oleh

Ratu Samban Pahlawan Menjelang Petang (Part 3 Tamat)

-Opini-34 views

 “LA-LAU BA UDI KUNYAU UKU SU-ANG GIE TEMOKOK NE”.  Arti dalam terjemahan bebasnya “Pergilah kalian biarlah aku sendiri yang melawan serta menanggung resikonya”.(Mardjati alias Ratu Samban)

 Pada tanggal 4 Desember 1888, koloni Belanda mendapat berita dari informannya, kalau  Mardjati alias Ratu Samban berada di Bintunan. Dia bersembunyi dan selalu berpindah-pindah dari Ketahuan dan Lais.

Maka pada tahun 1889 Belanda Mengeluarkan maklumat) keseluruh negeri berisikan.  “Akan memberikan hadiah yang besar kepada siapa saja yang dapat menangkap Mardjati alias Ratu Samban”.

Tanggal 24 Maret 1889 sekira tengah malam, penjahat nomor wahid Koloni Belanda dilakukan pencarian dan penyergapan hingga akhirnya ditangkap, Dalam posisi terikat kaki dan tanggan,  pahalawan anak negeri ini di eksekusi diatas rakit, sebagaimana dua elit Koloni Belanda dahuku di eksekusi oleh Ratu Samban.

Sisi samping Benteng Marlborough.

Tokoh anak negeri ini wafat usai menjalani hukum pancung dengan tangan dan kaki  terikat. Ratu samban dimakamkan oleh masyarakat di Desa Bintunan, Kecamatan Batik Nau Utara Bengkulu.

Perlu kita ingat, sewaktu serdadu Koloni Belanda menangkap dan Ratu Samban, beberapa pengikut setianyapun ikut mendamping mengiringi Sang Tokoh Anti Penindasan, yang dicintai rakyat tertindas itu dari belakang.

Ucapan Ratu Samban yang mungkin tidak bisa dilupakan para pengikut setianya adalah, kalimat terakhir Sang Pahlawan yaitu “LA-LAU BA UDI KUNYAU UKU SU-ANG GIE TEMOKOK NE”  arti dalam terjemahan bebasnya “Pergilah kalian biarlah aku sendiri yang melawan serta menanggung resikonya”.

Sebagai bahan catatan literatur kita,  dalam berbagai legenda ada juga yang  menyebutkan,  bahwa Ratu Samban adalah orang yang sakti mandraguna. Tidak mudah untuk ditangkap, Rakyat amat setia kepadanya, sehingga tidak mudah diperdaya.

Dalam kisah lainnya yang juga diceritakan secara berlebih-lebihan dalam legenda, disebut-sebut Mardjati alias Ratu Samban memiliki Ilmu Belut Putih, sehingga badannya licin bagaikan belut saat ditangkap.

Dalan legenda juga diceritakan, mereka melihat Ratu Samban  tidak mempan ditembak dan anti tusuk senjata tajam Koloni Belanda,  sewaktu membantai Asisten Residen dan kontroleur di Air Bintunan (Sungai Bintunan). Peristiwa ini telah membuat Ratu Samban semakin disegani masyarakat Utara Bengkulu kala itu.

Dari Ujung Karang (Tapak Paderi sekarang), sebuah bukit kecil yang menghadap ke laut sekitar 2 Km dari benteng York. berdiri  Fort Marlborough. Benteng yang sempat memenjarakan  Ratu Samban .

Kini kisah kepahlawanan  Ratu Samban, tak banyak yang tahu oleh generasi atau warga yang tinggal di Provinsi Bengkulu. Mereka hanya mendengar atau membaca  nama Simpang Lima Ratu Samban, nama sebuah kecamatan dan nama gang, tanpa paham dan tahu siapa sosok nama yang melekat tersebut,

Putra daerahpun seakan tak perduli terhadap nama pahlawan lokal, yang darahnya tertumpah di negeri ini, hanya untuk kepentingan popularitas pribadi atau politik.

Terpampangnya  nama besar Ratu Samban nama Simpang Lima Ratu Samban, di jalan protokol ibukota Provinsi Bengkulu sejak dahuku, merupakan suatu bukti tentang kebesaran namanya. Hanya saja itu belumlah menjamin kelestarian sejarah yang ada. Apalagi saat terpampang  Monumen Ibu Agung Fatmawati di tengah bundaran simpang, rawan akan hilangnya nama Ratu Samban menjadi Simpang Lima Fatmawati.

 Tulisan ini hanya mencoba menginggatkan anak negeri, bahwa banyak phalawan lokan Negeri Bengkulu yang tak terkuak dalam literature kesejarahan Provinsi Bengkulu ini.  Pada tulisan ini juga, penulis ingin sekaligus melakukan pelurusan kembali sejarah Ratu Samban yang kita citai. Dengan demikian, kisah pahlawan ini bukan merupakan legenda, tetapi fakta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

*Pemerhati Sejarah dan Budaya Bengkulu/Alumni Universitas Islam Djakarta

Rekomendasi