Maskun Iskandar/foto: antara

Maskun Iskandar/foto: antara

Maskun Iskandar*

“Saya ingin sekali menjadi penulis, tetapi tak punya bakat,” tulis Ance dalam e-mail yang dikirimkan kepada saya ke Jakarta. “Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat. Dada ini rasanya penuh sesak, penuh ide. Namun, ketika saya tulis tak satu pun surat kabar yang mau memuatnya. Adakah cara belajar menulis dengan cepat?” begitu curhat Ance dibagian pertama tulisan ini.

(Baca juga: Saya Ingin Menjadi Penulis Adakah Cara yang Cespleng?)

Tulisan yang Berisi dan Berbobot

Bobot tulisan itu ditentukan oleh bagaimana mencari bahan tulisan. Contohnya berikut ini? Kita tahu bahwa Amerika Serikat ada penghargaan jurnalistik bergengsi yang disebut “Hadiah Pulitzer”. Pulitzer adalah wartawan yang sangat dihormati. Ini kisahnya pertama kali menjadi wartawan.

Pulitzer ketika itu berusia 21 tahun berpenampilan culun, kurus tinggi, duduk di sebuah kursi reyot dengan tangan gemetar memegang lutut. Ia sedang menghadap seorang redaktur yang mengujinya sebagai wartawan. Kesan Redaktur: pemuda ini kaku dan bodoh. maka ujar redaktur, “Tadi malam ada pencurian di Toko buku Roslein. Coba kamu pergi ke sana, cari cerita yang menarik dari orang yang namanya Peters, kamu jangan cari sendiri tak akan bisa,” kata Redakturnya.

Pulitzer segera meluncur. Di tengah kerumunan orang di depan toko buku tampak sekumpulan orang berpakaian necis dan kaku, dagu terangkat persis seperti burung merak, membawa buku catatan dan potlot, mereka itu para wartawan senior. Tak ada seorang pun diantara mereka yang sudi menjawab pertanyaan Pulitzer.

Peters merupakan koordinator wartawan. Pada waktu itu di St. Louis, Amerika Serikat, polisi hanya memberi informasi hanya kepada Peters, kemudian dari Peters informasi disampaikan pada wartawan.

Ketika Peters keluar dari dalam toko usai mewawancarai polisi, wartawan lain mengerubunginya. “Tak banyak informasi yang didapat pagi ini,” katanya. Perampokan terjadi pagi tadi sebelum Pak Roslein tiba di tokonya. Kunci pintu dibuka paksa, peti besi dibuka, uang 175 dolar lenyap. Pak Roslein mencurigai orang yang mondar-mandir tengah malam di depan toko ini. Orangnya tinggi, berambut kuning keemasan, di pelipisnya ada cacat luka.Polisi juga mencurigai orang itu. Sudah kalian catat?”

“cuma itu, Peters? tanya para wartawan.
“Ya, cuma itu.”

Para wartawan kemudian pulang. Pulitzer kebingungan. Ia tak tahu apa yang harus diperbuat. Redaktur juga tak memberi arahan apa yang harus diperbuat selanjutnya. Ia heran para wartawan yang terhormat itu pulang begitu saja, sedangkan dari pikiran dia keterangan dari Peters banyak tak jelas. Maka dengan teramat takzim ia mendekati Peters dan bertanya.

“Maaf Tuan Peters, Saya Joseph Pulitzer dari harian Westliche Post. Baru hari ini saya bekerja. Boleh saya bertanya mengapa polisi mencurigai orang yang berambut keemasan?”

Peters tertegun mendapt pertanyaan itu. “Mengapa? ya…ya….ya….mengapa. Tadi tak terpikir oleh saya untuk bertanya mengapa. hem…..begini saja. kamu tanyakan saja langsung pada polisi. Tuh, Mumpung masih ada di dalam toko,”

Pulitzer bergegas. Hampir saja ia menubruk polisi berperawakan gendut di balik pintu.

Polisi itu tentu saja marah dan memerintahkan Pulitzer keluar, Pulitzer katakan bahwa ia butuh beberapa data tambahan. Sempat terjadi adu mulut antara Pulitzer dan polisi, karyawan toko menghampiri mereka. Mengetahui keinginan Pulitzer pemilik toko bersedia diwawancarai dan Pulitzer memulia bertanya. “Jam berapa persisnya kejadian itu?”

“Saya tak tahu persisnya tapi kira-kira pukul 06.00 pagi soalnya saat Pak Roslein tiba jam 7 pagi gembok telah rusak. Jam 5 pagi satpam memeriksa kunci dalam keadaan baik,” jelas karyawan.

“Yang buka pintu?” tanya Pulitzer. Polisi bertanya pada Pak Roslein, “Apakah bapak punya pembantu?”

“Iya pak, Jhon Eggers namanya. Hari ini ia tidak masuk. Kemarin minta izin karena tidak enak badan,” jawab Pak Roslein.

“Pak, mengapa tadi anda bilang tak punya pembantu,” jawab Polisi.

“Maaf pak saya kira itu tidak penting lagipula ia sedang sakit.”

“Apakah Jhon tahu nomor peti besi?”

“Oh, ya, saya selalu beritahu dia, karena ia kasir dan orangnya jujur,” kata Roslein.

“Saya bertaruh pencurinya Jhon, Dia sekarang sudah pergi ke arah barat naik kereta api pukul 7 pagi. Besok akan saya tangkap,” kata Polisi.Pulitzer tak menunggu keterangan polisi. Ia menyewa kereta kuda ke stasiun. Ia bertanya pada orang-orang di stasiun, apakah melihat Jhon yang ciri-cirinya, begini…begini..begitu…

Beberapa orang mengatakan mereka melihat Jhon. Setelah itu Jhon pulang ke kantor dan menuliskan beritanya sepanjang setengah kolom.

Esoknya, redaktur Westliche Post, koran berbahasa Jerman itu mencak-mencak. Ia memarahi Pulitzer. “Mengapa kamu tak ikuti kata saya? bukankah telah saya katakankamu cukup temui Peters. Tak usah bertingkah macam-macam. akibatnya koran kita hari ini ditertawakan orang. Berita yang kau buat berbeda dengan orang lain. Semua mengatakan pencurinya orang kurus, rambut kuning keemasan…eh, kamu nulis yang lain. Tahu tidak, ini bisa mengacaukan pekerjaan polisi. Merusak reputasi koran kita….”

Pulitzer diam saja.

Pak Redaktur melaporkan tindakan Pulitzer ke atasan. Sang atasan membaca sepintas semua koran yang memuat berita pencurian itu. “Wah, kamu ternyata membuat kesalahan buruk sekali, bagaimana bisa begini,” kata atasannya. pada Pulitzer.

Saat Pulitzer bercerita, tiba-tiba terdengar suara menyela dari arah pintu. “Anak ini benar. Baru saja saya bertemu dengan pemilik toko buku. Ia mengatakan bahwa pencurinya telah ditangkap dan mengaku di hadapan polisi. Pencurinya ya, si Jhon seperti yang tertulis di koran kita.  Saya kira koran kita besok harus memuat bagaimana wartawan kita membantu polisi menangkap pencuri.”

Walhasil, Pulitzer dinilai berhasil. Pertama karena kritis, tidak begitu saja menerima keterangan. Lalu ia mempunyai inisiatif mengecek kebenaran tentang perkiraan polisi mengenai si Jhon yang pergi ke stasiun dan ada yang melihat si Jhon naik kereta api. Ketiga, Eksklusif yang informasinya tak ada di koran lain.

Ini menunjukkan wartawan yang kreatif dan tidak hanya menuliskan apa yang diucapkan oleh orang atau pejabat. Kita kerap melihat jurnalis berkumpul menunggu sebuah sidang lalu saat sidang selesai seorang menteri keluar lalu ramai-ramai jurnalis mewawancarainya dan esok tulisan semua media sama. Begitu juga dengan konfrensi pers. Jarang ada yang bertindak seperti Pulitzer.

Umpamanya, pagi ini ada peristiwa pembunuhan. Mendapatkan keterangan dari kepolisian lalu menangkap pelaku. Setelah mendapatkan informasi tersebut ada baiknya kita mendatangi tempat kejadian, mewawancarai saksi, mengetahui tentang latarbelakang kehidupan korban, dan seterusnya, bila ini dilakukan niscaya tulisan akan semakin kaya.

*Pengajar Lembaga Pers Dr. Soetomo, tulisan ini di kupasbengkulu.com telah dipersingkat