illustrasi: sumber internet

illustrasi: sumber internet

Oleh Firmansyah*

“Jurnalis, tak hidup di ruang hampa, ia tak berdiri sendiri,” demikian satu pernyataan direktur The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), atau komunitas wartawan lingkungan hidup, Igg Maahadi, di Bengkulu.

Tiba-tiba saya teringat sebuah tulisan dalam buku Parni Hadi, seorang wartawan senior, dengan bahasa Jurnalisme Profetik atau jurnalisme kenabian, sangat idealis.

Jurnalisme ini kata dia meneladani akhlak para nabi dan rasul semua agama yang bertugas menyampaikan kabar gembira, memberi peringatan, mengajak orang berbuat kebaikan dan memerangi kebatilan.

Tugas tersebut kata Parni sama dengan jurnalis bila dirujuk pada fungsi pers dan kode etik yang bersifat universal itu. Pada dasarnya wartawan adalah pewaris dan penerus tugas kenabian. Mengemban profesi wartawan cukup berat. Dibutuhkan ketangakasan fisik, kecerdasan emosional, dan juga spiritual dengan mendengar hati nurani sebagai penuntun.

Perdebatan apakah jurnalis harus berdiri netral pada objek liputannya belakangan mulai dipertanyakan para jurnalis. Berkembang pemikiran, bahwa jurnalis saat ini tidak lagi bertugas sebagai tukang kumpulkan data, membuat laporan/berita lalu menyebarkannya.

Tugas jurnalis menurut mazhab ini menyatakan jurnalis harus ikut terjun melibatkan diri dalam fenomena sosial dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Jurnalis juga harus mendorong upaya perbaikan pada gerakan sipil yang memberikan jalan keluar.

Tak ada lagi dalam pandangan kelompok ini, jurnalisme hanya untuk jurnalisme, namun jurnalisme harus berperan dalam upaya menodorong terjadinya gerakan sipil yang universal, menghargai HAM, dan santun. Jurnalis harus menjadi pemecah masalah dalam lingkungan sosialnya.

Selama ini dalam beberapa pengalaman penulis yang memang tak begitu lama menggeluti dunia jurnalis, kami para jurnalis kerap kali gagal menuliskan sebuah laporan secara baik dan benar karena ketidakmampuan memahami sebuah objek liputan.

Sebagai contoh dalam komunitas masyarakat adat yang bermukim di wilayah taman nasional, media seringkali menuliskan komunitas itu sebagai perambah, suku terasing, dan lainnya. Padahal dalam pandangan masyarakat adat ungkapan tersebut amat menyakitkan. Begitu juga liputan-liputan seperti perkara korupsi, kejahatan lingkungan hidup, perempuan, HAM dan sebagainya.

Hidup menjadi jurnalis diakui sangat unik di satu sisi ia diminta untuk bersikap idealis pada kebenaran namun di sisi lain kepentingan bisnis perusahaan media menjadi musuh utama para jurnalis.

Pada kondisi ini wajar misalnya beberapa organisasi jurnalis seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mendorong agar para jurnalis membuat media alternatif yang murah namun dapat mengimbangi media arus utama yang terkadang dituding tak begitu jujur.

Jurnalis ke depan didorong untuk menlahirkan laporan-laporan yang mencerahkan, menginspirasi dan menguatkan kesetiakawanan sosial. Ini juga bagian dari tugas berat di tengah derasnya banjir informasi akan “jurnalisme cantik atau jurnalisme seksi”.

Pada kondisi ini tak ada salahnya publik juga harus ikut merangkul jurnalis memberikan pemahaman, dan jangan pelit untuk berbagi pengetahuan tentang apapun terhadap jurnalis agar tulisan-tulisan kami semakin menyehatkan.

*Penulis adalah warga Bengkulu dikutip dari website pribadi penulis sudutruang.com