oleh

Asean-Japan Youth Forum Akan Hasilkan Rekomendasi untuk Dunia

ASEANKota Bengkulu, kupasbengkulu.com – The Asean-Japan Youth Forum tahun 2015 tengah berlangsung di Kota Bengkulu, Indonesia. Seratus pemuda dari 11 negara harus mengikuti tahap seleksi untuk bisa menjadi peserta, salah satunya dengan mengajukan esay yang menjadi topik bahasan dalam forum pemuda berkelas internasional ini.

Direktur Indonesian Student Youth Forum, Fajar Kurniawan, mengatakan selama ini belum ada daerah yang betul-betul identik dengan pembangunan para pemuda, sehingga dengan berlangsungnya kegiatan ini di Bengkulu, dapat menjadikan Bengkulu sebagai inisiator daerah pembangunan pemuda. Terlebih Bengkulu memiliki sejarah yang luar biasa, di mana bapak Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno pernah diasingkan di Bengkulu dalam waktu yang cukup lama. Tidak hanya itu, ibu negara Fatmawati, yang merupakan puteri asli Bengkulu, merupakan penjahit sang saka merah putih yang dikibarkan pada hari kemerdekaan RI.

“Pemuda merupakan market yang luar biasa. Hari ini dan akan datang, isu pemuda merupakan isu strategis karena pemuda selalu bisa dimasukkan atau diidentikkan dengan isu apapun di dunia. Kita berharap terjalin kerjasama antar pemuda, masyarakat dengan masyarakat, sehingga kerjasama global bukan hanya sekedar bisnis. Forum ini harus menghasilkan rekomendasi untuk digunakan pada pertemuan yang tingkatannya lebih tinggi,” jelas Fajar, Kamis (05/03/2015).

Sementara, Direktur Informasi dan Media, Kementerian Luar Negeri RI, Siti Sofia Sudarma, mengatakan pertimbangan Bengkulu disetujui menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asean-Japan Youth Forum 2015, melihat inisiatif yang luar biasa dari para pemuda Bengkulu. Para pemuda turut aktif dalam membahas isu-isu global yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah.

“Kita melihat antusias yang besar dari pemuda untuk ikut berperan dalam membangun Indonesia, terlebih dalam mempersiapkan diri jelang MEA,” katanya.

Tidak hanya itu, Miss Aigoto dari Asia Centre Japan Foundation, mengungkapkan keterlibatan Jepang dalam acara ini karena Jepang ingin ikut serta membangun komunikasi dan koneksi, serta kerjasama ke depan antar pemuda. Mereka melihat
pemuda Asean, khususnya Indonesia sangat proaktif, sehingga diharapkan terbangun konsep saling belajar di antara keduanya.

Yosuko Ohkubo, peserta asal Jepang, mengaku sangat senang ikut terlibat dalam forum ini. Ini merupakan kali pertama dirinya menginjakkan kaki di Bengkulu dan sangat bersemangat untuk mengeksplorasi keindahan alam Bengkulu.

Begitu juga dengan Alheru. Pemuda asal Indonesia ini mengaku mempersiapkan esay tentang ‘bahasa ibu’ atau bahasa asli daerah yang saat ini hampir punah. Padahal segala sesuatu yang sifatnya etnik dapat menjadikan suatu daerah terkenal dengan budaya aslinya.

“Dengan terus dikembangkannya bahasa daerah di suatu daerah tentunya ini dapat menjadikan keunikan tersendiri. Orang dari luar dapat langsung datang dan belajar bahasa daerah dengan orang asli di daerah tersebut. Bahasa daerah tidak boleh punah,” tandasnya. (val)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

one × one =

News Feed