Home » TRAVELISTA » KULINER » Nikmatnya, Menu Lemea dan Lalap Jengkol

Nikmatnya, Menu Lemea dan Lalap Jengkol

by Yasrizal

Lemea yang telah dimasak dan dicampur ikan, menu makan yang nikmat

Lemea yang telah dimasak dan dicampur ikan, menu makan yang nikmat

kupasbengkulu.com – Bambu, saat kita mendengar kata tersebut yang terbayang dipikiran adalah benda keras yang biasanya dijadikan pagar rumah, malah senjata untuk perang zaman dahulu kala dan berburu.

Apa yang anda bayangkan jika di ujung Provinsi Bengkulu, tepatnya Kabupaten Lebong, suku Rejang disana mengkonsumsi bambu untuk makanan sehari-harinya. Terlintas dibenak kita pasti mereka ini adalah orang-orang kuat karena memakan tumbuhan keras yang biasanya menjadi pagar rumah.

Tapi ternyata bambu yang dikonsumsi Suku Rejang ini adalah bagian tunas yang masih lembut dan biasanya disebut Rebung. Namun ini bukan rebung sembarang rebung yang banyak diketahui orang, karena mengalami proses permentasi berminggu-minggu agar dapat dikonsumsi untuk mendapatkan rasa yang khas.

Ada istilah masyarakat Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu, “Belum ke Lebong kalo belum makan Lemea“, jadi bagi yang berkunjung ke daerah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jambi di sebelah Utara tersebut wajib mencicipi makanan khas Suku Rejang tersebut.

Lemea merupakan makanan asli Suku Rejang, terbuat dari rebung bambu  melalui permentasi paling cepat lima hari. Sekilas rasanya tidak jauh beda dengan rebung yang lebih banyak dikenal masyarakat, namun Lemea memiliki ciri khas rasa tersendiri yang berasal dari aroma permentasinya.

Jika kita mengunjungi Kabupaten Lebong, kita tidak akan sulit mendapatkan makanan ini, karena hampir sebagian besar masyarakatnya pasti menyimpan Lemea di rumah mereka.

Biasanya Lemea ini akan disimpan di dalam dirijen atau ember. Saat akan dimasak baru dikeluarkan, sisanya akan disimpan kembali. Lemea sendiri Jika dibuat dengan baik mampu bertahan hingga lebih satu bulan.

Sekarang Lemea mulai memasyarakat di Bengkulu, tidak hanya dapat ditemukan di Kabupaten Lebong. Kini kita dapat menemui para penjual Lemea di beberapa pasar tradisional di daerah ini, meski jumlahnya tidak banyak.

Hanya saja jika kita sempat mengunjungi Lebong, kita akan menemukan barisan panjang penjual Lemea di sepanjang jalan, penjual Lemea paling banyak dijumpai di Desa Tanjung, Kecamatan Lebong Tengah, Kabupaten Lebong.

Lemea juga banyak ditemukan di Pasar Atas, Curup Kabupaten Rejang Lebong. Sebagian besar membuat sendiri Lemea tersebut, tapi ada juga yang membeli dari pembuat dan hanya menjual saja.

Lemea yang masih mentah

Lemea yang masih mentah

Menurut Murnawati (58) warga Desa Semelako Kecamatan Lebong Tengah, Lemea merupakan makan yang tidak langsung konsumsi. Aslinya Lemea dimasak dengan cara ditumis cukup dengan menggunakan bumbu cabe merah dan serai.

“Kalau aslinya Lemea cukup ditumis menggunakan cabe merah dan serai, rasa aslinya lebih terasa,” kata Murnawati.

Namun, sebagian orang saat ini telah memasak Lemea dengan menambahkan beberapa bumbu dan yang digodok bersama kuah santan. Hanya saja bumbu yang tidak boleh ketinggalan jika memasak Lemea adalah serai, gunanya untuk mengurangi aroma permentasi dari rebung.

Murnawati menjelaskan cara memasak Lemea, siapkan bumbu halus seperti bawang merah, cabe merah, sedikit kunyit, dan lengkuas. Campur Bumbu halus, Lemea, kuah santan dan sera yang telah dimemarkan. Masak hingga kuahnya mendidih, lalu masukan ikan (sesuai selera), gunakan api kecil masak hingga matang.

“Lemea biasanya dimakan bersama nasi putih dan lalapan jengkol muda atau petai,” seloroh ibu yang akrab dipanggil Mur ini.

Mur seperti juga warga lain di desanya biasa menyimpan persedian Lemea di rumah mereka. Lemea ini ia buat sendiri dan dibuat dari rebung bambu yang masih lembut, sehingga Lemea hasil buatan sendiri lebih enak dan lembut.

Jenis Bambu yang biasa digunakan untuk membuat Lemea menurut mur adalah Rebung Bambu Sri dan Labu. Rebung ini dipilih karena meski lembut tetapi tidak mudah hancur pada proses permentasi.

Sejauh ini Murnawati tidak membuat Lemea untuk dijual, karena di desanya sebagian besar orang telah membuat Lemea sendiri. Jika pun ada yang menjual hanya beberapa orang saja, dan itu untuk di jual keluar Kabupaten Lebong seperti Rejang Lebong dan Kota bengkulu.

Lemea memiliki rasa yang tidak jauh dengan rebung kebanyakan, hanya saja masakan dari Lemea memiliki aroma tajam dan rasa sedikit asam. Untuk memasak Lemea tidak dianjurkan menggunakan terlalu banyak cabe, karena lemea sendiri terasa sedikit pedas berasal dari rebung. Juga jangan menggunakan kunyit terlalu banyak karena dapat membuat tekstur Lema menjadi keras.

Di Kabupaten Rejang Lebong, pembuat Lemea banyak dijumpai di desa Seguring Kecamatan curup Utara dan Desa Duku Ilir Kecamatan Curup Kabupaten Rejang Lebong. Pengrajin Lemea ini sudah memasarkan olahan rebung tersebut hingga keluar Curup seperti Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Tengah dan Bengkulu Utara.

Salah seorang pembuat Lemea, warga Desa Pelabuhan Baru, Pasar atas Curup Kabupaten Rejang Lebong, Fatimah (53) mengaku telah membuat dan menjual Lemea sejak puluhan tahun lalu.

Membuat Lemea telah Fatimah lakukan sejak usia 32 tahun hingga sekarang. Sebenarnya sejak kecil ia telah membuat makanan ini bersama sang ibu, tapi hanya untuk konsumsi keluarganya.

Ketika berkeluarga, Fatimah yang sehari-hari berjualan di Pasar Atas Curup ini  mulai membuat Lemea untuk dijual, dan ternyata permentasi rebung ini banyak

diminati.

Menurut fatimah membuat Lemea susah-susah gampang, karena jika tidak memperhatikan detil pembuatannya bisa mengakibatkan bau Lemea jadi tidak sedap dan berwarna hitam. Fatimah sendiri mendapatkan bahan baku dari para pengumpul, setiap kilo rebung ia beli seharga Rp2.000.

Rebung-rebung inilah nanti dicuci bersih kemudian diiris tipis, baru selanjunya dicincang kecil-kecil berbentuk kotak-kotak. Selanjutnya rebung direndam dengan air bersih selama dua hari. Setelah dua hari, air rendaman dibuang hingga tida bersisa. Selanjutnya rebung dicampur dengan ikan. Ikan yang dicampur wajib ikan air tawar seperti mujair, nila, ikan semah dan ikan mas. Untuk 15 Kg rebung, fatimah hanya mencampurkan seperempat kilogram ikan.

“Kalo terlalu banyak ikan, nanti warnanya jadi hitam dan tidak sedap,” kata Fatimah saat ditemui.

Ikan sendiri sebelum dicampur, disiram terlebih dahulu dengan air panas mendidih, sehingga ikan dalam kondisi setengah matang. Baru kemudian dicampur dengan rebung, tambahkan sedikit air pada campuran ikan dan rebung.

Selanjutnya rebung disimpan selama kurang lebih seminggu, untuk menghasilkan mendapatkan hasil permentasi. “Biasanya lima hari, rebung telah menjadi Lemea dan sudah bisa dimasak,” kata Fatimah.

Fatimah tidak membuat Lemea setiap hari, biasanya ia akan membuat Lemea setiap tiga hari sekali. Sebanyak 25 Kg Lemea, jika dijual secara ecer, paling lama tiga hari telah habis. Namun tidak jarang, Lemea dijual oleh pengumpul yang menjual kembali Lemea tersebut.

“Lemea, dijual biasanya pakai cangkir, satu cangkir kecil hanya seribu,” kata ibu separuh baya ini.(she)

You may also like

Leave a Comment