Nelayan Pasar Malabero, Kota Bengkulu

Nelayan Pasar Malabero, Kota Bengkulu

Bengkulu, kupasbengkulu.com – Agustamar dan Jhoni, nelayan Kelurahan Teluk Sepang, Kota Bengkulu, baru saja merapatkan perahu kecilnya berdaya jelajah maksimal tiga mil ke tepi
pantai, tak ada senyum pagi itu, hanya beberapa ikan kecil yang mampu ia tangkap dan jual.

“Setelah dijual ikan itu dihargai Rp 25 ribu, uang ini harus kami bagi bertiga, sementara modal berangkat Rp 150 ribu artinya kami tekor,” kata Agustamar saat ditemui di rumahnya, Senin
(10/11/2014).

Melepas penat dan kecewa karena tangkapan tak maksimal ia tumpahkan dengan memperbaiki jaring yang tampak rusak di beberapa bagian.

“Inilah penderitaan kami, sudah satu minggu kondisi cuaca buruk saya nekat saja melaut karena kalau tidak melaut keluarga makan apa?” kata Agustamar.

Ia menambahkan selain tangkapan yang semakin menurun, rencana pemerintah menarik subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) juga cukup mengganggu ketenangan keluarga nelayan. Bagaimana tidak, menurutnya, jika BBM naik maka semua kebutuhan keluarga akan ikut pula naik.

“Saat ini saja belum BBM naik, kami begitu kesulitan, sering berangkat melaut tak membawa hasil, apalagi jika BBM naik, saya khawatir anak-anak kami banyak jadi perampok,” lanjutnya.

Ia juga sebutkan beberapakali ia menasihati anaknya yang saat ini baru saja tamat SMU untuk bersabar melanjutkan profesi nelayan seperti dirinya, dan tidak menjadi perampok.

Agustamar merupakan nelayan tradisional memiliki perahu berukuran panjang tujuh meter, lebar 1,6 meter dan hanya mampu menjelajah laut sejauh tiga mil. Setiap berangkat ia harus

mengeluarkan tidak kurang Rp 150 ribu.

Selain rencana kenaikan BBM, aktifitas pengambilan ikan menggunakan jaring jenis trawl atau dikenal pukat harimau juga cukup meresahkan para nelayan itu.

“Aktiftas penggunaan trawl semakin tinggi, dalam satu hari berkisar 50 kapal menggunakan alat ini,” kata Agustamar.

Ia menjelaskan, kami diberikan pesan oleh orang tua kami dahulu yang juga nelayan jika mengambil ikan jangan merusak termasuk menggunakan trawl yang dapat merusak terumbu
karang dan ikan kecil.

“Jika tak percaya ayo ikut saya melaut akan saya beri tahu mana saja kapal yang menggunakan trawl,” jelasnya.

Selanjutnya, nelayan juga meminta pemerintah daerah dan TNI-AL memerangi kegiatan penangkapan ikan menggunakan trawl yang merugikan nelayan kecil dan lingkungan hidup.

Trawl adalah jaring penangkap ikan yang selama ini dikenal pula dengan sebutan pukat harimau.Menurutnya, perang antara nelayan kecil dengan pengguna trawl pernah pecah sekitar tahun

2000 di Bengkulu, beberapa kapal pengguna trawl dibakar oleh nelayan kecil yang marah karena tindakan tersebut.

Namun memasuki tahun 2013, penangkapan ikan menggunakan trawl semakin berani saja. Mereka meraup ikan dengan jala tarik di belakang kapal itu hingga ke bibir pantai. Akibatnya,

terumbu karang rusak dan ikan-ikan kecil pun ikut terangkut.

Akibatnya habitat dan populasi ikan yang jadi andalan nelayan kecil terancam. Bagi nelayan setempat berpindah matapencahariaan cukup berisiko karena kemampuan yang mereka miliki
hanya melaut, sementara untuk membuka usaha seperti budidaya ikan air tawar mereka selalu terkendala dengan modal.

“Kami tak memiliki modal, untuk kebutuhan sehari-hari saja kami harus berhutang,” pungkasnya.

Sementara itu Komandan Angkatan Laut Letkol (P), Amrin, R.H, disinggung persoalan maraknya trawl di perairan Bengkulu membenarkan hal tersebut. Ia menyatakan justru pelaku pengguna trawl tersebut adalah nelayan kecil itu sendiri.

“Saya tahu banyak nelayan Bengkulu sendiri yang menggunakan trawl, jika mereka saya tindak berdasarkan aturan, kasihan juga hasil penelusuran intelijen kami mereka itu justru nelayan kecil, pendekatan persuasif yang akan kami lakukan mengatasi persoalan ini,” demikian Amrin.(kps)