oleh

Menanti Pagi di Danau Listrik Milik Belanda

Danau TEs, Kabupaten Lebong
Danau Tes, Kabupaten Lebong
kupasbengkulu.com – Hari masih gelap, kabut kelam menampar wajah rasa dingin terasa enggan menjauh dari tubuh, meski badan masih terbungkus kantung tidur yang mengusir dinginnya suhu di Desa Kota Donok, Kecamatan Lebong Selatan, Lebong tempat dimana Danau Tes berada.

Ujian berat memang bagiku untuk menikmati pagi di Danau Tes tersebut, berniat mengabadikan mommen munculnya sang penguasa siang dari balik bukit di danau tersebut. Namun, apa pun tantangannya, aku harus tinggalkan kantung tidur yang nyaman ini. (Baca juga: Mengasah Nyali Pada Lintasan Air Terjun Paliak)

Usai mencuci wajah dengan air yang juga tentunya sedingin es, minum segelas air putih kuberanikan diri keluar rumah, mengisi penuh paruku dengan udara subuh, dan langsung memanaskan mesin motor.

Ritual pagi tak berlangsung lama, mungkin berkisar 10 menit kupacu motor ku menuju Danau Tes, kabut masih kujumpai menampar wajahku yang separuhnya ku tutup dengan rain coat.

Tepat di Tepi Danau Tes, berjajar warung makan dan minum yang tentu saja belum buka, maklum waktu masih menunjukkan pukul 05.30 WIB. Pekat kabut masih
menghalangi pandanganku untuk menjelajahi danau.

Kicauan burung mulai bersahut satu per satu dari balik rimbunnya hutan dan deretan pinus di sisi lain danau. Perlahan namun pasti, kuning berbentuk tempurung mulai muncul malu dari balik bukit yang memeluk danau terbesar di Bengkulu ini, semakin tinggi tempurung itu maka semakin sempurna pula bentuk bulatnya, itulah matahari pagi.  Ia muncul dengan membunuh kabut bersama hangatnya, dan menguatkan pandangan mata sehingga sempurna lukisan Tuhan terbentang di hadapanku, sebuah danau memanjang dari Desa Kota Donok sampai Tes di hulu Sungai Ketahun Kabupaten Lebong, dengan luas  750 hektare, dengan ketinggian  500 meter di atas permukaan
laut.

Danau Tes dari Sisi lain
Danau Tes dari Sisi lain
Ternyata tampak pula beberapa nelayan bersama sampan dan jalanya berada di tengah danau, mencari ikan fikirku. Beberapa jepretan dari kamera sederhanaku
kuanggap cukup mewakili hadirnya mommen itu.

Pada zaman penjajahan Belanda di Bengkulu terutama masa penambangan emas di Lebong (tahun 1912), Danau Tes sudah dimanfaatkan dan dibangun sebagai Tenaga
Listrik (hingga saat ini terpasang 4×4 Mw) dengan cara di bendung guna menerangi pertambagan emas di Lebong Simpang, Tambang Sawah, dan Kota Muara Aman.

Danau ini sangat indah, gugusan bukit barisan tampak mengepung, pagi itu, pemandangan semakin cantik tatkala kabut masih berhembus di sekitar danau. Bau
kabut dan segarnya hutan begitu terasa saat saraf di hidung mulai bekerja mengirim pesan ke otak sehingga menghasilkan rasa yang direfleksikan menghasilkan rasa
nyaman dan tenang.

Beberapa petani yang kufikir hendak menuju kebun menyapa dengan ramah bercampur dengan logat Suku Rejang yang unik. Rupanya para petani itu merasa aneh
dengan prilakuku, menunggu pagi di pinggir danau.

Namun, beberapa petani mengakui jika potensi keindahan danau tersebut dikelola dengan baik maka kunjungan wisatawan pasti akan ramai. Selama ini Danau Tes tak
banyak dikunjungi wisatawan karena publikasi dan tata kelola pariwisata yang mungkin belum begitu maksimal.

Keindahan pagi itu sedikit membuat keningku berkerenyit, saat matahari mulai tinggi, beberapa truk pengangkut pasir mulai mengantre mengisi bak dengan pasir yang di dapat dari dasar danau, tak tahu legal atau tidakkah aktifitas tersebut.

Aku hanya berharap pemerintah setempat bersama warga dan kita semua dapat berperan aktif dalam menjaga dan merawat danau cantik ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed