oleh

Kantor Berita, dan Jurnalisme Digital

illustrasi: istimewa
illustrasi: istimewa

Oleh: Jafar M. Sidik

Kamis, 19 November 2013, berceritalah CEO Associated Press (AP) Gary Pruitt kepada para bos kantor berita dalam Kongres Dunia Kantor Berita di Riyadh, Arab Saudi.

“Kita semua terus diingatkan bahwa industri berita tengah berubah, bahwa selera masyarakat kepada berita berubah, sementara teknologi baru terus berkembang dan mengusik model-model bisnis kita,” katanya.

Zaman telah berubah dan AP tak mau terbuai oleh paradigma lama hanya karena arus liar perubahan menggerogoti kemapanan atau dianggap merongrong etika.

“Tantangan adalah kata akurat untuk melukiskan situasi yang kita hadapi,” kata Pruitt.

AP lalu meneliti semua perubahan itu untuk memetakan letak masalah dan di mana peluang bisa digali. Hasilnya, kantor berita kelas dunia dari AS ini mendapati dirinya harus fokus kepada geografi pasar dan platform.

Di antara geografi yang disorot adalah Asia. Di sini, miliaran orang setiap detik berbagi berita teks, foto, dan terutama video berkat penetrasi luas gadget murah tetapi canggih seperti smartphone yang telah mengubah model komunikasi manusia.

AP menyimpulkan video adalah platform untuk merengkuh audiens lebih luas yang juga akan menjadi jalan bagi terus bertumbuhnya bisnis.

AP bulat memokuskan sumber dayanya kepada video dan geografi-geografi atraktif; Asia, Timur Tengah dan Amerika Latin.

Kisah metamorfosis AP adalah juga kisah bertahan hidupnya kantor berita-kantor berita kelas dunia lainnya seperti Reuters, Bloomberg, AFP, DPA Jerman, bahkan Xinhua.

Mereka juga mengoreksi metode bagaimana berberita yang relevan dengan zaman sehingga rumus-rumus baru jurnalisme pun muncul. Salah satunya tercetus 16 tahun silam dari mulut David Schlesinger, pemimpin redaksi Thomson Reuters yang kemudian digantikan wartawan investigatif kawakan Wall Street Journal, Stephen J. Adler.

Schlesinger menawarkan gagasan provokatif soal jurnalisme baru bahwa, “(1) tahu berita belumlah cukup, (2) mengabarkan berita barulah permulaan, (3) pergunjingan soal berita sama pentingnya dengan berita itu sendiri, (4) semakin paternalistik dan otoritatif semakin sedikit pembaca yang percaya, (5) semakin menyerahkan kontrol kepada pembaca, semakin hormat pembaca kepada Anda, (6) semakin siap merangkul teknologi baru sebagai platform, semakin tinggi daya saing Anda, (7) semakin berwajah dan berkarakter, semakin bisa menentukan agenda, (8) semakin menatap lebih dari sekadar berita namun koneksinya dengan audiens, semakin besar nilai Anda, (9) dan pada saat Anda mempunyai nilai ketika yang lain tak memilikinya, Andalah yang mendapat ganjaran.”

Media sosial

Organisasi berita seperti AP dan Reuters tahu pasti bisnis berita dan berberita akan terus berubah mengikuti bagaimana dan melalui apa publik menyantap informasi.

Karena selera berita audiens selalu beriringan dengan perkembangan teknologi informasi melalui mana informasi sampai kepada komunikan, mereka tahu produk berita tidak bisa lagi disebarkan dengan hanya satu platform, melainkan multiplatform, pun tidak hanya dipresentsikan dengan satu media, melainkan multimedia.

Mereka juga sadar publik semakin menuntut sekaligus abai pada produk media. Publik kini adalah pengguna sekaligus sumber berita, mitra sekaligus kritikus produk jurnalistik.

Organisasi-organisasi berita seperti AP, Bloomberg dan Reuters bahkan siap menghadapi fakta tergugatnya profesi jurnalis ketika saat bersamaan profesi-profesi baru penyokong bisnis berita seperti spesialis media sosial dan SEO (Search Engine Optimization), berkecambah.

Sebaliknya, wartawan kini dituntut untuk bisa mengerjakan banyak hal –menulis teks, mengambil foto atau video, bahkan menyuntingnya– persis filosofi multifungsi dari gadget yang wartawan bawa yang diinstali ribuan aplikasi yang memudahkan kerja mereka.

Gugatan terbesar terhadap jurnalisme sendiri datang dari media sosial.

Dari empat perantara digital untuk menyalurkan berita –agregator-agregator berita seperti Yahoo dan MSN, mesin pencari seperti Google, jejaring sosial seperti Facebook dan toko digital seperti Apple– adalah media sosial yang paling mengancam jurnalisme.

Bagaimana tidak, kemewahan menulis dan menyebarkan teks, foto dan video (yang kini rata-rata berkualitas tinggi akibat gadget yang semakin canggih) tak lagi menjadi milik eksklusif wartawan.

Hebatnya, publik juga bisa menyebarkan dengan massif dan cepat “teks, foto, grafis, dan video” mereka karena pada ujung jari mereka ada Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, blog, dan banyak lagi.

Mereka memiliki ratusan, bahkan jutaan teman online yang melebihi tiras surat kabar.

Sebagai gambaran para pesohor baik dunia dan Indonesia memiliki jutaan follower pada akun Twitter-nya. Contohnya, musisi Katy Perry memiliki 81,9 juta follower, sedangkan di Indonesia ada musisi Agnes Monica yang memiliki 14,8 juta follower dan Raditya Dika dengan 12,9 juta follower.

Bersama jutaan teman online seperti itu tak sulit bagi publik untuk berbagi informasi untuk kemudian menggerakkan kerumunan. Eksplorasi dukungan pemilih selama Pemilu dan gerakan sosial online adalah beberapa contoh dampak yang bisa diciptakan publik ketika mereka mempengaruhi jutaan teman online-nya di media sosial.

Sungguh agresif, namun organisasi-organisasi berita seperti AP malah menganggap invasi media sosial adalah alat untuk menjaga reputasi dan kelangsungan bisnisnya.

“Bagi kami media sosial membantu memperluas jangkauan, menarik perhatian orang kepada liputan kami, dan menaikkan profil brand kami,” kata Pruitt.

AP pun reguler memonitor media sosial. Tim media sosial AP hanya perlu memerifikasi keaslian sumber-sumber viral (menyebar luas dengan sangat cepat seperti virus) di media sosial untuk menjadi beritanya sendiri dalam istilah yang umum disebut User-Generated Content (UGC) atau konten yang berasal dan dibiakkan dari masukan publik.

Reuters setali tiga uang. Kantor berita Inggris ini memiliki bagian bernama Reuters Social and Viral Video.

Pada laman mereka tertulis, “Kami memonitor jejaring sosial selama 24 jam setiap hari untuk dengan cepat mengidentifikasi konten bernilai tinggi, memperkuat peliputan hard-news kami dan menghibur audiens dengan berita-berita yang berpotensi menyebar viral.”

“Sociability”

Fenomena baru ini, mengimbuhkan hal baru pada jurnalisme yang kini dikenali tidak hanya berpilar pada kecepatan dan kualitas, namun juga sociability atau potensi berita tersebar luas dan memengaruhi publik, kata Angela Phillips dalam “Sociability, Speed and Quality in the Changing News Environment” pada jurnal Journalism Practice edisi 10 November 2012.

“Bisnis berita saat ini lebih dari sekadar menyajikan fakta-fakta lempang, karena juga berkaiatan dengan informasi yang berwawasan dan menggerakkan,” kata Schlesinger.

Etos berberita kini tidak ditentukan oleh jumlah berita tersiar, melainkan kemampuan menangkap perhatian pembaca dan membuat pembaca loyal.

“Kini tidak cukup hanya dengan ‘yang pertama mengabarkan’, tidak pula cukup dengan komprehensif dan terpercaya. Sekarang ini juga kian penting memastikan berita yang dibuat mampu menyebar viral,” ulas Angela Phillips.

Organisasi-organisasi berita besar kian mengakrabi media sosial. AP misalnya, memiliki paling sedikit 20 akun Twitter, enam akun Facebook, satu akun Google+ dan satu saluran YouTube.

Akun Twitter utama AP memiliki 6,75 juta follower, sedangkan Reuters yang bermotto “Timely, Trusted, Engaging, Global” memiliki akun Twitter utama yang diikuti 11,2 juta follower.

Lanskap bisnis berita terus berubah, dan selaras dengan kian dalamnya penetrasi internet dan masifnya persebaran gadget pintar dan murah, demografi dan platform dalam mana audiens mendapatkan informasi pun berubah, termasuk di Indonesia.

Mengutip Pew Research Centre, sepanjang 2014 satu dari setiap dua orang mendapatkan berita politik dari Facebook, sedangkan di Indonesia, menurut survei Universitas Indiana pada 2011, penggunaan media sosial untuk mengakses informasi politik mencapai 71,6 persen, melebihi Tiongkok (68,3%), Jepang (64,4%), Thailand (61,2%), dan Taiwan (55,7%).

Orang semakin menjauhi kertas dan semakin mobile bersama perangkat mobile yang kecil namun canggih bernama smartphone.

Pengguna laman berita antaranews.com milik Kantor Berita Antara misalnya, berdasarkan analisis Google Analytics, separuhnya (50,7%) menggunakan perangkat mobile (smartphone), 18,20% lewat tablet, sedangkan sisanya 31,10% memakai desktop (PC dan laptop).

Memang, penetrasi dan koneksi internet Indonesia belum semerata dan secepat kawasan lain, namun mustahil menahbiskan keadaan ini akan selamanya begitu.

Sebaliknya, gelagat untuk berubah cepat terlihat dari beberapa petunjuk, antara lain langkah Google dan operator-operator telekomunikasi mobile Indonesia (Indosat, Telkomsel dan XL Axiata) menjalin kesepakatan pada akhir Oktober 2015 untuk menerbangkan balon-balon helium pemancar Internet di langit timur Indonesia dalam proyek bernama “Project Loon”.

Harus relevan

“‘Loon’ bisa membantu koneksi LTE (Long-Term Evolution) Internet kecepatan tinggi yang menjangkau lebih dari 100 juta penduduk Indonesia, memberi mereka akses ke kesempatan-kesempatan pendidikan, budaya dan ekonomi yang tidak terbatas dari Internet,” kata Wakil Presiden Project Loon Mike Cassidy.

Bayangkan jika proyek itu terwujud. Persebaran perangkat komunikasi canggih niscaya semakin luas, mengikuti massif dan kian cepatnya koneksi Internet. Kemudian, lalu lintas percakapan, data dan informasi di Indonesia pun kian sibuk.

Jelas ini menawarkan peluang baru kepada organisasi berita, tidak hanya pasar yang meluas, namun juga berlimpah ruahnya sumber berita teks, foto dan video.

Situasi itu semestinya menuntut organisasi berita untuk kian kreatif, menguatkan wajah dan karakter, serta menjaga kualitas produk karena audiens semakin cerdas dalam menilai informasi mana yang bisa dipercayai, selain tidak bisa didikte lagi oleh apa yang disebut agenda setting.

Ingat, peristiwa-peristiwa besar yang diliput luas media massa Indonesia belakangan ini hampir selalu muncul setelah viral di media sosial, dan banyak gerakan online lebih efektif ketimbang yang dirancang di ruang redaksi.

Zaman yang akan terus berubah ini tak bisa lagi diakrabi dengan pola pikir usang puluhan tahun ke belakang, karena geografi pasar dan demografi pelahap berita telah berlari kencang mengikuti kemajuan teknologi.

Bayangkan, jika generasi berumur 40 tahun ke bawah yang umumnya akrab dengan perangkat canggih dan teknologi informasi menjadi mayoritas penduduk Indonesia, pasti atmosfer bisnis berita pun akan sama sekali lain dari yang dikenal sekarang.

Kecenderungan seperti itu seharusnya membuat organisasi berita menjadi semakin luwes dan adaptif, selain tetap menjaga kualitas, demi menjawab kebutuhan generasi baru nan kritis yang akan segera menjadi mayoritas tidak saja di Indonesia, namun juga di dunia.

Reuters di bawah Stephen J. Adler dan Bloomberg News di bawah Matt Winkler bahkan mengimbuhkan berita berkedalaman atau jurnalisme investigatif pada strategi pemberitaannya, demi menegaskan loyalitasnya kepada kualitas itu, selain asyik bercengkerama dengan perubahan masa agar selalu selaras dengan zaman.

“Agar bisa bertahan dan makmur, organisasi media harus menerapkan jurnalisme berkualitas, teknologi dan teknik-teknik baru dalam mengikatkan diri dengan audiens, dan harus menjaga tetap relevan,” kata Schlesinger yang kini memimpin lembaga konsultan media global Tripod Advisors.

ANTARA

News Feed