Kepulan asap kemenyan sambut Tabot tebuang.

Kepulan asap kemenyan sambut Tabot tebuang.

Kotroversial
Masuknya kesenian Tabot pada awal abad ke 18 dibawa oleh tentara Inggris yang umumnya berasal dari etnik Shimphahi, di kaki gunung Himalaya India. Pembawa kesenian Tabot itu bukanlah orang-orang yang beragama Hindu atau Budha yang baik, dan bukan pula orang Islam. Mereka adalah tentara sewaan dan budak tentara Inggris (Gurca) yang dibawa ke Nusantara.

Gurca ini mengenal berbagai kebudayaan di India dan Persia. Kesenian inilah yang dikembangkannya di Bengkulu dan Pariaman Sumatera Barat. Tarian tabot semula hanya berbentuk tarian rakyat dalam rangka menghormati dewa bumi dan dewi padi (dewi Sri sebagai dewi kemakmuran) pada masyarakat tani Hindu. Si penari berlenggang lenggok lemah gemulai memuja sambil menjunjung sebuah miniatur pagoda setinggi 120 cm (sekarang mungkin yang disebut Gerga) di dalamnya terdapat sepasang patung dewa bumi dan dewi Sri. Sementara pada empat sisi miniatur pagoda, terdapat lampu damar. Tarian ini diiringi dengan pukulan gendang yang kencang sehingga terdengar ke seluruh penjuru negeri.

Kesenian ini pada akhirnya dimodifikasi dan dimanfaatkan kolonial Inggris dan Belanda, sehingga bentuknya berubah seperti apa yang kita lihat sekarang. Tabot itu sendiri di Persia tempat Hasan dan Husain cucu Nabi Muhammad SAW wafat di Karbela, tidak dikenal orang sama sekali. Secara jujur kita dapat melihat dari berbagai proses pensakralan dalam prosesi pembuatan Tabot serta ritual pembuangannya di Bengkulu, yang diklaim sebagai salah satu kesenian budaya daerah.

Dari prosesi ritual tabot akan terlihat jelas bagaimana kentalnya budaya Hindu dan Budha melekat dan dibungkus dengan kemasan Islam.Silahkan cermati secara sungguh-sungguh, bagaimana prosesi ritual Tabot di Kampung Berkas dan kampung Kepiri. Di sana terdapat bangunan Stupa (Tangkup sebagaimana yang terdapat di Candi Borobudur), dan pada hari perayaannya stupa tersebut diberi kelambu secara khusus.

Alat Mediasi

Benda sakral seperti ini juga terdapat di salah satu di sudut (sisi) Benteng Marlborough menghadap ke pelabuhan laut lama, juga terdapat sebuah Gerga Batu di Kampung Berkas. Oleh karena itu, tidak tepat kalau Tabot dikatakan merupakan kesenian budaya asli daerah Bengkulu.

Tabot merupakan alat (mediasi) kesenian yang dibungkus secara religius oleh kolonial Inggris dalam menggalang kekuatan rakyat dari ancaman Belanda. Ancaman yang dimaksud adalah gangguan perdagangan rempah yang dilakukan Belanda (VOC) terhadap Inggris (EIC) seperti lada, kopi, cengkeh, pala, kopra pada awal abad ke 18.

Untuk menghimpun kekuatan agar rakyat tetap setia pada Inggris maka diciptakan kesenian rakyat yang berbau sosial religius berupa tabot. Kesenian Tabot ini berbaur dengan kesenian-kesenian rakyat lainnya, sehingga lebih menarik perhatian masyarakat luas Bengkulu. Ditambah lagi dengan iringan gendang (dol dan tamtam).

Dengan menghidupkan kesenian rakyat tabot itu ternyata misi perdagangan Inggris (EIC) yang dibantu penguasanya di Bengkulu berhasil, dan usaha perdagangan dapat berjalan lancar, sekaligus dapat mencegah masuknya Belanda (VOC). Pergantian pemerintahan pada tahun 1824 (dari Inggris ke Belanda) tidak mempengaruhi kesenian Tabot sama sekali.

Benny B, Penulis dan Jurnalis

baca: Tabot Bengkulu dalam Kontroversial Sejarah (3)