Desa Langgar Jaya

Desa Langgar Jaya

kupasbengkulu.com – Petalangan Langgar Jaya hingga bisa menjadi salah satu desa di Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, adalah buah manis dari kerja keras dan kesabaran 22 kepala keluarga (KK) sejak tahun 1986 lalu.

Sebelum melangkah ke bagian kegigihan, kesabaran dan kekompakkan 22 KK itu, baiknya kita mulai dari cikal bakal nama petalangan atau desa yang berawal dari nama sebuah bangunan langgar atau tempat ibadah yang dibangun oleh 22 KK selaku penduduk awal dikawasan perkebunan ini.

Pemberian nama langgar jaya itupun dimaknai dari keberhasilan pengolahan lahan dan ketakwaan warganya selaku pemeluk agama Islam. Kemudian, nama langgar jaya dijadikan sebagai penunjuk tempat atau alamat bagi warga petalangan atas lokasi perkebunan mereka.

Lama kelamaan, nama petalangan Langgar Jaya dikenal oleh banyak masyarakat terutama untuk di wilayah Kecamatan Bermani Ilir dan sebagian kecil Kecamatan Muara Kemumu, Kepahiang.

“Petalangan langgar jaya saat itu, sudah menjadi identitas kami selaku penduduk awalnya,” kata salah seorang warganya, Salim.

Memasuki ke bagian kegigihan dan kekompakkan ke 22 KK selaku penghuni awal petalangan langgar jaya, berdasarkan atas kemauan tinggi warganya dalam mempertahankan hidup mereka sebagai warga perantau dari Pulau Jawa, Sumatera Selatan dan dalam daerah Provinsi Bengkulu.

Bagaimana tidak ? kawasan perkebunan ini dulunya digambarkan tidak hanya terpelosok dan ditumbuhi oleh semak belukar dan tinggi menjulangnya pepohonan, melainkan juga terletak jauh dari keramaian, lantaran berada dikawasan perbukitan.

“Awalnya kami tidak pernah bisa berpikir, petalangan ini dapat menjadi sebuah desa. Setahunya kami, sekedar ingin mempertahankan hidup keluarga kami di negeri orang,” ujar Salim.

Sedikit gambaran lagi, masyarakat di Desa Langgar Jaya yang letaknya 3 kilometer dari Kota Kepahiang dan 9 Kilometer dari desa induk, Desa Cinta Mandi, belum merasa terbebas lepas dari masa-masa di 28 tahun yang lalu, menyangkut kondisinya masihlah terpelosok dan terpencil dari desa-desa lainnya, karena belum adanya peningkatan infrastruktur jalan. Dari kondisi infrastruktur ini, disebut-sebut sebagai faktor masyarakat belum ingin meningkatkan pembangunan tempat tinggal mereka sehingga masih terkesan sebagai sebuah petalangan.(cr11)