Maskun Iskandar/foto: antara

Maskun Iskandar/foto: antara

Maskun Iskandar*

“Saya ingin sekali menjadi penulis, tetapi tak punya bakat,” tulis Ance dalam e-mail yang dikirimkan kepada saya ke Jakarta. “Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat. Dada ini rasanya penuh sesak, penuh ide. Namun, ketika saya tulis tak satu pun surat kabar yang mau memuatnya. Adakah cara belajar menulis dengan cepat?”

Saat membaca surat tersebut tiba-tiba-cleng-!-pikiran saya melayang jauh ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Terbayang seorang gadis yang kulitnya seputih lilin, aktivis lingkungan hidup yang lincah seperti bola bekel. Ya, sebagaiaman isi suratnya ia punya semangat. Semangat yang padat dan kuat.

Tulisan-tulisan yang Enerjik

Saya senang dengan semangat anak muda seperti itu. Saya fikir ini semangat R.A. Kartini. Simaklah tulisan Kartini yang bergelora seperti ombak. Ombak itu pucuknya menjulang, suara berdebur, dan mampu mengubah kelembutan air menjadi tenaga yang dahsyat. Ini yang membedakan Kartini dengan pahlawan perempuan lain. Kelahiran Kartini menjadi tonggak perjuangan perempuan Indonesia yang menginspirasi dunia.

Hari kelahiran Kartini diperingati (21 April) karena tulisannya yang dibukukan, Habis Terang Terbitlah Terang, tulisan itu menginsiprasi jutaan perempuan, tanpa tulisan itu apakah nasib perempuan Indonesia semaju sekarang?

Tulisan mampu mengubah keadaan, baik itu mengarah pada kebaikan atau keburukan. Banyak orang yang mengakui itu. Misalnya, tulisan Malcom Cowly dan Bernard Smith dalam bukunya Books that Changed Our Minds, Horqace Shipp (Books That Moved the World), Robert Downs dan banyak lagi.

Satu buku yang membuat perubahan itu ialah Mein Kampf (Perjuanganku) ditulis Adolf Hitler, semasa sembilan bulan meringkuk di penjara. Hitler mengunggulkan ras Aria dan menyebarkan kebencian terhadap Yahudi. Buku tersebut laris manis. Saat pecahnya perang dunia II dan edisi Jerman saja tidak kurang dari lima juta eksemplar habis terjual. Wuih, luar biasa banyak. Jadi, ya, banyak pula orang yang dicekoki oleh pikiran Hitler. Lalu, apa akibatnya? enam juta Yahudi di Eropa dibunuh.

Buku itu pula menyulut Perang Dunia II. Perang yang membuat dunia porak-poranda dan mengerikannya lagi: perang telah membantai 16 juta orang.Pengaruh tulisan sungguh dahsyat, jagoan perang, Napoleon Bonaparte, pernah berujar, “Saya Lebih takut pada sebuah pena ketimbang seribu pedang,”

Baik buruknya pengaruh tersebut tentunya tergantung pada motivasi seorang untuk menjadi penulis. Kartini dan Hitler memiliki motivasi yang berbeda. Bagaimanapun lewat tulisan keduanya menjadi ternama. Tanpa tulisan Kartini tak akan kelahirannya diperingati secara nasional, begitupula Hitler tanpa tulisan itu mungkin ia hanya menjadi tukang cat di wilayah Austria.

Ini contoh tulisan dan buku yang berpengaruh dan enerjik seolah dialiri listrik, sehingga mampunyai daya gerak. Sebut saja Siti Nurbaya tulisan Marah Rusli tahun 1922. Dokter hewan ini menentang segala yang kuno, menentang adat yang mereka rasakan sebagai kungkungan yang menyakiti dan bukan lagi sebagai ukuran yang sudah selayaknya. begitu tulis Dr. C.Hooykas (perintis sastra).

Roman tersebut terkenal sampai saat ini, berkali-kali dicetak ulang, ditonilkan (sandiwara). Bahkan anak gadis jaman sekarang bisa menolak paksaan menikah dari orang tuanaya dengan kalima, Mama ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi.

Contoh lainnya, sebuah tulisan yang menggegerkan Amerika Serikat, Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe yang memulai menulis sejak usia 13 tahun. Buku ini mengisahkan penderitaan budak negro. Saat bertemu dengan Presiden Lincoln di Washington, Lincoln Berucap, “Oh ini kiranya wanita mungil yang mengobarkan perang besar itu.” Buku ini pulalah selanjutnya meledakkan perlawanan terhadap perbudakan meletupkan perang saudara (1861-1865).

Mereka adalah para penulis yang mempunyai keinginan merubah keadaan sekililing dan mereka berhasil.

Morivasi Menjadi Penulis

Ance mempunya motivasi ingin mengubah keadaan di sekitarnya. Ia prihatin atas penyerobotan tanah rakyat oleh perusahaan perkebunan kepala sawit. Ia kesal kepada para penambang emas yang membuang limbah tanpa diolah. “Saya tak ingin tragedi Minamata Terulang di sini,” tulisnya suatu hari. Permasalahan kian membiak untuk menulis ia tak punya bakat.

Untuk menulis sehalus sutra diperlukan bakat, tapi bakat bukan segalanya dan bukan satu-satunya. Paling penting harus bekerja keras. Kerja keras tidak mudah putus asa. Contoh Jules Verne dijuluki Bapak Fiksi Ilmiah Modern. Ia mempunya kebiasaan menulis setiap subuh. Bayangkan berapa banyak kertas menumpuk bila setahun saja ia menulis.

Bisa dibayangkan berapa banyak uang yang ia hasilkan. Uang? oh tidak! sudah 17 tahun ia mulai menulis. Tidak ada penerbit sudi memuat tulisannya. Tetapi ia terus menulis, dan menulis. Barulah pada usia 34 tahun, jadi setelah 17 tahun, ada penerbit yang bersedia mencetak bukunya yang pertama, Lima Minggu di dalam Sebuah Balon (1863). Setelah itu ia panen karena tulisan model baru (saat itu), yakni fiksi ilmiah. Tulisannya terkenal lainnya, Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari dan Perjalanan ke Bulan.

Ia menulis untuk menyalurkan fantasinya. Ketika kecil ia tinggal di dekat pelabuhan. Suatu ketika ia bertemu dengan pemuda yang pulang dari India. Si pemuda bercerita tentang yang aneh-aneh. Verne kecil tertarik mendengarkannya. Ia ingin sekali pergi ke India. Tetapi dilarang orang tuanya. Ia bahkan pernah nekat melarikan diri untuk bertualang namun dapat dijemput kembali oleh orangtuanya.

Verne berjanji tak akan mengulangi tindakannya, kecuali ia akan terus bertualang dalam dunia fantasinya yang “liar”. Kemudian dengan fantasinya ia mengarungi dunia menggunakan balon angkasa, piknik ke bulan dengan kendaraan luar angkasa. Fantasinya yang liar dan ia tuliskan itulah menginspirasi temuan balon udara, dan misi perjalanan ke luar angkasa, luar biasa.

Alur pikirannya yang ia tulis mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Tanpa tulisan dari fantasinya itu tak akan ada kapal selam, radar, kendaraan ruang angkasa, kapal terbang, bahkan internet yang kita gunakan saat ini.

Selain motivasi menjadi penulis harus dibekali dengan mempunyai ketertarikan pada keadaan sekelilingnya, mencintai bahasa, dapat dipercaya (benar, akurat dan objektif), Kritis (Tak mudah percaya menerima informasi, verifikasi diperlukan), Gigih dan Bersahabat.Menembuskan Ide ke Orang Lain

Ada empat faktor yang menentukan tulisan dapat dimuat di media massa. Begitupula dalam perlombaan menulis. Pertama, ide yang baik, isi tulisan yang berbobot, Kepiawaian menulis, Bahasa yang efektif dan komunikatif. Tulisan seperti ini biasanya ditemukan dalam bentuk feature.

Selain itu dibutuhkan pula, ide yang baik, orisinilitas, berdampak, unik, baru, bermanfaat.

*Pengajar Lembaga Pers Dr. Soetomo, tulisan ini di kupasbengkulu.com telah dipersingkat