa siin 80 : Nil Ladzii Ja’ala Lakum Minasy Syajaril Akhdari Naaran Faidzaa Antum Minhu Tuuqiduun. Artinya : Yaitu Allah swt yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau. Lalu dari kayu itu kamu dapat menyalakan api. Maha benar Allah dengan segala firmannya, bagi orang orang yang berakal.  Dipuncak gunung Dempo Kayu Api itu ada. Meskipun basah, namun dapat menimbulkan api, dan dapat digunakan untuk memasak pada suhu dibawah nol derajat.

Ritual silat

Dalam ritual silat, biasanya  diadakan diluar desa atau ditempat yang sudah ditentukan oleh sang pawang. Jumlah peserta yang akan mengikuti ritual silat, diperkirakan (biasanya) sekitar 15 hingga  25 peserta. Ritual ditata sedemikian rupa, dengan berbagai sesajenan, termasuk membakar kemenyan atau dupa.

Dalam arena silat, telah disediakan sebuah pintu yang nantinya akan digunakan bagi mereka yang mendapatkan titisan wangsit (lulus ritual), dipanggil ke Gunung Dempo. Mereka yang berangkat dan terpilih itu biasanya tidak lebih dari dua peserta ritual yang ada.

Para calon pendekar itu berangkat dengan menunggangi  seekor Harimau. Dengan sekejap mata  pula mereka telah tiba di padepokan sang Guru Besar (dalam bahasa China sering disebut Suhu) yang berdiam (bersemedi) di puncak Gunung Dempo. Ritual seperti ini umumnya berlaku di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Mukomuko, Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur dan Krui, untuk lulus menjadi seorang sakti mandraguna.

Mereka yang lulus dan diakui sebagai murid dari perguruan ini (usai pulang dari Gunung Dempo), biasanya akan membawa oleh-oleh  Kayu Panjang Umur, dan berbagai ranting kayu lainnya. Oleh-oleh inilah  sebagai bukti,  bahwa murid yang bersangkutan benar-benar telah sampai menemui Sang Suhu di puncak Gunung Dempo.

Berbeda halnya dengan ritual yang dilakukan di daerah Pagar Alam, Sumatera Selatan. Pada daerah yang berada dikaki Gunung Dempo ini, untuk menjadi murid dari perguruan silat Harimau atau silat Ulu, tidak begitu sulit. Seseorang cukup mengikuti ritual yang diiringi berbagai tetabuhan gendang saja. Suara gendang akan semakin keras terdengar, bila ada diantara peserta ritual silat yang diketahui berangkat (Dipanggil) ke Gunung Dempo oleh sang Guru Besar.

Suara tetabuhan ini, konon tidak boleh berhenti dan harus semakin menggaung, karena dikhawatirkan sang murid yang berangkat tidak tahu arah pulang kembali kearena silat. Sementara para murid lainnya yang belum terpilih, semakin giat berlatih, seakan kesurupan.

Menurut kutipan Hakim Benardie Sabrie,  ilmu silat Harimau sangat ampuh, bila dibandingkan dengan ilmu silat lainnya. Silat Harimau bermaindibawah, bak Harimau yang sedang mengendap-endap mengincar mangsa. Selain itu, uniknya silat Ulu ini dapat menggunakan setiap ruas tubuh  sebagai senjata yang dapat mematikan.

Kesaktian

Kesaktian apa saja yang dimiliki mereka? Peserta pelatihan silat terbagi dalam dua. kelompok pertama, mereka yang hanya mendapatkan pelajaran ilmu silat Harimau. Kelompok kedua, mereka yang mendapatkan ilmu silat Harimau, sekaligus dapat menyembuhkan berbagai penyakit (Dukun sakti mandraguna).

Mereka  itulah orang yang diakui sebagai murid langsung dari Sang Suhu di Gunung Dempo, dan memiliki ilmu magis yang tinggi, selain dapat berkomunikasi jarak jauh (Telepati) sesama pendekar dimanapun mereka berada.

Manusia harimau dapat berjalan dengan cepat bagaikan kilat. Pada zaman revolusi 1945, banyak pemuda-pemuda yang menekuni ilmu Harimau ini. Konon musuh tidak dapat mengejar, dan sulit untuk menemui mereka. Namun saat ini,  komunitas para pendekar silat harimau ini jumlah kian berkurang, sesuai dengan kemajuan zaman. Generasi muda lebih senang duduk dibangku sekolah, dari pada duduk dipuncak gunung.

Bila ditelaah, sebenarnya berkurangnya para penuntut ilmu ini, akibat berkembang pesatnya  agama Islam di nusantara, sehingga telah membuat kepercayaan yang semula sycretisme (Hindhu-Bhudha), beralih kepada keyakinan keislaman.

Dalam addinul Islam sendiri diajarkan sebagai mana Firman Allah SWT, dalam An-Nahl 100 disebutkan : In Namaa Sulthaanuhu ‘Alalladzii Nayatawal Launa Huu Walladziina hum Bihii Musyrikuun. Artinya : Kekuasaan syetan itu terbatas hanya pada orang-orang yang mengambilnya menjadi pemimpin, dan orang-orang yang mempersekutukan Tuhan dengan dia. Jadi jelas bahwa orang-orang beriman yang benar-benar berserah diri kepada Allah swt, maka syetan itu tidak akan mampu menggodanya, dan syetan itu pasti akan kalah.

Dalam surat Yaa siin 60 Allah SWT berfirman : Alam a’had ilaikum yaa Banii Aadama ‘laa ta’budusy syaithaan inaahuu lakum ‘aduw wum mubiin. Artinya : Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai anak-anak Adam, supaya kamu jangan menyembah syetan, sebab syetan itu sudah nyata musuhmu.

Begitulah al-kisah Sang Manusia Harimau, yang berawal dari ilmu silat Harimau atau silat Ulu, dan berkembang menjadi dukun sakti mandraguna. Tentunya, akhir segalanya kembali kepada Allah SWT. Kullu Nafsiin Dzaa Iqatul Maut Tsumma Ikainaa Turjauun. Setiap mahluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati, kemudian semuanya akan kembali kepada Allah SWT.

Dalam literatur tersebut pula, di India ada sebuah desa yang dihuni suku Symphai. Mereka tinggal dikaki Gunung Himalaya, gunung yang tertinggi di dunia. Kepercayaan mereka tentang manusia harimau, persis seperti apa yang dijelaskan diatas. Mereka umumnya adalah pemeluk agama Hindhu-Bhuddha

Belum ada literatur yang menyebutkan bahwa ilmu manusia harimau yang berada di Indonesia berasal dari negeri India (Symphai). Kendati kepercayaan dan ritualnya sama. Namun hal itu mungkin saja terjadi, mengingat negeri India merupakan pusat pengembangan agama Hindhu dan Bhudha di dunia.

Siluman Harimau

Siluman Manusia Harimau itu sebenarnya ada, tentunya  tidak kasat mata, sebagaimana yang diterangkan didalam Al-Quran dalam surat Jin 72 : 6. Wa an-nahuu kaana rijaalun minal insi ya’uudzuuna birijaalim minal jin-ni fazaaduuhum rahaqaa. Artinya : Dan bahwasanya, ada beberapa orang laki-laki dari golongan manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari golongan Jin, dengan itu mereka hanya tambah mempersombongkan golongan Jin saja.

Dalam surat Jin 72 : 11 juga disebutkan, Wa an-naa min-nash shaalihuuna wa min-naa duuna dzaalik, kun-naa tharaa iqa qidaadaa. Artinya : Dan bahwasanya diantara kami ada orang-orang yang salih, dan ada pula yang tidak demikian. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.

Allah SWT mencontohkan bagi mereka yang tidak mau mendengar berbagai peringatan Tuhannya akan kebenaran (Firman). Dalam surat Al-Ankabut (29 : 40) diingatkan, Fakul-lan akhadzam bidzam bih, la minhum man arsalnaa ‘alaihi haashibaa; wa minhum man akhadzat-hush shaihah; wa minhum man khasafnaa bihil ardh; wa minhum man aghraqnaa; wa maa kaanal laahu liyazhlimahum wa laakin kaanuu anfusahum yazhlimun.

Artinya : Masing-masing bangsa itu Kami siksa dengan empat macam siksaan, karena dosa-dosanya : Ada diantaranya yang kami hujani dengan batu krikil seperti kaum Aad, ada yang Kami hancurkan dengan kekuatan halilantar bergemuruh dahsyat seperti kaum Tsamud, ada pula yang Kami benamkan kedalam tanah seperti Qarum, dan ada pula yang Kami tenggelamkan seperti kaim Nuh. Dengan siksaan-siksaan itu, Allah tidak akan menganiaya mereka, namun mereka jualah yang menganiaya diri sendiri karena dosa-dosanya.  (Dipubilkasi diberbagai media cetak dan online). q

Rekomendasi