Beranda PEREMPUAN 3 Pekerja Sosial Kota Bengkulu Tangani 147 Anak Disabilitas

3 Pekerja Sosial Kota Bengkulu Tangani 147 Anak Disabilitas

0
Hilda Sriwanti
Hilda Sriwanti
Hilda Sriwanti

kupasbengkulu.com – Dinas Sosial Kota Bengkulu hanya miliki 3 pekerja sosial untuk tangani anak disabilitas (penyandang cacat) usia 0-18 tahun, yang tergabung dalam PKSA (Program Kesejahteraan Sosial Anak) Kementerian Sosial RI.

Program PKSA adalah upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial untuk memenuhi kebutuhan dasar anak meliputi subsidi kebutuhan dasar, aksesibilitas pelayanan sosial, penguatan orangtua/ keluarga & lembaga kesejahteraan sosial anak.

“Sebenarnya sangat tidak ideal, bisa dikatakan 1 berbanding 40, yang tersebar di 9 kecamatan. Idealnya 1 orang pekerja sosial mendampingi 10 anak dan keluarga” ujar Hilda Sriwanti, pekerja sosial perlindungan anak.

Dijelaskan Hilda, dalam program PKSA, Dinsos Kota Bengkulu memberdayakan lembaga yang melakukan pelayanan terhadap anak disabilitas. Pekerja sosial PKSA melakukan pendampingan intens ke rumah-rumah (door to door) dan secara personal ke anggota keluarga dari anak disabilitas.

“Anak-anak yang mendapatkan pendampingan dalam program PKSA ini adalah anak-anak yang memang dalam pendampingan keluarga, bukan di dalam panti, karena tujuan dari PKSA untuk anak disabilitas ini, selain pemenuhan kebutuhan terhadap anak juga penguatan tanggung jawab pengasuhan keluarga,” ujar Hilda.

“Jadi bukan hanya anak, orangtua juga didampingi karena kita tahu menjadi orangtua dari penderita disabilitas sangatlah tidak mudah, sehingga orang tua juga harus didampingi dalam hal ini,” tambahnya.

Hilda berharap pemerintah lebih mengoptimalkan keberlangsungan program ini. Selama ini selain oleh pekerja sosial, pendampingan juga dilakukan oleh sesama orangtua anak disabilitas dan juga guru-guru dari Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Untungnya selama ini sesama keluarga disabilitas sering berkumpul dalam forum, untuk sama-sama menguatkan di antara mereka. Selain itu dibantu juga oleh guru-guru dari SLB. Harapannya pemerintah dapat lebih memberikan perhatian terhadap kebutuhan anak disabilitas, terlantar, dan miskin, dan juga melibatkan bermacam instansi terkait dalam mensukseskan program ini,” demikian Hilda. (val)