oleh

Masa Kecil dan Kehidupan di Kampung Halaman (BAGIAN I)

Putra Pandai3

Berasal dari Keluarga yang Taat Beragama (1940-1953)

Pada tahun 1947 dikenal dalam sejarah sebagai masa agresi dua Belanda. Untuk menahan laju agresi tersebut tentara Indonesia memakai strategi bumi hangus. Sebagai desa bekas kawedanan tentu saja masih banyak peninggalan pemerintah Belanda dimanfaatkan pemerintah Indonesia sebagai fasilitas pemerintahan yang baru berumur dua tahun tersebut. Praktis Mukomuko tidak luput dari sasaran bumi hangus TNI ketika itu. Karena khawatir kebakaran akan merembet ke pemukiman penduduk, terjadilah pengungsian besar-besaran. Seluruh penduduk diserukan mengungsi meninggalkan rumahnya masing-masing, tak terkecuali keluarga Ichwan sendiri.

Dalam suasana hiruk pikuk persiapan, disaat dan sekembalinya dari pengungsian itulah keluarga Ichwan kehilangan barang berharga berupa tabung*1) tempat penyimpanan dokumen-dokumen penting yang didalamnya antara lain terdapat catatan kelahiran Ichwan dan saudara-saudaranya. Akibatnya Ichwan kecil tidak diketahui secara pasti tanggal, bulan dan tahun kelahirannya.

Sampai pada usia sekolah Ichwan tiba dan ia masuk Sekolah Dasar pada Sekolah Rakyat (SR), tanggal kelahiran belum begitu diperlukan. Namun saat akan ujian akhir, tanggal, bulan dan tahun kelahiran sangat diperlukan untuk kepentigan ijazah jika nanti dinyatakan lulus. Karena lamanya waktu berlalu, seluruh keluarga terdekat Ichwan mulai dari kedua orang tua, nenek dan saudara-saudaranya tidak seorang pun yang ingat tanggal, bulan dan tahun kelahiran Ichwan.

Jalan satu-satunya untuk menentukan saat kelahiran -sebagaimana kebiasaan masyarakat zaman itu- adalah dengan mempersamakan tanggal kelahiran anak-anaknya dengan teman sebaya yang sudah jelas tanggal kelahirannya, atau dengan jalan mengingat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi menjelang, disaat atau tidak jauh setelah kelahirannya. Bedasarkan perkiraan-perkiraan tersebut, maka tercatatlah dalam ijazah Ichwan bahwa ia dilahirkan pada tanggal 2 Februari 1940, walaupun sesungguhnya Ichwan dan keluarganya sendiri berkeyakinan Ichwan dilahirkan pada tahun 1939.

Ichwan merupakan anak ke-2 dari 5 (lima) bersaudara. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya, karena ke-empat saudaranya perempuan. Nama kakak dan adik-adik Ichwan semuanya berakhiran “ni”. Kakak Tertua Ichwan bernama Sariani (almarhumah) berprofesi sebagai guru; adiknya yang pertama (putri ketiga) bernama Sartini juga seorang guru tinggal di Jakarta; adiknya yang kedua (putri keempat) bernama Kartini (almarhumah), dan yang paling bungsu bernama Yusmani (almarhumah), juga berprofesi sebagai guru.

Nama Ichwan sendiri sebenarnya juga berakhiran “ni”, lengkapnya Ichwani, tetapi karena Ichwan tidak begitu sreg dengan nama yang ber-akhiran “ni”, maka diubah menjadi Ichwan saja dengan ditambah nama ayahnya di belakangnya, menjadi Ichwan Yunus.? Ibunda Ichwan tidak pernah menceritakan perihal kelainan, keanehan atau pun keistimewaan yang dialaminya baik dalam alam kehidupan nyata maupun dalam mimpi ketika mengandung Ichwan. Yang jelas saat mengandung kakak Ichwan, sang Ibunda dalam keadaan sehat sehingga hampir tidak pernah terganggu dalam menjalankan aktivitasnya sebagai peteni dan sebagai ibu rumah tangga. Akan tetapi, Ichwan lahir disaat usia kandungan ibunya baru memasuki bulan ke-8. Tidak diketahui secara persis penyebab Ichwan dilahirkan prematur. Namun proses persalinannya sendiri berjalan normal, ditolong oleh dukun beranak pilihan orang tuanya sendiri.

Ketika Ichwan dalam kandungan, masyarakat di desanya sama sekali belum mengenal istilah bidan, apalagi dokter. ?Belum pula dikenal adanya pemeriksaan kandungan secara berkala untuk mengetahui kesehatan dan perkembangan baik dalam kandungan. Pemeriksaan hanya dilakukan manakala Ibu hamil merasakan kelainan, dengan mendatangi atau mendatangkan dukun beranak. Karena tidak ada alternatif lain kecuali dukun bayi, maka biasanya setelah dirasakan positif hamil, maka mulai saat itu pula ibu hamil, suami dan orang tua kedua belah pihak menyepakati dan menentukan dukun bayi yang akan menolong kelahirannya kelak. Setelah ditentukan melalui kesepakatan, maka ibu hamil beserta suami mendatangi sang dukun untuk dimintai pertolongannya. Tradisi inilah yang dilakukan oleh ibu Ichwan saat mengandungnya.

Walaupun dilahirkan prematur, bayi Ichwan tumbuh berkembang secara normal sebaimana anak-anak di zaman itu. Tidak ada imunisasi berkala sesuai umurnya, tidak pernah ada pemeriksaan kesehatan dan berat badan. Tidak ada nutrisi, suplemen/makanan tambahan dan/atau susu kaleng sebagai mana anak zaman sekarang, yang ada hanyalah ASI.

Pada saatnya meningkat dengan mengkosumsi makanan lembut atau haluskan dan selanjutnya sesuai perkembangan gigi dan alat pencernaan lainya, meningkat pada makanan-makanan yang lebih padat sampai akhirnya bayi/balita Ichwan tumbuh dan berkembang secara alami melalui tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangan sebagimana bayi kebayakan.

Menurut kedua orang tua dan saudara-saudaranya, tidak pernah ada riwayat penyakit spesifik yang pernah diderita Ichwan semasa bayi dan anak-anak, kecuali ganguan kesehatan ringan yang biasa diderita oleh bayi dan anak, seperti demam, batuk, flu dan pilek.

Tidak di temukan catatan resmi**2) tentang silsilah orang tua Ichwan, baik dari pihak Ayah maupun dari pihak Ibu. Namun sejauh yang Ichwan ketahui dari ayah, Ibu, nenek, atau paman dan bibinya. Mereka tidak punya pertalian darah atau garis keturunan yang menghubungkannya dengan keluarga kesultanan***3) Mukomuko (darah biru). Baik dari pihak Ibu maupun Ayah, Ichwan hanyalah berasal dari rakyat biasa yang hidup di desa sebagai petani kecil.Ayah Ichwan yang bernama Yunus, anak dari Dega yang berasal dari Desa Lakitan, Pesisir Selatan. Sedangkan Ibu Ichwan bernama Sariawa anak dari Siti Hajar yang berasal dari Mukomuko.

Catatan

1. Tabung adalah bejana yang terbuat dari ruas bambu. Benda ini merupakan alat tradisional yang multi guna, antara lain untuk penyimpanan barang-barang berharga seperti perhiasan emas, surat-surat dan dokumen penting lainnya .

2. Catatan resmi asal-usul sebuah keluarga yang biasa disebut silsilah atau tembo dalam bahasa Bengkulu, biasanya di simpan oleh orang yang dituakan atau yang paling terpandang dan dianggap paling dapat dipercaya dalam keluarga besar tersebut. Tembo ini akan diperbaharui setiap satu generasi (sekitar 50 sampai 100 tahun). Walaupun Ichwan mengaku pernah melihat tembo tersebut, tetapi ia tidak ingat lagi dimana tempatnya. Keluarga terdekat Ichwan yang satu generasi di atasnya juga tidak ada yang dapat dimintai keteranganya, karena semua sudah meninggal dunia, kecuali seorang paman kandungannya yang masih hidup, tapi tidak bisa lagi dimintai keterangan, karena sudah pikun.

3. konon Mukomuko dahulu kala merupakan sebuah kesultanan,tetapi setelah masuknya penjajah, terutama Belanda dengan politik pecah-belahnya, maka terjadilah perselisihan dan perpecahan di dalam keluarga kesultanan Mukomuko tidak dapat dipertahankan, dan akhirnya hilang sama sekali. Ketika biografi ini ditulis, sedang ada upaya mengumpulkan fakta-fakta sejerah untuk merekonstruksi sejarah kesultanan Mukomuko.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis : Khairuddin Wahid
Judul : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit: LPM Exsis
Cetakan : 1, Januari 2010

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed