Siti Soleha

kupasbengkulu.com, Opini – Pergaulan bebas rupanya masih menjadi persoalan paling rumit khususnya bagi remaja. Demokrasi yang menjunjung tinggi hak asasi manusia telah mengantarkan umat untuk bebas berekspresi.

Umat digiring untuk bebas dalam mengekspresikan dirinya; bebas membuka aurat, pacaran, aborsi, lesbi, homo, prostitusi, perzinaan, dan lain lain. Parahnya, pelaku dan korban banyak dari kalangan generasi muda.

Jika generasi yang didamba sebagai pelanjut estafet kepemimpinan sudah dirusak oleh pergaulan bebas, tentu negeri ini akan bermasa depan suram.

Tidak bisa dipungkiri, tingginya angka penderita HIV/AIDS dan kehamilan tak dikehendaki dikalangan remaja sejatinya diakibatkan oleh maraknya pergaulan bebas.

Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), bila tahun-tahun sebelumnya penyebab utama HIV/AIDS adalah narkoba suntik, sekarang ini telah bergeser ke perilaku seks bebas dengan proporsi sekitar 55 persen.

Padahal, diketahui bahwa pelaku seks bebas sebagiannya adalah remaja. Survey yang pernah dilakukan menyebutkan separuh gadis di Jabodetabek tak perawan lagi.
Sedangkan di Surabaya, remaja perempuan lajang yang kegadisannya sudah hilang mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen (BKKN. go. id , 2010).

Data diatas adalah data 2010. Bagaimana data di tahun 2015? Melihat fakta bagaimana pergaulan remaja sekarang, maka bisa disimpulkan bahwa pergaulan remaja masa mencapai tingkat (kritis).

Banyak sekali program yang dicanangkan untuk mengatasi pergaulan bebas ini. Seperti pacaran “sehat” yang dikutip Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi pada peringatan Hari Anak Nasional.

Mencanangkan kondomisai untuk menyelesaikan pergaulan remaja ini. Memang, alasan pemerintah terkesan baik. Dalam pendiran ATM kondom misalnya, tujuan pemerintah adalah untuk mencegah penyebaran virus HIV/AIDS, karena kondom diakui dapat mencegah penularan penyakit AIDS.

Tapi efek sosial dari penyediaan ATM tersebut malah lebih membahayakan. Para pelaku sex bebas, khususnya kawula muda, akan merasa semakin bebas dengan adanya kemudahan mendapatkan kondom.

Bahkan anak – anak dibawah umurpun yang tadinya tidak mengerti kondom, akan terangsang keingintahuannya untuk mencoba penggunaan ATM tersebut. Seharusnya pemerintah mengkampanyekan semboyan SAY NO TO FREE SEX bukannya Monggo Nganggo Kondom.

Padahal kondom belum tentu keefektifannya dalam mencegah penyebaran virus HIV. Dan yang menjadi program baru pemerintah saat ini untuk mengatasi pergaulan remaja adalah dengan menggalakkan pendidikan budi pekerti.

Yang menjadi persoalan, benarkah pacaran ‘sehat’ mampu menanggulangi pergaulan bebas remaja? Di samping itu, ketika penanaman nilai-nilai agama di kalangan remaja digalakkan, sejauh mana efektifitasnya untuk mencegah mereka dari pergaulan bebas?

Ternyata tidak. Solusi yang dilakukan pemerintah belum mampu mengatasi pergaul bebas remaja yang kini sudah mencapa tingkat (kritis).

Sex Bebas, Gaya Hidup Barat yang Menghancurkan

Mengamati fenomena prilaku sex bebas, pornografi, dan pornoaksi bahkan terjadinya homosex yang semakin merajalela di negri tercinta ini, timbul pertanyaan dalam hati, ada apa dibalik semua ini??

Semua ini tanpa kita sadari merupakan dampak dari gencarnya kampanye budaya barat di negeri yang mayoritas muslim ini. Salah satu sikap mental yang diderita negara-negara barat adalah ketakutan pada Islam dan pada umat Islam yang berpegang teguh pada Syariat Islam.

Sejarah membuktikan, Perang salib telah menyisakan rasa gentar mereka pada agama Islam, karena menurut mereka agama Islam menyimpan potensi yang sangat hebat dan mampu menggerakkan umatnya untuk bersatu melawan kekuatan apa saja.

Tidak diragukan lagi kalau mereka menganggap negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam merupakan ancaman bagi dunia barat.

Untuk itulah negara barat getol mengkampanyekan pornografi, pornoaksi, perilaku sex bebas dan bahkan homosex dengan tujuan untuk melemahkan moral dan spiritual generasi muda Islam, yang pada akhirnya akan menjauhkan umat Islam dari tuntunan Syariat Islam sehingga ideologi Islam akan hancur.

Islam mengajarkan budaya yang bertolak belakang dengan budaya barat, Barat mendukung budaya permissif yang membolehkan segala hal. Sedangkan budaya Islam justru dibatasi oleh syariah yang mengangkat derajat manusia di atas makhluk lainnya.

Budaya Islam memanusiakan manusia sedangkan budaya barat membuat manusia sama derajatnya dengan hewan bahkan lebih rendah dari hewan. Bukankah perilaku mengumbar aurat dan sex bebas hanya dilakukan oleh hewan?

Dalam sistem kehidupan sekuler liberal saat ini, kebebasan berperilaku begitu diagung-agungkan. Negara pun kehilangan nyali mengatur warga negaranya karena momok demokrasi yang mengharuskan untuk mengakomodir semua kepentingan dan kelompok, termasuk kelompok para kapitalis dan liberalis.

Akibatnya, benar dan salah menjadi kabur, halal-haram tak dapat jelas dibedakan. Sistem seperti ini pun telah menyeret ‘orang baik’ untuk berbuat maksiyat dan pelaku maksiyat semakin kuat. Kondisi tersebut tentu sangat memprihatinkan.

Namun, haruslah dipahami bahwa bencana yang menimpa remaja di negeri ini bukanlah tanpa sebab manusia. Sebab Allah SWT berfirman dalam Surat Ar Ruum yang artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (TQS. Ar Ruum [30] )

Berdasarkan petunjuk ayat di atas, pergaulan bebas yang terjadi di kalangan remaja tentu akan menimbulkan kerusakan bagi masyarakat -karena melanggar aturan Allah SWT.

Dan kini, terbuktilah hal tersebut dari tingginya angka HIV/AIDS dan angka kematian ibu dan janin akibat aborsi dan penyakit menular tersebut.

Dengan demikian, nyatalah apa yang seharusnya menjadi fokus bagi penyelesaian persoalan ini, yaitu mencegah pergaulan (seks) bebas disemua kalangan khususnya kalangan remaja.

Atas dasar itu pula maka tawaran solusi apapun yang tidak mengarah pada upaya mencegah pergaulan bebas pantas untuk ditolak. Sebaliknya, yang harus dilakukan adalah upaya mencegah pergaulan bebas secara mendasar dan komprehensif sehingga bisa berdampak secara luas dan langgeng.

Islam sebagai Solusi

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang – orang yang yakin?” (QS Al-Maidah:50)

Semakin maraknya pornografi dan pornoaksi juga merupakan akibat lemahnya tatanan kehidupan di negeri ini dari tuntunan Syariat Islam.

Sistem demokrasi sekuler yang dianut bangsa kita membuka peluang bagi tumbuhnya liberalisme di segala bidang kehidupan yang mengusung bendera HAM (Hak Asasi Manusia).

Dengan dalih HAM inilah mereka merasa terjamin kebebasannya dalam berprilaku, termasuk kebebasan (kebablasan) berekspresi seperti yang didengungkan para pekerja seni.

Menyadari kegagalan segala sistem di luar sistem ideologi Islam, maka sudah sepantasnya kita kembali kepada hukum Islam, karena Islam dapat memberikan solusi yang baik bagi permasalahan umatnya.

Islam menjaga kehormatan dan meninggikan derajat umatnya dengan memberikan batasan aurat bagian mana yang boleh diperlihatkan.

Oleh karena itu bagi kaum muslimah yang masih senang mempertontonkan aurat, sadarlah bahwa sanjungan yang diterima justru menghinakan anda ke tahap yang paling rendah. Karena menutup auratlah yang membedakan kita dengan hewan.

Solusi Islam terhadap hasrat seksual seseorang sudah sangat jelas. Bagi kaum pria mempunyai libido (hasrat seksual) sangat tinggi. Islam memberi solusi dengan cara poligami. Bukankah cara ini lebih menjunjung martabat wanita dibanding pelacuran atau pergundikan?

Islam mengharamkan sex bebas. Inilah solusi sesungguhnya bagi pencegahan penyebaran wabah virus HIV/AIDS. Sedangkan pornografi dan pornoaksi diharamkan karena dapat menimbulkan tingginya kasus pelecehan seksual dan perkosaan.

Bukankah ini sudah terbukti? Sistem pendidikan dan sosial yang islami mengajarkan tatanan kehidupan yang santun antara pria dan wanita, serta menjaga pelaksanaan hak pribadi tanpa mengganggu hak asasi orang lain.

Kebebasan berekspresi dalam Islam adalah kebebasan yang dibatasi oleh nilai-nilai luhur syariah. Bukan kebebasan yang kebablasan tapi kebebasan yang bertanggungjawab baik terhadap dirinya, masyarakat, maupun terhadap Allah SWT.

Karena setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya”, (HR Abu Hurairah).

Wahai umat Muslim, sudah saatnya kita menyadari bahwa hanya dengan Khilafah pergaulan bebas dapat tuntas dihentikan. Mari bangkit bersama umat mengembalikan kemuliaan Islam dan kemuliaan kaum Muslim dengan mewujudkan kembali Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah! WalLahu a’alam.(**)

Penulis : Siti Soleha (Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia/MHTI DPD I Bengkulu)