Peta Abad 18 Masehi.

Peta Abad 18 Masehi.

Penulis: Benny Hakim Benardie

Dalam beberapa literatur kuno disebutkan tentang keberadaan Jabadiou atau Javadwipa, seperti yang diberitakan para pelaut dan pedagang asing di masa sebelum Masehi yang singgah di Negeri Seribu Pulau, Nusantara ini.

Dalam Kita Taurat (600 sM) mengkisahkan bagaimana Nabi Sulaiman As pernah memerintahkan pada pelaut Phoenisia untuk berlayar ke seluruh penjuru bumi untuk mencari Negeri Ophir untuk menggali emas.

Negeri Ophir merupakan suatu negeri yang kaya emas. Nabi Sulaiman pernah menerima emas dari seorang Raja Tirus bernama Hiram.

Dalam kitab Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9 diterangkan kalau Raja Solomon atau Nabi Sulaiman, raja bangsa Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, Raja Tirus, raja bawahannya.

Diceritakan bahwa emas upeti itu didapatkan dari negeri Ophir, suatu negeri yang diberkati Tuhan dengan kekayaan emas dan kesuburan tanahnya. Negeri itu berada si seberang Samudera, yang ternyata itu adalah Nusantara Indonesia.

KIsah pencarian Emas itu juga tertuang dalam Kitab Hindhu syair Ramayana yang ditulis dalam Bahas Sangsekerta, ditemukan 106 Tahun sebelum kelahiran Nabi Isa As (30-6 Sebelum Masehi di Hindhustan.

Dalam syair Ramayana itu di sebutkan, “Periksalah baik-baik Javadwipa yang mempunyai tujuh buah kerajaan (Negeri) yaitu Pelau Emas dan Pulau Perak. Negeri Ini dihiasi tukang-tukang emas”.

Javadwipa di Sumatera
Seorang Ahli Bumi Bangsa Yunani, Claudius Ptolemeus kelahiran Iskandariah Mesir yang kala itu tinggal di Alexsandaria juga menyebutkan tentang keberadaan tentang Javadwipa ini.

Pada 165 Masehi, Claudius Ptolemeus telah menyebutkan dalam peta adanya “Golzden Chersonese atau Pulau Emas di Javadwipa atau Jabadiou. Kata Jabadiou itu diambil dari Bahasa Sangsekerta. Jaba berarti Enjelai dan Diou berarti Tanah.

Claudius Ptolemeus menyebutkan, ‘Kabar pulau itu amat subur tanahnya dan banyak mengandung emas. Mempunyai Ibu Negeri yang bernama perak dan pada sebelah baratnya terdapat sebuah penyeberangan”.

Pertanyaannya, dimanakah negeri yang dimaksud?

Seorang pengembara Cina bernama Fa-Chien di Tahun 414 Masehi sempat menceritakan pengalaman pertualangannya melintasi Selat Sunda dan Singgah di Banten yang sebelumnya Jawa Barat, mengatakan kalau dirinya singgah ke Javadwipa.

Dalam literatur Cina kuno disebutlkan, pada 435 Masehi, Kerajaan Tarumanegara pernah mengirim untusannya ke Negeri Cina, untuk meningkatkan hubungan dagang dan sempat mengirim upeti ke Negeri Cina berupa emas dan Gading.

Sementara Pulau Sumatera pada zaman purba disebut Pulau Swarnadwipa, yang juga berarti Pulau Emas.

Dalam Buku “Sejarah Maritim Indonesia” yang diterbitkan Dewan Maritim Indonesia (DMI) Tahun 2004, Departemen Kelautan dan Perikanan RI, yang ditulis Hakim Benardie menyebutkan, antara tahun 264 – 195 sebelum Masehi (sM) telah ada negeri yang bernama LU-SHIANGSHE.

Kata ini dalam terjemahan bebasnya berarti Negeri Sungai Harum (wangi) atau Sungai Kejayaan atau Sungai yang memberi kehidupan/harapan atau Sungai Emas.

Negeri LU-SHIANGSHE dalam naskah kuno India menyebutnya dengan Negeri Kerajaan Emas di Yavadha (Pulau Sumatera). Negeri ini terletak dipesisir barat Pulau Sumatera. Itulah Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu yang sangat mungkin salah satu Negeri Ophir di Javadwipa tersebut.

Jurnalis