warga Tebing Kaning

Warga Bengkulu Utara ini butuh uluran tangan untuk mengobati penyakitnya.

Bengkulu Utara, kupasbengkulu.com – Menyambangi dikediaman Muladi (38) warga Desa Tebing Kaning Kecamatan Arma Jaya Kabupaten Bengkulu Utara, Senin (3/11/2014) sekitar pukul 08.12 WIB sungguh memiluhkan.

Sakit yang diderita Muladi, disebabkan pergeseran tulang belakang dan kedua belah kaki. Akibatnya, ia tidak dapat beraktivitas untuk bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Dari hasil pengakuan Muladi kepada kupasbengkulu Utara, pergeseran tulang dan kedua kaki disebabkan jatuh saat panjat Pinang tanggal 21 Agustus yang lalu. Dimana, desa mengadakan kegiatan memeriahkan HUT RI dengan mengakan acara panjat piang.

Ia bersama dengan rekannya membentuk kelompok untuk mengambil hadiah yang ada diatas batang pinang. Saat itu ia berada pada posisi kedua setelah temannya dibabgian bawah. Ketika urutan yang keempat naik dan teman dibagian bawah mulai mengangkat tubuh, tiba-tiba yang bagian atas lepas dari genggaman pada batang langsung terjatuh menimpah dirinya.

“Saat itu saya pada urutan nomor 2. Dua teman yang ada diatas terjatuh menimpah tubuh saya. Begitu kejadian itu, sekujur badan saya langsung kaki dan saya tidak dapat menggerakan badan,” ungkap Muladi.

Ia menambahkan, setelah kecelakaan itu, ia langsung dilarikan oleh keluarga ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Bengkulu. Selama tiga hari dalam perawatan tidak juga ada perubahan yang dapat mengembalikan kondisi sebelum kejadian.

Lantas oleh keluarga dibawah pulang. Namun,setelah di rumah,Ia pun tidak bisa berbuat apa apa. Jangankan untuk berdiri dari tempat tidur,duduk harus dibantu oleh istri. Sejak kejadian, hingga saat ini, waktunya sudah hampir 4 bulan terbaring ditempat tidur. Untuk memenuhi kebutuhan hidup,hanya mengharapkan bantuan dari tetangga.

“Sudah 4 bulan saya tidak bisa menari nafkah. Selama ini saya bertatni sawah. Malam harinya saya jaga malam di rumah dinas Ketua DPRD. Sejak saya sakit ini, saya dikeluarkan dari jaga malam,” terang Muladi, sambil mengusap air matanya.

Muladi yang hidup bersama dengan 1 orang istri dan 2 orang anak dan satu orang tuanya yang sudah uzur, tentu sangat mengharapkan batuan dari pihak pemerintah untuk mengembalikan fisiknya seperti sedia kalah.

Sementara sang istrinya mengakui, tidak dapat membantu suami untuk mencari nafkah lantaran tidak tegah untuk meninggalkan suaminya yang membutuhkan pertolongan. Dua orang anaknya masih kecil dan masih perlu bimbingan orang tua.

Kepiluan serta kekalutan dalam menghadapi coban semacam itu,Muladi memerlukan biaya untuk berobat. Tulang belakang yang bergeser serta kedua kakinya saat ini dalam keadaan bengkak. Uang tabungan tidak ada, berobat butuh biaya.(jon)