oleh

Rumah Kaca dan Dampaknya di Berbagai Sektor

-Tak Berkategori-3 views
sabar_ardiansyah
Sabar Ardiansyah, SST

Oleh : Sabar Ardiansyah, SST

Stasiun Geofisika Kepahiang-Bengkulu

OPINI – Pernah melihat rumah kaca? Ya, rumah kaca (green house) merupakan rumah yang terbuat dari kaca. Rumah kaca sering digunakan dibidang pertanian terutama di negara-negara subtropis. Misalnya untuk budidaya tanaman atau penelitian tanaman. Suhu rumah kaca dapat diatur agar cukup hangat sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Panas/sinar matahari yang masuk ke dalam rumah kaca akan dipantulkan oleh bidang-bidang (dinding dan atap) kaca. Dengan demikian, panas yang masuk akan terperangkap di dalamnya, dipantulkan berulang kali tidak dapat menembus ke luar kaca, dan menghangatkan seisi rumah kaca.

Kejadian di dalam rumah kaca mirip dengan peristiwa yang ada di bumi. Secara alamiah, sebagian sinar matahari yang masuk ke bumi akan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa. Sebagian sinar matahari yang dipantulkan itu akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang menyelimuti bumi. Gas-gas tersebut dinamakan gas rumah kaca. Sinar yang diserap oleh gas rumah kaca tersebut akan terperangkap di dalam bumi. Peristiwa inilah yang disebut dengan “efek rumah kaca”. Efek rumah kaca inilah yang menyebabkan bumi menjadi hangat dan layak ditempati oleh manusia. Jika tidak ada efek rumah kaca, maka bumi akan menjadi dingin dan tidak ada mahluk hidup yang mampu tinggal di dalamnya.

Gas rumah kaca meliputi uap air, karbon dioksida, metana, nitrogen oksida, dan gas lainya. Gas-gas tersebut dapat timbul secara alami di lingkungan. Namun, gas tersebut juga dapat timbul karena aktivitas manusia. Uap air merupakan gas rumah kaca yang paling banyak terdapat di atmosfer. Uap air ini berasal dari laut, danau, dan sungai. Sementara itu, karbon dioksida merupakan gas rumah kaca terbanyak kedua di atmosfer.

Karbon dioksida berasal dari berbagai proses alami seperti letusan gunung api, hasil pernapasan hewan dan manusia, serta pembakaran material organik. Selain itu, pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batu bara) yang terjadi pada pembangkit tenaga listrik, kendaran bermotor, AC, komputer, dan kegiatan memasak juga dapat menghasilkan gas rumah kaca. Pembakaran dan pengundulan lahan juga ternyata dapat menghasilkan gas karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida.

Pemanasan Global

Perubahan komposisi gas rumah kaca di atmosfer, yaitu meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca secara global akibat kegiatan manusia akan menyebabkan sebagian besar sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa, terperangkap di dalam bumi akibat terhambat oleh gas rumah kaca. Setelah dipantulkan kembali, sinar matahari berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas. Namun, sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus/lolos kembali ke angkasa karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya.

Akibatnya, energi panas yang seharusnya lepas ke angkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (trposfer). Energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama yang mengakibatkan timbulnya kondisi tidak normal. Inilah efek rumah kaca yang berlebihan karena komposis lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu. Peristiwa ini memicu naiknya suhu rata-rata di permukaan bumi sehingga terjadilah “pemanasan global”. Suhu merupakan salah satu parameter iklim, dengan adanya perubahan suhu secara global maka secara otomatis juga akan berpengaruh terhadap iklim secara global.

Dampak Perubahan Iklim Diberbagai Sektor

Perubahan iklim terjadi secara perlahan dan ekstrem. Perubahan iklim secara perlahan dalam jangka waktu yang cukup panjang, antara 50-100 tahun. Meskipun perlahan, perubahan iklim berdampak pada sebagian besar permukaan bumi. Sebagian besar permukaan bumi mengalami kenaikan suhu sehingga menjadi lebih panas. Berikut ini berbagai kerugian yang telah dan akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia sebagai dampak perubahan iklim.

Kenaikan Temperatur dan Berubahnya Musim : Kenaikan suhu secara global juga berdampak terhadap peningkatan suhu di Indonesia. Sejak tahun 1990, di Indonesia telah terjadi peningkatan suhu sebesar 0,3◦C. Peningkatan suhu ini akan berpengaruh terhadap pola curah hujan. Di beberapa tempat, curah hujan meningkat dan berdampak pada banjir dan longsor.
Sementara itu, di sebagian tempat lain curah hujan menurun sehingga berdampak kekeringan.
Naiknya Permukaan Air Laut : Kenaikan suhu mengakibatkan es di kutub mencair sehingga mengakibatkan kenaikan permukaan air laut. Akibatnya, banyak pulau-pulau kecil dan daerah landai di Indonesia menjadi hilang. Seandainya pada tahun 2030 permukaan air laut benar-benar bertambah antara 8-29 cm maka Indonesia akan kehilangan 2.000 pulau. Garis pantai di sebagian besar wilayah Indonesia pun akan mengalami kemunduran. Akibatnya, luas wilayah Indonesia menjadi jauh berkurang. Dampak lain dari naiknya permukaan air laut antara lain, mengancam tempat tinggal penduduk di pesisir pantai, merusak infrastruktur pemukiman di pesisir pantai, merusak ekosistem hutan bakau, perembesan air laut ke daratan akan memperburuk kualitas air tanah perkotaan.

Pada Sektor Perikanan : Pemanasan global menyebabkan memanasnya air laut sebesar 2-3◦C. Akibatnya, alga yang merupakan sumber makanan trumbuh karang akan mati karena tidak mampu beradaptasi dengan peningkatan suhu ini. Hal ini berdampak pada menipisnya ketersediaan makanan terumbung karang. Akhirnya terumbu karang akan berubah warna menjadi putih dan mati.

Matinya terumbu karang akan menyebabkan punahnya berbagai jenis ikan karang yang bernilai ekonomi tinggi, seperti ikan kerapu macan, kerapu sunu, dan napoleon. Mananasnya suhu laut akan mengganggu jenis ikan yang sensitif terhadap naiknya suhu. Akibat lebih lanjutnya, akan terjadi migrasi besar-besaran ke daerah lebih dingin. Hal ini akan merugikan Indonesia karena akan merubah komposisi ikan di laut Indonesia.

Pada Sektor Kehutanan : Peningkatan suhu meningkatan peluang terjadinya kebakaran hutan. Kebakaran hutan juga mengakibatkan hilangnya berbagai keanekaragaman hayati, terutama yang bernilai ekonomis tinggi.

Pada Sektor Pertanian : Sektor inilah yang paling besar terkena dampak perubahan iklim. Pergeseran musim dan perubahan pola hujan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan bidang pertanian. Terjadinya keterlambatan musim tanam atau panen akan memberikan dampak yang besar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa dampak dibidang pertanian antara lain, turunnya produksi pangan sehingga Indonesia harus impor. Tingginya curah hujan akan menimbulkan banjir dan tanah longsor. Akibatnya, hasil dari tanaman dataran tinggi akan menurun. Sebaliknya musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan bencana kekeringan sehingga mengubah musim tanam dan berdampak turunnya produksi pangan.

Pada Sektor Kesehatan : Naiknya suhu udara menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek sehingga nyamuk malaria dan demam berdarah akan berkembang lebih cepat. Balita, anak-anak dan usia lanjut sangat rentan terhadap jenis penyakit ini. Hal ini dibuktikan dengan tingginya angka kematian yang disebabkan oleh malaria sebesar 1-3 juta pertahun.

Upaya Menahan Laju Perubahan Iklim

Beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menahan laju perubahan iklim adalah dengan cara mitigasi dan adaptasi. Mitigasi adalah upaya mengurangi laju perubahan iklim dengan mengurangi emisi gas rumah kaca hasil aktivitas manusia. Caranya dengan menggunakan bahan bakar dari sumber energi ysng lebih bersih, seperti beralih dari batu bara ke gas alam. Selain itu, menggunakan energi terbarukan (energi matahari, angin, air, dan biomassa), mengurangi penggunaan bahan bakar pada kendaraan bermotor, dan menghemat listrik termasuk usaha-usaha mitigasi.

Sedangkan adapatasi adalah mempersiapkan diri untuk hidup dengan berbagai kondisi akibat perubahan iklim. Strategi khusus perlu dilakukan untuk menghadapi kedua dampak perubahan iklim (perlahan dan ekstrem). Banyak usaha yang telah dilakukan dalam upaya adapatasi, seperti reboisasi hutan dan rehabilitasi terumbuh karang. Usaha mengurangi angka kemiskinan juga termasuk di dalamnya. Masyarakat miskin paling rentan terhadap dampak perubahan iklim karena kemampuan adapatasi mereka yang lemah. Sementara itu, menanam bakau di pesisir pantai juga merupakan contoh adaptasi terhadap perubahan iklim secara perlahan. Adanya hutan bakau akan mengurangi abrasi dan intrusi air laut ke dalam sumber air bersih di daratan.(***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eighteen + 3 =