Inilah pintasan alam Bengkulu Tengah, yang mungkin saja pernah dilintasi dua pendkar sakti mandraguna itu.

Inilah pintasan alam Bengkulu Tengah, yang mungkin saja pernah dilintasi dua pendkar sakti mandraguna itu.

Oleh: Benny Benardie
Tidak banyak masyakarakat yang tahu, kenapa Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok kelapa Bengkulu tengah Provinsi Bengkulu, begitu unik namanya. Bila kita lihat sepintas, desa itu mengambarkan kita tentang suara atau pekikkan yang keras. Benarkah itu?

Untuk menelusuri kembali mata rantai sejarah Negeri Bengkulu, memang tidaklah mudah. Negeri ini sedikit sekali menyimpan peninggalan sejarah. Kemungkinan peninggalan itu lenyap, seiring kedudukan Kolonial Inggris. Tentunya dengan keminiman itu, bukan artinya pengungkapan sejarah negeri ini tidak dapat terungkap dan ditelusuri kembali.

Kembali pada Desa Pekik Nyaring, kita dapat mengungkap pada babad Tanah Sunda, Banten, Cirebon dan babat Palembang. Dalam kisah diceritakan adanya dua pria kakak beradik sakti mandra guna dari Kerajaan Diatas Angin, Negeri Re-yang (Rejang) di pesisir Bengkulu, Jaka Supetak (Sepetak) dan Jaka Pekik.

Sakti Mandra Guna
Diceritakan dalam hikayat, “…..Dua orang saktimandraguna kakak beradik itu pernah menyelamatkan seorang Puteri Raja Palembang, dari serangan, sambaran seekor buaya, sewaktu mandi di sungai”. Tempat kejadian yang dimaksud adalah sungai di Desa Pekik Nyaring, tempat kelahiran dua pendekar itu.

Bermodal kesaktian itulah, dua kaka peradik ini pergi melanglang buana seantero jagad, mulai dari Negeri Sriwijaya (Palembang), Pasundan ( Banten ) hingga ke Negeri Cirebon. Dalam perjalannnya, melintang patahpun dilakukan bila hambatan menghadang. “Tiada satupun musuh dapat keluar arena, kecuali dengan kematian”.

Cerita klasik Tanah Cirebon menyebutkan, pendekar Jaka Supetak dan Jaka Pekik ini, mempunyai Ilmu siluman buaya dan ajian genta buana. Tampaknya itu tidak cukup bagi mereka. Dimana tempat singgah disana mereka berguru, untuk memperdalam kesaktian.

Ajian genda buana memang mengerikan dan sadis. Saat mereka berteriak, maka akan keluar darahlah semua yang berlubang pada  yang mendengarnya, tidak terkecuali hewan. Bahkan gemuruh yang dipekikkan suara itu sangat dasyat. Gemuruh akan terdengar di wilayah barat, bila pekikkan dilakukan di wilayah Timur.

Menjadi Buaya
Dalam babad dan kronik yang penulis ditemukan, dikatakan, para pendekar sakti ini datang dari Kerajaan Campa dibawah Angin. Kerajaan dimaksud, mungkin saja Kerajaan Bengkulu yang pernah dibawah Kerajaan Campa , Sementara Kerajaan Campa dibawah Kerajaan Tiongkok. Tentunya ini bertentangan dengan pendapat Sir Thomas Stamford Raffles yang menyebutkan Campa itu berada di Aceh Utara.

Dalam perjalanannya, dua pendekar ini sempat singgah ke Cirebon, untuk berguru pada Sultan Maulana Syarif Hidatullah alias Sunan Gunung Jati au Fathahilah Khan al Pasee. Sebagaimana tradisi para pendekar saat ingin berguru, maka ia harus menguji kesaktian sang guru. Akhirnya kedua pendekar ini gagal, karena kalah saktinya dalam bertarung dengan Sunan Gunung Jati.

Mereka melanjutkan perjalanan, melintasi Kali Kepetakan Cirebon, dan menengelamkan diri, berubah menjadi buaya.  Ada juga yang menyebutkan, mereka menuju Banten dan sempat singgah di Negeri Kelapa (Jakarta) dan menghilang. Waullahu ’alam bissawab

Penulis dan Jurnalis di Bengkulu