oleh

Sejarah Anjing Catahoula di Bengkulu

Anjing Benteng
Anjing Catahoula

Bengkulu Tengah, kupasbengkulu.com – “Tahun 1988 saya sampai di sini dan menanam berbagai macam tanaman seperti Jagung, Pisang, Ubi. Lalu kemudian saya pulang ke Jawa sekitar satu bulan. Sepulangnya ke sini saya kaget luar biasa dan sangat sakit rasanya, karena tanaman saya habis hancur berantakan. Semuanya karena ulah babi hutan. Akhirnya, saya tahu bahwa momok terburuk bagi para petani di Bengkulu ini adalah hama babi hutan,” ujar Sutaji, pensiunan pegawai Lembaga Pengembangan Pertanian Baptis (LPPB) Kecamatan Pondok Kubang, Kabupaten Bengkulu Tengah kepada kupasbengkulu.com, Sabtu (27/12/2014)

Sutaji saat itu masih aktif sebagai salah satu pegawai LPPB. Sejak dibuka tahun 1988 awal 1990an LPPB terus melakukan pengembangan di bidang Agronomi, dan hama babi terus pula mengganggu.

Akhirnya, salah seorang konsultan LPPB dari Amerika bernama Robert Pinket memutuskan untuk mencari solusi cara mengatasi hama babi hutan. Ia lalu meneliti beraneka jenis anjing yang cocok untuk memburu babi.

Hasil persilangan beberapa ekor anjing, kemudian menghasilkan jenis Catahoula. Jenis ini adalah yang terbaik untuk berburu. Tepat pada tahun 1994 dua pasang Catahoula pertama dibawa ke LPPB. Dua pasang ini lalu berkembang dan lumayan berhasil mengatasi hama babi.

Namun, perbedaan iklim serta cuaca dari Amerika dan Indonesia membuat beberapa anjing, yang tidak kuat beradaptasi tak bertahan lama. Hingga akhirnya pada awal tahun 2000an, mereka kembali mendatangkan 7 pasang catahoula, dan disusul sekitar 4 pasang lagi beberapa tahun kemudian.

Mempunyai bibit Catahoula unggul cukup banyak, membuat Sutaji yang saat itu bertanggung jawab atas anjing-anjing tersebut, berupaya mengembangkan dengan baik. Akhirnya, LPPB menjalin kerjasama dengan pemerintah dalam bentuk penyuluhan kepada kelompok pemburu babi hutan.

Setiap kelompok diberi penyuluhan dan dipersilahkan, untuk membuat pengajuan pembagian Catahoula. Antusiasme kelompok pemburu sangat tinggi. Sejak saat itu, Catahoula menjadi sangat populer di kalangan kelompok pemburu. Namun, masalah kembali timbul. Pasalnya, banyak Catahoula yang dibagikan kepada kelompok pemburu yang mati karena tidak dirawat dengan baik.

“Catahoula itu makannya beda, tidak boleh disamakan dengan anjing biasa. Mereka butuh banyak protein, sayur, justru tak makan daging,” jelas Sutaji.

Rupanya kehebatan Catahoula mulai terdengar, oleh para pemburu elit yang didominasi oleh pemburu berkantong tebal. Mereka mulai mengincar Catahoula, dan mengembangkan secara pribadi.
Menurut Sutaji, banyak pemburu elit yang memiliki 6 hingga 30 ekor Catahoula di rumahnya. Catahoula semakin populer, hingga muncul jargon ‘Bukan pemburu sejati kalau belum punya Catahoula’.

Harga anjing ukuran super ini dibandrol cukup tinggi. Untuk anakan usia 1,5 bulan Rp 3 juta, 10 bulan Rp 10 juta, sedangkan Catahoula pemburu, jadi dewasa bisa mencapai Rp 30 juta lebih. Catahoula umur 10 bulan bila mengangkat dua kaki depannya, dapat mencapai ketinggian 190 cm lebih dan pertumbuhannya akan terus hingga berumur 1,5 tahun.

“Catahoula pemburu yang sangat hebat, meski tak diajarkan mereka sudah mempunyai insting berburu. Kemampuan melacak dan memburu babi hutan sangat baik. Dia bisa mengejar buruan sambil terus menggonggong tanpa putus. Catahoula hanya berburu, ia tak memakan hasil buruan. Babi mati ia kembali ke tuan. Catahoula anjing yang sangat patuh, dan belum pernah ada cerita catahoula menggigit, tapi memang gonggongannya luar biasa,” demikian Sutaji.(***)

Penulis : Evi Valendri, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed