Beranda INSPIRASI Meniti Karir di Lingkaran Birokrasi (1969-1990) (Bagian V)

Meniti Karir di Lingkaran Birokrasi (1969-1990) (Bagian V)

0

Sebuah Biografi Ichwan Yunus

Ichwan Yunus USA

Antara Idealis dan Realistis
Meskipun pekerjaan pemeriksaan dan penilaian Panca Niaga belum 100 % rampung, pada bulan Ianuari 1970 Ichwan berangkat ke Palembang untuk menjalankan tugas barunya yang sempat tertunda lebih kurang lima bulan tadi. Berbeda dengan penempatan-penempatan sebelumnya, mulai dari Jakarta, Medan dan ditarik kembali ke Jakarta, Ichwan belum terlalu konsentrasi pada pekerjaannya karena lebih disibukkan pada kegiatan belajar, bekerja beberapa bulan lalu tugas belajar, bekerja kemudian tugas belajar lagi, yang terakhir tugas belajar sambil dipekerjakan.

Di Palembang Ichwan betul-betul konsentrasi pada pekerjaannya. Di Palembang inilah Ichwan memulai karir birokrasinya. Untuk pertama kalinya ia diberi kepercayaan menduduki jabatan eselon IV sebagai Kepala Seksi Pemeriksaan Perusahaan Negara. Bertugas sebagal pemenksa yang Juga berfungsi sebagai pembinaan kinerja keuangan Perusahaan Negara yang ketika itu kondisi manejemennya masih sangat sederhana— bukanlah pekerjaan yang mudah terlebih Perusahaan Negara yang menjadi objeknya tidak hanya satu atau dua perusahaan, tapi beberapa perusahaan. Akan bertambah berat lagi karena sekalipun tempat tinggalnya di Kota Palembang, namun wilayah tugasnya cukup luas, meliputi Kota Palembang sendiri, Bangka Belitung, Lampung,jambi dan Bengkulu.

Dillihat dari sisi sifat dan luasnya Jangkauan wilayah pemeriksaan, maka dengan jabatannya tersebut praktis Ichwan lebih banyak berada di lapangan. Ia bertugas ke luar daerah lebih sering dibanding duduk di kursi empuk menghadapi meja biro di kantornya. Dalam menjalankan aktivitas jabatan atau pekerjaannya sehari-hari Ichwan dan stafnya selalu saja berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Dari satu daerah ke daerah yang lain, tanpa ada keluh kesah. Sudah menjadi karakter Ichwan setiap melakukan pekerjaan yang sudah menjadi tugasnya selalu penuh semangat dan motivasi yang tinggi. Selama lebih kurang tujuh tahun, Ichwan bertugas di Sumbagsel hampir tidak ada kendala yang berarti dengan pekerjaannya. Ia menjalankan profesinya sebagai pemeriksa sekaligus memposisikan dirinya sebagai pernbina.

Fungsi inilah yang dirasakan Ichwan sebagai tips untuk meminimalisir hambatan atau kendala dalaln pemeriksaan. Setiap melakukan pemeriksaan Ichwan selalu menjadikan objeknya sebagai mitra, sehingga sampai-sampai tidak terasa kalau sedang diperiksa.jika mendapatkan temuan yang menyimpang dari aturan maka tidak serta merta ia mempersalahkan pelakunya,tetapi selalu saja Ichwan meneliti terlebih dahulu rnotivasi di balik penyimpangan tersebut. Apakah motifnya untuk memperkaya diri, atau karena keterbatasan pengetahuan, atau bisa saja penyimpangan sengaja dilakukan karena persoalan persaingan bisnis. Motif lainnya untuk mengejar keuntungan perusahaan, jika tidak melakukan penyimpangan, perusahaan akan mengalami kerugian.

Dijelaskan oleh Ichwan bahwa Akuntansi Perusahaan berbeda dengan Akuntansi Pemerintahan. Perusahaan Negara -sekalipun mempunyai karakteristik yang sama yaitu promotip- berbeda dengan Perusahaan swasta murni. Perusahaan Negara meskipun memiliki manajemen sendiri, terpisah dengan manajemen pemerintahan, namun tetap saja ada keterkaitan prosedural atau birokrasi pemerintahan. Hal yang sulit dihindari bagi Perusahaan Negara adalah masuknya unsur kepentingan politis pemerintah. Oleh sebab itu, selaku pemeriksa Perusahaan Negara ia dituntut untuk menerapkan fungsi ganda yang seimbang. Di satu sisi sebagai akuntan harus rnengemukakan temuan-temuan seobjektif mungkin, disisi lain ia juga harus realistis dalam menyikapi terutama terhadap temuan-temuan yang secara akuntansi terjadi penyimpangan.

Menurut Ichwan sejauh penyimpangan tersebut tidak bermaksud untuk memperkaya diri, tapi semata-mata untuk mengejar keuntungan perusahaan, apa lagi jika pelanggaran itu hanya penyimpangan prosedur dan atau birokrasi. Pelanggaran tersebut tidak dimasukkan dalam kategori pelanggaran berat. Baik penyimpangan berat maupun ringan Ichwan tetap membatasi diri sebagai pembina, tidak pernah memposisikan dirinya sebagai juri atau hakim.
Demikian Ichwan selalu memasang target dalam pencapaian hasil kerjanya, tidak pernah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, sehingga tidak satu pun pekerjaan yang tertunda, apalagi tidak terselesaikan.Tidak terasa tujuh tahun sudah berlalu, dan pada bulan Nopember 1976 Ichwan dipindah tugaskan kembali ke jakarta mendapatkan promosi jabatan ke eselon III sebagai Kepala sub Direktorat Pemeriksaan Kas Negara.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis : Khairuddin Wahid
Judul : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit: LPM Exsis
Cetakan : 1, Januari 2010