oleh

Mengintip Ritual Cuci Laut Nelayan Bengkulu Selatan

ritual cuci laut warga Bengkulu Selatan
ritual cuci laut warga Bengkulu Selatan

Ritual cuci pantai oleh nelayan Pasar Bawah, Bengkulu Selatan  dilakukan setiap tahun, pada saat menyambut bulan suci Ramadhan ( bulan puasa ).

Warga Pantai Pasar Bawah Ujang (45), dia menceritakan, kepada kupasbengkulu.com sabtu (20/6/14), ritual cuci pantai ini, tak lain adalah untuk memenuhi janji nelayan terhadap penguasa laut.

Acara ritual ini sudah kami jalani setiap tahun. Dengan terpenuhinya janji kami khususnya nelayan, diharapkan keselamatan para nelayan agar dalam mencari ikan di laut dapat kembali dengan selamat dan mendapat rizki untuk memenuhi napkah keluarga.

“Apabila tak dilaksanakanya ritual cuci pantai ini, seringkali terjadi musibah kematian, bahkan mayatpun tak diketemukan. Ya Allhamdulillah pada ditahun 2013 yang lalu setelah dilaksanakan  ritual cuci pantai itu, sampai kini tidak ada musibah apapun,” kata Ujang.

Dalam acara ritual cuci Pantai atau memberikan sedekahan terhadap penguasa pantai, terang Ujang, ada tiga jenis ritual yang wajib dilaksanakan, yaitu mengadakan sedekahan jambar nasi kunyit dengan tutup burung dara, lokasi di pantai Pasar Bawah, setelah itu mengadahkan sedekahan ke tempat keramat pematang ciwigh (keramat penguasa laut), selanjutnya melakukan ritual salat gaib dan membuang sesajen ke laut.

Adapun urutan ritual cuci pantai, pertama mengadakan sedekahan di Pantai Muara Pasar Bawah, dengan memeberikan sedekahan jambar nasi kunyit atau nasi kuning dengan  tutup burung dara, yang sudah dimasak serta juga di sajikan 7 batang rokok yang dibalut daun jagung, air teh 2 gelas, dan kopi pait 2 gelas, lalu membaca doa.

Setelah selesai berdoa, dilanjutkan dengan ritual di keramat pematang ciwir yang tidak jauh dari muara pantai Pasar Bawah dengan mengadakan hal yang sama yaitu Jambar nasi kunyit serta isinya.

Dan setelah selesai melakukan sedekahan di kermat pematang ciwir, dilanjutkan pembuangan sesajen. ‘’

Sebelum dilakukan pembuangan sesajen terlebih dahulu melakukan ritual shalat gaib di depan sesajen di bungkus kain yang dilumuri darah kambing, serta perahu khusus untuk ritual ini, yang di buat sedemikan rupa.

Selesai sahlat gaib, sesajen yang dibungkus layaknya mayat ditaroh dalam perahu yang ditata sedemikian rupa, selanjutnya dibuang kelaut sambil berdoa mintak kepada tuhan dan penguasa laut agar para nelayan diberih keselamatan serta diberih rezeki yang murah.

Ditambahkan Ujang, selain tiga ritual tadi, pemilik perahu alias nelayan juga di beri air yang sudah di bacakan doa yang dicampur darah kambing, juga air pembasuh masjid, daun sedingin, daun sepacing, daun separoh, sepinggir serta 3 bua jeruk nipis, selanjutnya disiramkan ke perahu nelayan.

Tujuan hal ini dilaksankan, tak lain adalah sebagai pengganti tumbal agar supaya masyarakat atau nelayan baik pengujung pantai tak mengalami seperti yang tidak kita kehendaki.

Dalam ritual ini tidak ada yang namanya pawang, namun hanya berdasarkan musyawarah dan mufakat ditunjuklah orang yang di tuakan dan sebaliknya jika dilakukan pergantian hal ini dilakukan sesuai dengan kesepakatan.

Penulis: Badrul Tamtomi

Rekomendasi