oleh

Inspirasi Bilal dalam Menjaga Tauhid

M. Prihatno
M. Prihatno

 

Oleh: M.A. Prihatno*

Di bawah terik matahari yang membakar kulit, di sebuah padang pasir yang kering membara dan angin berhembus kencang menghisap setiap cairan yang disentuhnya, terlihat sesosok tubuh hitam-legam terbaring di hamparan pasir yang panas menusuk kulit. Seonggok batu besar menghimpit dadanya yang telanjang, seakan-akan hendak menenggelamkan tubuhnya ke dalam lautan pasir. Di bibirnya yang dipenuhi cairan ludah kering memutih, bergetar, terdengar bisikan lirih suara Tauhid; Ahad…Ahad…Ahad.

Sementara itu, di sekitar tubuh tak berdaya tersebut, sekelompok manusia berwajah sinis tertawa dengan riangnya diselingi oleh cacian yang penuh dengan kebencian dan dendam. Sekali-sekali mereka membolak-balik tubuh hitam-legam tersebut, seumpama orang yang sedang melakukan pesta kambing guling.

Tubuh pemuda buruk-rupa tersebut semakin kering layu, namun seakan tak terasa olehnya, bibir hitam tebalnya terus melantunkan nyanyian Cinta-Tauhid. Ahad…Ahad…Ahad. Dan, sekelompok manusia bengis mendengar ”nyanyian” itu, semakin memperpedih perlakuannya terhadap tubuh hitam-legam tersebut. Bukan hanya cacian yang dilontarkan tapi juga pukulan dan tendangan bergantian mereka lakukan. Tak terlihat pancaran iba dari mata mereka bahkan yang terpancar hanya sinar kebencian dan kekejaman.

Nyanyian Tauhid Si Hitam bukannya berhenti, malah semakin keras dan merdu. Nyanyian ikhlas dari dalam nurani; nyanyian keimanan seorang hamba Allah yang telah merasakan manisnya madu iman. Seolah-olah mengatakan: teruslah berbuat apa saja sekehendak hati kalian, aku tak peduli, sakit yang kurasakan pada tubuh hitam ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan nikmatnya madu iman. Tubuhku memang merasakan pedih yang tak terperi tapi jiwaku ini merasakan nikmat yang tak terucapkan. Semakin sakit siksaan yang kalian tempelkan di tubuh ini, semakin jiwa ini meraih nikmat yang paling hakiki. Kalian tak bisa menyiksa jiwa ini, kalian hanya dapat menyiksa jasad buruk rupa yang hitam-legam ini.

Inilah drama romantika Tauhid, pelakunya adalah Si Hitam Bilal bin Rabbah dan kaum penguasa Kafir Quraisy. Drama ini sangat populer, mengalahkan film ”Ayat-Ayat Cinta”. Pelakunya tidak pernah mati sampai akhir zaman, selalu hidup di jiwa kaum beriman.

Drama ini menjadi contoh abadi dalam mengarungi lautan Tauhid yang luas dan dalam. Sehingga akhirnya, setiap jiwa yang mencoba menjadi seperti Bilal akan mendapatkan kebahagiaan hakiki seperti Bilal sendiri yang pada akhir kisahnya menjadi manusia yang dirindukan Sorga.

Di zaman modern sekarang ini, kisah Bilal bin Rabbah Si Pelantun Panggilan Sholat, hendaknya menjadi suatu kisah yang ”hidup”, tidak hanya sebagai cerita yang menjadi ”perpustakaan bisu” di buku-buku sejarah perjuangan Islam. Setiap saat umat Muslim–hendaknya–memainkan peran kehidupan laksana Bilal.

Bilal, sebagaimana dapat kita baca dalam buku-buku sejarah adalah seorang budak yang senantiasa menjaga konsistensi imannya. Apapun kejadian yang ada di sekitarnya tidak menggoyahkan imannya kepada Yang Maha Lembut.

Dia bukan seorang penguasa, bukan orang yang memiliki banyak harta, juga bukan orang yang berpendidikan tinggi bahkan ia juga bukan manusia yang berparas rupawan. Ia hanyalah seorang budak yang buruk rupa hitam-legam laksana jelaga. Tapi, Allah swt memberi posisi yang sangat luar biasa di sisiNya, tapak kakinya pun mendahului Nabi Muhammad saw pada saat masuk ke sorga, tempat segala kenikmatan.

Ternyata Tuhan memberikan penghargaan kepada Bilal karena imannya yang tak tergoyahkan oleh apa pun. Fisik, status sosial, dan kekayaan diabaikan olehNya. Hal tersebut tidak dikategorikan Allah swt sebagai indikator keimanan Bilal.

Sosok seperti Bilal inilah yang semestinya menjadi tujuan misi dakwah umat Islam. Gerakan dakwah hendaknya berusaha untuk mencetak kader-kader yang teguh imannya. Kader yang selalu meno-morsatukan iman di atas yang lainnya.

Keteguhan iman seperti yang dimiliki Bilal, saat ini menjadi barang langka. Ini bukan berarti bahwa umat yang beridentitas Islam sedikit. Jumlahnya sangat banyak bahkan untuk di negeri ini umat Islam menjadi umat yang mayoritas dan terbanyak dibandingkan jumlah umat Islam di negara-negara lain di dunia.

Sosok Bilal harus menjadi inspirasi bagi setiap muslim. Kalau dulu Bilal dijemur diterik matahari, umat Islam sekarang dijemur oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi sehingga keringlah spiritualnya.

Dulu Bilal dihimpit oleh batu besar di dadanya, sekarang kita dihimpit oleh kesulitan ekonomis dan ketertinggalan ilmu pengetahuan. Bilal diteror dengan caci-maki dan hinaan, umat Islam sekarang diteror dengan gempuran senjata canggih dan penguasaan aset ekonomi strategis.

Bilal menjadi sosok yang dirindukan sorga bukan karena ketampanannya, sementara sekarang umat berlomba-lomba untuk mempercantik diri sehingga diadakanlah kontes-kontes kecantikan mulai dari tingkat desa sampai tingkat dunia, seakan-seakan dengan kontes inilah manusia sempurna akan tercipta.

Tapak kaki Bilal bisa mendahului tapak kaki rasul SAW bukan karena kekayaannya, sedangkan sekarang orang dengan cara apapun berlomba-omba menumpuk kekayaannya. sehingga korupsi merajalela hampir pada setiap sektor kehidupan masyarakat.

Bilal mempertaruhkan nyawanya untuk keteguhan imannya, sementara sekarang iman dipertaruhkan untuk kepentingan-kepentingan sesaat.

Semua itu bukan berarti kita tidak boleh berwajah rupawan, memiliki kekayaan melimpah, punya status sosial yang strategis dan lain sebagainya, akan tetapi bagaimana kesemua hal tersebut dapat dibungkus oleh iman bukan sebaliknya kesemuanya yang membungkus iman yang berakibat imannya tertutupi oleh semua itu.

Kalau Bilal bin rabbah dirindukan sorga karena keteguhannya mempertahankan iman dari segala siksaan dan cobaan yang ditimpakan pada dirinya, maka apakah mungkin kita juga akan seperti beliau, apabila kita berislam hanya sekedar belaka, dan apabila iman kita mudah terpedaya oleh bujuk rayu materi dan kemolekan dunia.

Suatu pelajaran penting yang dapat kita ambil dari kisah Bilal bin Rabbah adalah: Bilal yang bukan ”siapa-siapa” dan tidak memiliki ”apa-apa” ternyata berada diposisi yang sangat mulia di sisi Allah SWT.

Karena itu, bisakah kita seperti Bilal di tengah kepungan arus zaman yang penuh dengan godaan dan kemaksiyatan? Mungkinkah iman kita mampu bertahan dari itu semua? Hanya pribadi kita masing-masing yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.

”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya ”(Q.S.2/Al Baqarah:25).

*M. Prihatno adalah penulis pegiat Islam dan sosial, tinggal di Bengkulu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed