oleh

Kisah Pebatik Bengkulu Kenalkan “Besurek” Hingga Prancis

Pakaian batik yang digunakan Presiden SBY, KEtua PWI, dan Ketua Dewan Pers adalah hasil karya Atiqah Sumarwarni
Pakaian batik yang digunakan Presiden SBY, Ketua PWI, dan Ketua Dewan Pers adalah hasil karya Atiqah Sumarwarni

Atiqah Sumarwani yang akrab disapa Atik Batik dalam usianya yang masih muda begitu bersemangat memperkenalkan batik ke seluruh penjuru Indonesia hingga ke Paris, Prancis.

Semua semata karena rasa cintanya pada batik besurek, batik khas provinsi Bengkulu. Perempuan kelahiran 28 Maret 1987 yang telah memiliki toko batik dengan namanya sendiri ini mulai terjun ke usaha batik sejak Tahun 2007.

Awalnya ia hanya meneruskan usaha batik milik ibunya yang nyaris gulung tikar, Sufi batik yang terletak di Jl. Sukarto Hatta Kota Bengkulu.

“Tahun 2007 itu aku baru tamat dari Lembaga Pendidikan Susan Budiharjo jurusan design, diwaktu yang bersamaan usaha batik keluarga kami bangkrut. Mama kena tipu proyek pengadaan oleh salah satu pejabat dengan kerugian Rp. 600 juta lebih,” Ungkap gadis penyuka kucing ini.

Atiqah menambahkan ketika usaha batik keluarga mereka bangkrut, ibunya memutuskan untuk pindah ke Malaysia dan menyerahkan usaha ini sepenuhnya kepadanya. Saat itu terpaksa ia menjual batik yang tersisa, beruntung kondisi kelam ini tetap membuat lima orang karyawannya setia.

“Waktu itu kita terpaksa berjalan apa adanya saja, karena kehabisan modal. Beruntung saya juga dapat pinjaman dari pemerintah. Hal ini didasari karena memang produk kami sebenarnya memang sudah lama dikenal, sebelum memulai usaha batik besurek, mama kan sudah buka usaha bordir sejak tahun 1985” ujar Atiqah.

Berkat kerja keras dan doanya akhirnya pada tahun 2011 Atiqah mulai bangkit dan memperbaiki kondisi Sufi batik serta mempromosikannya dengan giat. Tidak hanya itu, ia juga mengembangkan usaha batiknya dengan membuka toko batik baru dengan namanya sendiri yang terletak tidak jauh dari Sufi batik.

“Saya percaya pada kekuatan doa orang yang mau berusaha. Selama bangkrut saya selalu berusaha untuk tetap menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Tidak dapat saya pungkiri Disperindag dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) banyak berperan dalam membantu saya sampai  bisa seperti sekarang ini. Kebetulan karena memang mereka telah menjalin kerjasama cukup lama dengan kami sejak usaha ini masih dikelolah mama, karena kualitas produk kami yang terjaga” jelas anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Atiqah Sumarwani
Atiqah Sumarwani

Saat ini Atiqah mempunyai 20 karyawan pengrajin batik yang bekerja di pabrik batik miliknya yang terletak di Desa Kandang, ditambah beberapa karyawan untuk menjaga toko.

Padatnya kegiatan membuat Atiqah memutuskan hanya konsen mengurus toko batik besurek miliknya sendiri dan menyerahkan pengelolaan Sufi batik pada kakaknya.

Bersama batik besurek Atiqah telah berkeliling Indonesia dan menyambangi beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bahkan pada tahun 2012 ia berhasil ke sebuah kota romantis di Prancis , Paris.

“Saya kalau keliling Indonesia cuma ke Papua saja yang belum pernah, karena susahkan kesana. Biasanya kalau ikut pameran di Indonesia itu sama disperindag tapi kalau ke luar negeri sama BKPM. Alhamdulillah karena tidak mengecewakan kita selalu diajak, karena kan ini membawa nama baik pemerintah jadi menurut mereka harus batik kualitas terbaiklah yang diperkenalkan” tutur pemilik rambut keriting ini.

Terus berinovasi itulah yang dilakukan Atiqah, karena sebagai anak muda ia mengenal baik selera masyarakat. Karena itulah kini ia mengembangkan usaha nya dengan membuat beberapa produk baru, seperti tas batik, kain sarung, sajadah, mukena, tas pesta, dan beragam pernak pernik. Harga jual pun sangat bervariasi mulai dari harga Rp 10 ribu hingga Rp 2 Juta.

Rasa syukur dan bangga menyeruak dari hatinya ketika batik besurek miliknya dipakai oleh orang terkenal negeri ini. Seperti tahun lalu artis cantik Arumi Bachsin sengaja mampir ke toko Atiqah batik untuk memilih pakaian pre-wedding.

Pada momen Hari Pers Nasional di Bengkulu, Presiden, Ibu negara, Para menteri dan para pejabat juga memakai batik darinya.

“Saya selalu berusaha memepertahankan mutu dan pelayanan agar batik besurek dari kami bisa semakin terkenal dan banyak pelanggan. Kemudian kunci lain yang saya tekankan adalah harga yang bersahabat serta tidak pasaran. Kami tidak pernah membuat batik yang sama,supaya pembeli senang”  ujar pemilik kulit sawo matang yang setelah lebaran akan terbang ke Hongkong untuk memperkenalkan batik bersama BKMP ini.(cr10)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed