oleh

Kisah Pilu Suami yang Bertahun-tahun Diracun Istri

illustrasi, sumber foto: ummutibyan
illustrasi, sumber foto: ummutibyan

Kisah ini merupakan sebuah kisah nyata pengakuan dari seorang suami sebut saja Ad (54) warga Kabupaten Bengkulu Utara yang menikahi seorang perempuan dari hasil perjodohan keluarga inisial Mi (40).

Ad dan Mi menikah memang berstatus tak lagi lajang namun duda dan janda. Berharap kehidupan membaik memiliki pasangan hidup maka perjodohan keluarga tersebut diterima oleh Ad dan Mi.

“Kami dijodohkan dan dipertemukan dalam hitungan hari lalu menikah,” kata Ad saat mengisahkan perjalanan hidupnya itu.

Pernikahan sakral itu mereka gelar pada 2001, mereka dianugerahi dua orang buah hati. Sementara Mi memiliki satu orang anak dari suami pertamanya.

Awal kisah cintah rumah tangga ini berjalan normal, Ad saat itu bekerja di salah satu perusahaan perkebunan. Namun dua tahun bekerja perusahaan tersebut bangkrut, ini awal petaka terjadi.

Berharap mendapatkan hidup baik, Ad memboyong semua keluarganya ke tempat lain. Tuhan mendengar setiap doa Ad, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan perkebunan dengan upah dibayar setiap minggu.

Hasil kerja kerasnya itulah ia mampu membeli sebuah rumah mungil untuk anak dan istrinya berteduh. Kebahagiaan tak terbendung saat itu dalam diri seorang suami berinisial Ad ini.

“Saya bahagia mampu mendirikan rumah walau terbilang tak layak unutk anak istri saya dari hasil keringat saya,” kenang Ad haru.

Namun, cobaan kembali menghantam Ad, saat usia mulai menggerogoti tubuh kekarnya, ia tak mampu lagi bekerja sebagai pemanen kelapa sawit saat fisik dan daya tahan tubuh mulai meredup.

“Usia menua tubuh saya tak sekuat dahulu, sementara himpitan ekonomi semakin keras,” tegasnya.

Menurunnya produktifitas Ad tentu saja berimbas pada pendapatan ekonomi keluarga. Apalagi sakit yang mendadak seperti muntah bercampur darah kerap ia rasakan.

“Meski saya sakit saya tetap paksakan untuk mencari nafkah,” jelasnya.

Puncaknya terjadi pada Tanggal 4 Juli 2014,ia dilarikan oleh keluarga ke Rumah Sakit Umum Arga Makmur dan di rawat inap selama 4 hari. Segala biaya memang ditanggung oleh pihak perusahaan.

Penyakit yang diderita menurut vonis dokter hanya penyakit ringan yaitu diare.Diare tersebut menurut dia terus terjadi dan divonis dokter ia menderita keracunan.

Bayangan kematian sudah menghantui dirinya karena dengan kasat mata ia melihat sendiri darah yang cukup banyak dikeluarkan dari dalam tubuhnya melalu mulut.

Meskipun semangat untuk hidup dengan berobat sudah dijalani,tetapi tidak membuahkan hasil. Saat itu ia sudah pasrah. Istri tetap mendampingi. Makan dan minum selalu disajikan. Tetapi setiap usai menyantapi makan dan minun perut sakit,kepala pusing dan pasti muntah darah.

Muncul kecurigaan ada hal tidak baik dilakukan istri lanjut Ad ketika ia disajikan istri dengan satu bungkus sate kambing.Pada tanggal 18 Juli 2014 sekitar pukul 19.04 WIB,istrinya meninggalkan ia pergi bersama anak mereka paling kecil dan tak pernah kembali hingga kini.

Kondisi semakin fatal saat ia didatangi beberapa ibu-ibu yang menagih hutang hingga puluhan juta. Uang tersebut dipakai Mi namun tak pernah dilaporkan padanya selaku suami.

“Saya selalu melarang istri untuk berhutang,” katanya

Persoalan tersebut dapat diatasi berkat bantuan keluarga dan tentunya dengan cara berhutang lagi.Penyebab penyakit Ad mulai terungkap saat pengakuan anak perempuannya yang mengatakan ibu sering memberikan racun pada makanan, minuman bahkan air mandi untuk Ad. Mendengar cerita itu, wajar saja badannya kurus seperti orang kekurangan gizi.

“Bahkan anak saya pernah disuruh membeli racun tikus dengan jumlah yang banyak di salah satu warung. Setelah saya telusuri dan analisa,rupanya istri punya niat yang buruk terhadap dirinya. Seandainya, kematian saya terjadi di lahan kebun tempat ia bekerja,tentu istri menuntut dengan pihak perusahaan,” lirih ad.

“Ya…Allah maha mengetahui apa yang dilakukan oleh hambanya. Saya tidak menuntut banyak dengan istri. Jika memang mau pulang ke rumah silahkan. yang menjadi pikiran anaknya itu yang dibawa kabur. Kalau memang istri tidak sanggup untuk merawat anak, biarlah saya saja,” sambungnya lagi.

Meski demikian, Ad berharap istrinya itu sadar dan kembali ke rumah untuk membangun dan melanjutkan hidup mereka secara bahagia dan membesarkan anak-anak.

Penulis: Jhon Cardinat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed