Home » INSPIRASI » Sebuah Biografi Ichwan Yunus , Kehidupan Keluarga (Bagian IV)

Sebuah Biografi Ichwan Yunus , Kehidupan Keluarga (Bagian IV)

by Firdaus Eka

Rosna Ichwan datuk

Rosna
Empat setengah bulan setelah Soekarno Hatta memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia, tepatnya pada tanggal 31 Desember 1945, di pelosok nusantara yang terisolir, jauh dari hingar-bingar teriakan histeris “merdeka atau mati’, di desa Mukomuko lahirlah bayi mungil dari rahim seorang ibu bernama Badawiyah, sebagai buah cintanya dengan Syahidan. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Rosna oleh kedua orang tuanya.

Kedua orang tua Rosna, Syahidan dan Badawiyah, sama-sama berasal dari Mukomuko, hidup sederhana dan berasal dari keturunan rakyat biasa. Tidak ada silsilah yang menghubungkan keduanya dengan keturunan darah biru Kesultanan Mukomuko. Syahidan adalah seorang kepala keluarga yang berprofesi sebagai seorang petani, penuh tanggung jawab dan perhatian kepada isteridan anak-anaknya. Sedangkan Badawiyah, kendati pun ia sebagai ibu rumah tangga, tetapi ia juga gigih berjuang untuk menopang ekonomi rumah tangganya dengan berdagang di rumah dan berkeliling dari pasar kepasar. Dua sumber mata pencarian yang saling menopang tersebut membuat keluarga ini berkecukupan dan dari segi ekonomi tergolong keluarga kelas menengah di kampung halamannya.

Keadaan ekonomi keluarga yang tergolong mapan ini tidak membuat suami isteri ini terlena dan mengabaikan pendidikan anak-anaknya, tetapi justru dipergunakan sebaik-baiknya untuk mendorong dan memotivasi anak-anaknya untuk sekolah.

Kerja keras Syahidan dan isterinya yang diikuti oleh kemauan kuat dari anak-anaknya, tidak sia-sia. Lima dari enam anaknya berhasil melewati pendidikan setingkat SLTA, dan bekerja sesuai dengan keahliannya. Ada yang berprofesi sebagai guru, ada yang tentara dan sebagainya.

Setelah kelima anaknya bekerja dan ada yang sudah berkeluarga, mereka semuanya meninggalkan rumah dan desanya, tidak seorang pun ada yang tinggal di desa Mukomuko, kecuali si bungsu Rosna yang masih gadis kecil. Seiring dengan semakin lanjutnya usia, kedua orang tua Rosna sudah mulai merasa kesepian karena ditinggalkan anak-anaknya, mulai pula timbul kekhawatiran pada akhir hayatnya nanti tidak dirawat dan disaksikan oleh anak-anaknya.

Satu-satunya harapan mereka adalah Rosna yang kini masih di sisi mereka. Oleh karena itu jauh-jauh hari -ketika itu Rosna masih duduk di kelas V  SD- Syahidan melarang Rosna untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, karena khawatirakan meninggalkannya pula. Masih hangat dalam ingatan Rosna, pada suatu hari ayahnya berkata yang diperkuat oleh ibunya:

“Rosna…seperti kau ketahui bahwa kakak-kakak kamu semuanya telah pergi meninggalkan rumah. Mereka sudah disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing. Satu-satunya harapan kami untuk dapat selalu bersama-sama kami adalah kamu. Oleh karena itu ayah minta kepada kamu untuk berhenti sekolah, kalau kamu melanjutkan sekolah dan akhirnya meninggalkan rumah seperti kakak-kakak kamu, siapa lagi yang menemani dan merawat kami. Terutama ketika kami sakit. Kamu tidak perlu khawatir tentang masa depan kamu, karena rumah dan segala isinya ini sudah diperuntukkan buat kamu…”

Pada waktu itu Rosna masih sangat lugu, dan mengiyakan saja apa kata ayah dan ibunya. Tidak lama setelah ltu ayahnya meninggal dunia, tinggal ia dan ibunya saja menempati rumah yang cukup besar itu.

Setelah menamatkan Sekolah Dasarnya, Rosna mulai gelisah, ingin sekali ia melanjutkan sekolahnya sebagaimana teman-temannya, akan tetapi selalu saja ia teringat dengan pesan terakhir ayahnya. Sesekali ia dapat mengerti dan merasakan kebenaran di balik larangan sekolah oleh orang tuanya.

Sejak ayahnya meninggal, Rosna sering kali merasa iba menyaksikan ibunya sendiri berjuang melewati sisa-sisa hidupnya. Kalau dalam keadaan sehat, tidak begitu ada masalah, tapi tidak mungkin orang setua ibunya ini selalu dalam kondisi sehat,  pasti suatu saat akan jatuh sakit, lalu siapa yang merawatnya, kecuali ia sendiri sebagai anaknya. Di sisi lain Rosna juga berpikir bahwa ia tidak mungkin kuat menahan kehendak batinnya untuk tetap melanjutkan sekolah, tidak mungkin ia akan tahan menyaksikan kawan-kawannya melanjutkan sekolah, sedang ia berdiam diri di rumah. Akhirnya sekuat tenaga dan berbagai macam cara merayu ibunya, supaya diizinkan melanjutkan sekolah.

Melihat kegigihan, keteguhan hati dan kebulatan tekad buah hatinya untuk dapat melanjutkan sekolah, akhirnya hati sang ibu luluh juga, dan mengizinkan Rosna melanjutkan sekolah, dengan catatan tidak boleh meninggalkan rumah. Secara kebetulan ketika itu sekitar tahun 1953-an, di Mukomuko telah ada Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Rosna akhirnya melanjutkan sekolahnya di sana sampai tamat kelas III.

Setelah tamat belajar di SMR kembali Rosna diingatkan oleh sang ibu akan pesan terakhir ayahnya, bahwa ia tidak boleh lagi melanjutkan sekolahnya, tamat SMP sudah lebih dari cukup. Sang ibunya merasa sudah memberikan toleransi yang sangat besar dengan mengizinkannya melanjutkan sekolah ke SMP sampai tamat.

Anehnya Rosna malah menjadi semakin semangat, tekadnya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi bertambah bulat. Ia seolah sudah melupakan pesan terakhir ayahnya yang sempat diiyakannya. Kini suasananya menjadi terbalik, anak gadis yang sudah memasuki usia remaja ini semakin pintar beretorika, ia berusaha memberikan pengertian kepada sang ibu tercinta akan pentingnya ilmu pengetahuan, tapi tetap saja sang ibu tidak bergeming.
Namun demikian, Rosna juga tidak mau menyerah, dalam setiap kesempatan ia selalu saja memohon kepada sang ibu supaya diizinkan melanjutkan sekolahnya di Bengkulu, sampai akhimya hati sang ibu luluh juga melihat betapa besarnya minat si putri bungsunya ini untuk melanjutkan sekolahnya.

Begitu mendapat izin dari ibunya, Rosna dengan riangnya berangkat ke Bengkulu, dan selanjutnya ia mengikuti tes masuk SPG di sana. Di saat pengumuman hasil tes keluar, dan Rosna dinyatakan lulus, hari itu juga datang kakaknya Zaini dari Tanjung Karang bermaksud untuk menjemputnya.

Kepada sang adik Zaini berkata singkat: “Janganlah kamu sekolah di sini (di Bengkulu; pen), ikut saya saja ke Tanjung Karang dan sekolah di sana saja”, kata Rosna menirukan kembali kata-kata kakaknya.

Anehnya, Rosna tidak mempunyai kekuatan sama sekali untuk menolak ajakan sang kakak, dan berangkatlah Rosna bersama kakaknya ke Tanjung Karang. Tidak lama setelah tinggal bersama kakaknya di sana, Rosna mengikuti tes masuk Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGTK),dan dinyatakan lulus, maka resmilah Rosna menjadi siswa SGTK Tanjung Karang sampai tamat.
Karena pada saat itu di Indonesia pada umumnya dan di Tanjung Karang khususnya, tamatan SGTK masih tergolong langka. Begitu tamat, Rosna langsung mendapat tawaran untuk mengajar di Taman Kanak-Kanak tidak jauh dari tempat ia tinggal bersama kakaknya. Belum sempat ia mengajar di TK yang menawarinya, Rosna lantas dijemput oleh kakaknya yang menetap di Palembang, dan berangkatlah Rosna ke Palembang mengikuti kakaknya.

Secara kebetulan kakak iparnya yang di Palembang ini mengajar di Taman Kanak-Kanak Persatuan Isteri Tentara (TK Persit).  Rosna juga diminta untuk turut mengajar di sana, dan akhirnya di TK Persit inilah untuk pertama kalinya Rosna mengajar. Tidak betapa lama mengajar di TK Persit Palembang, Rosna kembali lagi ke Tanjung Karang dengan maksud melanjutkan cita-citanya yang sempat tertunda, yakni melanjutkan sekolahnya ke SPG di Tanjung Karang.

Pada waktu yang sama Kakaknya yang di Bengkulu mudik ke Mukomuko untuk menjenguk sang ibu, betapa sedih dan prihatinnya sang kakak menyaksikan sang ibu yang semakin sepuh itu tinggal di rumah sebatang kara, tanpa ada yang menemani, apa lagi merawatnya. Ketika itu, dalam pikiran sang kakak tidak ada jalan lain kecuali si bungsu Rosna harus pulang ke Mukomuko untuk menemani dan merawat ibu.

Setelah itu, berangkat sang kakak ke Tanjung Karang untuk menjemput Rosna. Kepada sang adik ia bercerita bahwa baru saja ia pulang ke Mukomuko, betapa memprihatinkannya kondisi ibu yang sudah tua tinggal sendirian, tidak ada yang menemani. Mendengar cerita sang kakak, hati Rosna sangat sedih karena merasa bersalah telah meninggalkan ibunya sendiri di rumah, ingin sekali ia segera kembali menemui ibunya.

Di sisi lain, hatinya juga sangat berat untuk meninggalkan Tanjung Karang lantaran keinginannya untuk meraih cita-cita melanjutkan sekolah ke SGP masih sangat besar. Rosna betul-betul dihadapkan pada dua pilihan sangat berat. Karena tidak banyak waktu untuk ber?kir, maka dalam waktu singkat ia memutuskan untuk memilih ibunya dan kembali ke Mukomuko. Cita-citanya untuk sekolah dan menamatkan SPG kini pupus sudah.

Tidak lama setelah kepulangannya ke Mukomuko, Rosna sudah mulai berpikir bagaimana caranya supaya ilmu dan pengalaman yang ia miliki dapat disumbangkan pada masyarakatnya. Rosna mulai menjalin komunikasi kepada masyarakat Mukomuko, dimulai dari keluarga terdekat dan sanak famili, meluas ke tokoh masyarakat, tokoh muda-mudi, tokoh adat dan seterusnya, terutama Orang-orang yang terbuka dengan dunia pendidikan.

Kepada siapa saja yang sempat ia temui, Rosna mengemukakan dan meyakinkan betapa pentingnya pendidikan usia dini bagi anak-anak. Sebelum masuk Sekolah Dasar, sebaiknya anak-anak dipersiapkan terlebih dahulu, baik dari segi pengetahuan dasar maupun dari segi mental. Dengan demikian, maka ketika memasuki SD, anak-anak sudah benar-benar siap, terutama mentalnya.

Desa Mukomuko, yang konon pernah menjadi pusat kerajaan masa lalu, kemudian menjadi kewedanaan pada zaman penjajahan Belanda ini.   Disamping wilayahnya yang cukup luas, juga memiliki banyak penduduk, sudah saatnya memiliki sebuah Taman Kanak-Kanak sebagai tempat anak-anak belajar sambil bermain.

Gayung bersambut, pantun bersahut, ide dan gagasan gadis terpelajar yang baru menginjak dewasa ini mendapatkan respon positif dari keluarga dan masyarakatnya. Mendapat lampu hijau dari keluarga dan para tokoh masyarakat, Rosna segera mempersiapkan segala sesuatunya, terutama menyangkut hal yang paling penting dan pokok, dan masalah tehnis lainnya.
Karena gagasan ini didukung oleh semua komponen masyarakat Mukomuko, maka tidak ada kesulitan bagi Rosna mendapatkan izin untuk memakai Gedung Bundar (masyarakat Mukomuko lebih mengenalnya dengan sebutan Gedung Bola) di desanya, sebagai tempat dilaksanakannya proses belajar mengajar Taman Kanak-Kanak yang diberi nama TK Rahayu itu.(gie/adv) (Bersambung)

Disadur dari Buku
Penulis : Khairuddin Wahid
Judul   : Pengabdian Sang Putra Pandai Besi (Sebuah Biografi Ichwan Yunus)
Penerbit: LPM Exsis
Cetakan : 1, Januari 2010

You may also like

Leave a Comment