oleh

Kedurei Agung, Masyarakat Tumpah Ruah di Setia Negara

Empat tampak Bupati Rejang Lebong  beserta unsur SKPD melepas Merpati Putih .
Bupati Rejang Lebong beserta unsur SKPD melepas Merpati Putih .

Rejang Lebong, Kupasbengkulu.com – Kedurei Agung, salah satu ritual utama dan sakral dalam gelaran HUT Curup, membuat ribuan masyarakat Kabupaten Rejang Lebong tumpah ruah di Lapangan Setia Negara, Curup.

Mereka tidak mau ketinggalan kebagian punjung (Nasi kuning yang dibungkus dengan daun pisang), yang dipercaya dapat memberi berkah, bagi yang memakannya.

Sebelumnya, seserahan berupa punjung, tumpeng dan lain-lain yang dibawa oleh setiap kecamatan lewat pawai adat. Kemudian, seserahan tersebut yang akhirnya ditumpukkan menjadi punjung agung.

Dijelaskan Ketua BMA Rejang Lebong, Zulkarnain, diakhir acara pembukaan HUT Curup, punjung tersebut baru dibagi-bagikan pada warga.

“Punjung selalu ada dalam acara Kedurei. Untuk acara Kedurei Agung, maka punjungnnya juga disebut Punjung Agung,” jelas Zulkarnain.

Acara Kedurei memang dipimpin oleh seorang Rajo wilayah. Khusus untuk Kedurei Agung, akan dipimpin oleh bupati. Bupati Rejang Lebong, Ahmad Hijazi sebagai Rajo wilayah diberi gelar Rajo Ario Pasak Bumei.

“Gelar tersebut sudah didapatkan beliau ketika menjadi Bupati Rejang Lebong, Tahun 2000 lalu,” terangnya.

Ritual lainnya yang juga menarik dalam pembukaan HUT Curup, seperti penyambutan Rajo wilayah atau Bupati, yang kemudian memukul kentungan raksasa bertuliskan huruf Rejang atau aksara Ka Ga Nga.

Kentungan tersebut dipukulkan sebanyak lima kali, yang menandakan Pat Sepakat Limo Seperno, juga menandakan Shalat Lima Waktu, dan lima visi membentuk Kota Curup.

Dilanjutkan ritual Belangea Agung yakni, bupati beserta istri, Wabup beserta istri dan Sekda beserta istri memercikkan air “Sedingin” keseluruh arah dan juga melepaskan burung merpati, yang melambangkan harapan yang diantarkan pada Yang Maha Esa.

Terakhir, sebagai bentuk mensyukuri hasil bumi yang diberikan oleh Tuhan, dilakukan ritual Kedurei Agung yang berlanjut acara makan-makan bersama.

“Proses dan susunan ritual adat dalam acara pembukaan ini, selalu dilakukan, tidak dirubah. Hal itu demi menjaga kelestarian adat dan budaya di Rejang Lebong,” pungkas Zulkarnain. (vai)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed