Home » MUKOMUKO » Sebuah Biografi Ichwan Yunus Kehidupan Kelurga (Bagian IV)

Sebuah Biografi Ichwan Yunus Kehidupan Kelurga (Bagian IV)

by Yasrizal

Disiplin, Tegas dan Demokratis

Di dalam keluarga, Ichwan dikenal sangat disiplin dan tegas, tapi bukan berarti otoriter. Ichwan selalu membedakan mana urusan yang menyangkut pribadi dirinya, mana yang menyangkut urusan pribadi isterinya, dan mana masalah yang menyangkut pribadi anak-anaknya, serta mana urusan yang mempunyai keterkaitan erat dengannya, isteri dan anak-anaknya.

Jika itu menyangkut pribadinya, maka Ichwan selalu mengedepankan apa yang sudah menjadi keputusannya. Menurutnya yang paling mengetahui hal terbaik bagi dirinya adalah dirinya sendiri, bukan orang lain, termasuk isteri dan anak-naknya. Namun demikian bukan berarti ia menutup rapat-rapat masukan, kritik atau saran dari isteri dan anak-anaknya, walaupun biasanya pendapat atau pendiriannya juga yang dijalankan.

Prinsip seperti ini dipegang erat oleh Ichwan karena sejalan dengan sifat dan karakternya yang serba mau cepat, tidak mau menunda-menunda dan menghindari keraguan.   Bila terlalu banyak meminta pertimbangan kepada orang lain, termasuk kepada keluarga, maka akan terkesan ragu, tidak berani atau lambat mengambil keputusan dan pasti akan memakan waktu.

Karena bercermin kepada dirinya sendiri, maka Ichwan sangat toleran dengan keputusan, pendirian atau sikap yang diambil oleh isteri dan anak-anaknya, terutama yang menyangkut pribadi masing-masing. Contohnya masalah sekolah, menurut Ichwan, orang tua bisa menentukan kemana dan dimana anaknya sekolah hanya sebatas usia SD dan SLTP, atau paling tinggi setingkat SLTA. Selebihnya orang tua hanya sebatas memberi saran atau mengarahkan dan keputusan tetap ada pada yang bersangkutan, karena usia mereka sudah cukup untuk mengukur kemampuan, bakat dan minat yang mereka miliki.

Ukuran kemampuan, bakat dan minat tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan mereka untuk memilih dan memilah mana yang terbaik buat mereka sekarang dan masa yang akan datang. Terhadap anak-anaknya yang sudah merampungkan sekolah tingkat SLTA, Ichwan selalu menyerahkan sepenuhnya kepada yang bersangkutan untuk memilih perguruan tinggi yang diminatinya.

Ichwan tidak mempermasalahkan dimana saja tempat perguruan tinggi yang diminati anaknya. Yang penting bagi Ichwan adalah tanggung jawab penuh terhadap pilihan yang mereka ambil, kewajiban Ichwan hanyalah mengarahkan dan memberi saran serta yang terpenting adalah mencarikan biaya, jangan sampai kepentingaan studinya terhambat. Ichwan akan bereaksi keras dan mengambil tindakan tegas jika ada gejala-gejala yang rnengarah pada tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Ichwan dengan senang hati dan mendukung sepenuhnya tatkala Linda Erawati, putri keduanya mengemukakan keinginannya untuk melanjutkan S2 di Inggris. Yang penting bagi Ichwan keputusan untuk melanjutkan studi S2 di Inggris tersebut adalah hasil pertimbangan  yang matang dari berbagai sisi.  Mulai dari sisi kemampuan akademik yang bersangkutan, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam studi, sampai kepada hitung-hitungan out put program studi yang ditempuh.

Soal biaya tidak perlu dipikirkan, semua menjadi tanggung jawabnya. Hal yang sama terjadi ketika Sepra Fitri putra Ichwan yang keempat ingin melanjutkan studi S1 di Australia. Walaupun Sepra yang akrab dipanggil Adek ini merupakan putra bungsunya, tetapi Ichwan sama sekali tidak mau mengekang atau melarangnya kemana ia mau melanjutkan studinya.
Walaupun ada dua dari empat orang anak Ichwan berprofesi sebagai Akuntan, yakni Putra Kurniawan, dan putra bungsunya Sepra Fitri, tetapi Ichwan mengaku tidak pernah memaksa keduanya untuk mengikuti jejaknya sebagai akuntan, mereka sendiri yang menetapkan pilihannya.

Begitu pula terhadap jodoh, baik terhadap anaknya yang laki-laki, maupun perempuan, Ichwan membebaskannya untuk memilih dan menentukan pasangannya masing-masing. Menurut Ichwan setiap orang tua pasti mempunyai cita-cita besar terhadap anak-anaknya, begitu pula terhadap ia dan isterinya.

Sering terlintas dalam hati dan pikiran Ichwan, bahwa anaknya harus jadi ini atau jadi itu, harus mendapatkan pendamping orang yang begini atau begitu.  Namun saat itu juga ia berpikir bahwa yang berhak menentukan masa depan anaknya adalah mereka sendiri, ia tidak mungkin dan tidak adil bagi mereka, jika ia memaksakan kehendaknya.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis : Khairuddin Wahid
Judul   : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit: LPM Exsis
Cetakan : 1, Januari 2010

You may also like

Leave a Comment