oleh

Kopi Luwak, Sensasi Minuman Zaman Kolonial Belanda

Kedai Kopi Luwak, Jalan Rafflesia, Kelurahan Nusa Indah, Kota Bengkulu.
Kedai Kopi Luwak, Jalan Rafflesia, Kelurahan Nusa Indah, Kota Bengkulu.

kupasbengkulu.com – Di Indonesia, Kopi Luwak sebenarnya telah dikenal sejak zaman kolonial Belanda di abad ke-18. Namun beberapa tahun terakhir, Kopi Luwak kembali menjadi perbincangan, baik karena kenikmatannya sekaligus kontroversi asal muasal terciptanya Kopi Luwak.

Pengolahan Kopi Luwak pada umumnya  sama seperti pengolahan kopi biasa, namun perbedaannya hanya pada proses fermentasi alami dalam pencernaan Luwak (musang). Dikutip dari berbagai sumber,  menurut Ahli Nutrisi dan Pencernaan Ternak Fakultas Peternakan IPB, yakni Prof. Toto Toharmat, pada kasus hewan Luwak saat mencerna biji kopi, hanya pada bagian kulit luar atau daging luar kulit ari biji kopi saja yang tercerna dan hancur, sehingga pada saat masuk usus besar dan usus halus, biji kopi tersebut masih utuh dan terjaga kondisinya.

Pada saat proses biji kopi tersimpan sementara di dalam usus besar, bagian cangkang kopi tersebut melindungi daging biji kopi bagian dalam dari pada kotoran sisa makanan lain yang dikonsumsi oleh Luwak (feses). Pada saat terjadi proses pencernaan selama beberapa jam di dalam usus besar ini, Luwak mengeluarkan enzim-enzim yang berguna selama proses pencernaan dan sekaligus berlangsung pula proses fermentasi terhadap biji kopi tersebut. Itu sebabnya biji kopi Luwak hasil fermentasi hewan Luwak memilik aroma harum khas yang tidak bisa tergantikan oleh proses pembuatan kopi oleh mesin.

Hewan Luwak mampu membedakan biji kopi segar yang sudah matang dan berkualitas, sedangkan proses pengolahan kopi secara biasa, biasanya dilakukan secara massal dengan jumlah yang besar dan ada kemungkinan bercampur dengan biji kopi yang belum layak panen (biji kopi yang masih muda atau belum matang), biji kopi yang belum kering benar, maupun biji kopi kopong (biji kopi yang gagal memenuhi kebutuhan nutrisinya sendiri).

Sensasi kopi luwak
Sensasi kopi luwak

Kendati demikian, tak menyurutkan niatan para pecinta kopi untuk mengincar kenikmatan Kopi Luwak. Bahkan tak hanya rasa original, Kopi Luwak hadir dalam beberapa varian seperti Luwak White Coffee, Luwak Arabika, Luwak Peaberry, Gold Luwak, dan masih banyak lagi.

Kopi Luwak dipercaya dapat mencegah penyakit saraf, melindungi gigi, menurunkan resiko kanker payudara, mencegah batu empedu, melindungi kulit, serta dapat mencegah diabetes.

Seiring berjalannya waktu, outlet Kopi Luwak pun akhirnya menyebar ke seluruh wilayah di Indonesia. Di Bengkulu sendiri ada sebuah outlet Kopi Luwak dengan nama ‘Kedai Kopi Luwak Bengkulu’ yang berlokasi di Jalan Rafflesia, Kelurahan Nusa Indah. Berbagai varian menu disajikan, antara lain Kopi Luwak, teh rempah, es Mochachino, nasi goreng daging sapi, dan masih banyak lagi.

“Konsep awal Kedai Kopi Luwak Bengkulu ini adalah untuk memanjakan pecinta kopi dari berbagai kalangan, khususnya kawula muda dan eksekutif muda (eksmud), yang mana kami mengutamakan kenyamanan dan pelayanan terhadap konsumen,” ujar Yenni, owner Kedai Kopi Luwak Bengkulu.

Tidak hanya sebagai tempat nongkrong, Kedai Kopi Luwak Bengkulu juga biasa digunakan untuk kepentingan pekerjaan, seperti rapat dan melakukan kerjasama bisnis lainnya.

“Kami juga menyediakan fasilitas untuk nonton bareng (nobar), bussiness lounge, meeting point, dan coffee lounge. Pastinya ini akan menjadi tempat hangout yang asyik dan mengesankan,” cerita Yenni. (brm/val).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed