illustrasi uang

illustrasi uang

kupasbengkulu.com, Kota Bengkulu – Bisnis “money game” tampaknya masih digemari kalangan masyarakat. Banyaknya laporan terkait penipuan masih ditangani oleh pihak Kepolisian. Namun sayangnya, hingga kini pelaku utama dalam kasus tersebut belum diketahui.

Seperti Dream For Fredoom, atau kerab disapa “D4F” ini banyak mendapatkan laporan dari mantan nasabahnya untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Uang yang dilaporkan pun tak tanggung tanggung besarnya, dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

Terbaru komunitas sama seperti D4F kembali muncul, diketahui komunitas tersebut dinamakan dengan Komunitas Indonesia Sejahtera atau kerap juga disingkat menjadi “KIS”.

Memang komunitas ini belum terlapor oleh korbannya, namun cara perputaran uangnya sama dengan D4F. KIS menawarkan tiga paket, dimana terdapat 3 pilihan diantaranya, paket 1 dengan modal Rp 1.juta, paket 2 dengan modal Rp 5 juta dan paket 3 dengan modal Rp 10 juta.

Menurut salah satu anggota aktif KIS yang meminta untuk merahasiakan indentitasnya ini, komunitas baru ini kerap memberikan profit sebesar 1 persen per harinya. Ajaibnya uang tersebut dapat diambil selama 15 hari. Dengan total profit 90 hari sebesar 190 persen.

“Saya sudah cukup lama mengikuti komunitas ini, sekira bulan Mei tahun lalu. Memang saat ini saya berada sebagai Manajer Bronze, dimana setiap bulannya menghasilkan Rp 5 juta,” terangnya.

Ia mengakui, saat ini masyarakat sudah kurang berminat mengikuti komunitas ini. Dampak laporan D4F menjadi alasan. Menurutnya, presepsi masyarakat mengenai komunitas yang ia jalani sama dengan D4F.

“He he, terang saja saya sukar mengajak orang untuk mengikuti komunitas ini. Karena masyarkat sudah takut mengikuti komunitas ini,” tambahnya.

Terkait hal ini, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bengkulu, Yan Syafri mengatakan ketertarikan bergabung dalam bisnis ini menurutnya dilatarbelakangi sikap mental masyarakat yang ingin serba instan. Terutama hasil yang dijanjikan dengan keuntungan besar, namun modal kecil

“Kalau saya melihatnya ya ini mengenai sikap mental kita saja sih, karena kalau dari segi pendidikan juga banyak anggota MLM yang berasal dari pegawai bank, pegawai perusahaan, asuransi, bahkan dulu juga ada Pejabat juga yang ikut,” kata Yan Syafri.

Terpisah dengan semua hal itu, masyarakat dapat menilai usaha baik yang dimiliki agar memiliki uang dengan jumlah besar, bukan di hipnotis agar dapat masuk perangkap sendirinya.

Pembuat bisnis “money game” sudah menyadari sejak awal bahwa bisnis ini tidak akan berlangsung lama. Sebab, semakin banyak anggota, semakin susah mereka merekrut anggota baru hingga akhirnya rontok dengan sendirinya.

Sayangnya, pasal tentang janji keuntungan hanya bisa diberikan jika masih ada anggota baru –klausul yang biasanya disetujui begitu saja oleh anggota yang mendaftar. Sehingga ketika bisnis ini bubar, sang pembuat money game susah untuk dijerat hukum. (bro)