Ana

kupasbengkulu.com, Opini – Hidup di zaman materialis kapitalis saat ini yang mana semua kebutuhan hidup semakin mahal dan melambung tinggi. Kondisi inilah yang seakan memaksa para ibu keluar rumah untuk bekerja, sehingga banyak di antara para ibu lalai dengan tugas utamanya sebagai pengurus, dan pengatur rumah tangga.

Anak-anak dititipkan ke baby sister ataupun orang tua mereka, sehingga tidak jarang anak lebih dekat dengan pengasuh dari pada ibunya.

Di sisi lain, ada juga para ibu yang berpendapat mereka bisa menjadi ibu yang baik apabila bisa memenuhi semua kebutuhan anaknya dengan materi. Sehingga mereka berlomba-lomba mencari harta dengan bekerja keluar rumah, yang tujuannya jelas hanya berorientasi pada materi belaka.

Sehingga proses mendidik anak terabaikan, menyebabkan kekerasan dan pergaulan bebas menjadi potret buram kehidupan generasi muda saat ini. Tawuran antar pelajar, seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi, perkosaan, pelecehan seksual, narkoba dan HIV/AIDS menjadi perkara yang lumrah di kalangan remaja saat ini.

Padahal remaja merupakan generasi penerus yang akan menerima tongkat estafet perjuangan dimasa mendatang. Sederet potret buram generasi muda saat ini membuat kita bertanya, siapa yang akan membangun bangsa kedepan kalau generasinya saja sudah hancur.

Semua ini tidak terlepas dari perangkap yang memang sudah didesain sedemikian rupa, buat menghancurkan sendi-sendi keluarga muslim dengan mejauhkan agama dalam kehidupannya.

Dengan Islamlah tugas utama seorang ibu sebagai ummu warobatul bait (ibu pengatur rumah tangga) akan dihidupkan kembali sebagaimana fitrahnya. Yang memberikan pendidikan pada anak-anaknya, terkhusus pendidikan akhlakul karimah mengenalkan jati diri sebagai hambah Allah.

Anak diajarkan kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan santun dan kasih sayang serta kepribadian yang dibangun diatas iman dan takwa. Islam juga memandang wanita adalah mahluk yang mulia karena dia memiliki peran yang luar biasa dalam membentuk kepribadian generasi.

Disamping itu, islam juga mengatur permasalahan ekonomi. Islam mewajibkan Negara untuk memenuhi seluruh kebutuhan primer rakyatnya sehingga kesejahteraan akan mudah untuk didapat.

Generasi unggul dan cemerlang bisa terlahir karena pola pendidikan yang benar, salah satunya dengan peran keluarga terutama peran ibu.

Hal ini hanya bisa terwujud ketika islam dijadikan pedoman kehidupan dibawah naungan khilafah, karena sistem kapitalisme-sekulerisme hanya bisa menjamin kerusakan saja.

Dengan “Hari Ibu”, semoga para wanita sadar dan disadarkan akan peran dan tugasnya yang mulia yaitu sebagai ummu warobatul bait dan berjuang bersama-sama menegakkan peradaban islam secara kaffah.Amin.(**)

Penulis: Hasanah (Ana) (Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia/MHTI DPD I Bengkulu)