suasana diskusi "Kamisan" kupasbengkulu.com

suasana diskusi “Kamisan” kupasbengkulu.com

“Indonesia Seperti Buaya yang Tinggal di Air Namun menjadi biawak yang mencari makan ke darat,” Demikian seloroh Komandal Luat Bengkulu Letkol. Laut (P), Amrin Rosihan Hendrotomo dalam diskusi “kamisan” yang digelar redaksi kupasbengkulu.com, Kamis (11/12/2014).

Bengkulu memiliki luas perairan mencapai 52 ribu kilo meter per segi dan garis pantai sepanjang ± 525 km memiliki potensi yang besar terutama pada sektor perikanan, kemudian pada sektor migas. Selain itu juga potensi maritim Bengkulu ada di sektor wisata bahari, sektor perdagangan dan industri maritim.

“Kelima sektor ini belum mampu dikembangkan secara optimal karena keterbatasan Bengkulu pertama yaitu pelabuhan yang belum memadai. Dapat dikatakan pelabuhan Pulau Baii Bengkulu terlalu kecil untuk ukuran pelabuhan provinsi. Kapasitas kapal yang dapat masuk hanya 30.000 GT ke bawah. kondisi pelabuhan Bengkulu yang belum memenuhi standar internasional ini menyebabkan keterbatasan dalam melakukan kegiatan bongkar muat terkait dengan kegiatan di sektor perdagangan,” kata Danlanal.

Kemudian pada industri maritim yaitu pembuatan kapal nelayan, sejauh ini pemerintah masih kurang memberikan perhatian dan bantuan agar kegiatan industri perkapalan ini dapat berkembang yaitu dengan bantuan modal dan membuka akses pasar.

Kunci dari permasalahan ini lanjut Danlanal, adalah “political will” dan “political action” dari pemerintah. Ia sangat mengapresiasi langkah pemerintahan yang baru untuk kembali membangkitkan kemaritiman Indonesia. Kebijakan pemerintah pusat ini harus didukung oleh jajaran pemerintahan daerah beserta seluruh stakeholder. Sehingga adanya sinkronisasi dalam pembuatan kebijakan mengenai kemaritiman serta tindakan yang kompak untuk keberlangsungan pengelolaan potensi maritim ini.

Danlanal mengungkapkan dasar dari keberhasilan pembangunan maritim kita adalah bangsa yang harus mengembalikan dan menumbuhkan kembali visi maritim yang telah lama tergerus oleh masa. Sejak pergantian kepemimpinan presiden Soekarno ke Presiden Soeharto Indonesia mulai meninggalkan laut dan lebih pro terhadap daratan.

“Kita lupa dengan sejarah pada masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang tempo dulu berjaya di laut dan mampu mempertahankan wilayahnya karena kekuatan maritim yang dimilikinya,” tambah Eddy Prihantono dari lembaga Pusat Pemberdayaan dan Pelayanan Masyarakat Pesisir Visi kemaritiman bukan hanya berupa keinginan mengeksploitasi laut tetapi keinginan untuk memelihara keberlangsungan kehidupan laut dengan mengelolanya secara bijaksana dan berkelanjutan untuk anak cucu di masa depan.

Visi kemaritiman ini harus dibangun dan dibudayakan melalui sistem pendidikan, pelatihan, sosialisasi kepada masyarakat. Visi kemaritim ini tidak akan terwujud tanpa ada rasa kecintaan terhadap laut. Selama ini kita hanya menyukai dan menikmati laut tetapi tidak mencintainya. Seperti contoh kita suka berjalan-jalan di pantai panjang, senang meikmati panorama pantai, tetapi kita juga terus membuang sampah dengan sesukanya seperti bekas minuman kelapa muda, botol miniman palstik dan sampah-sampah kemasan makanan lainnya.

Sementara itu dosen kelautan Universitas Bengkulu, Ervina Herliany, menyebutkan ada dua persoalan utama dalam mengembangkan maritim di Bengkulu. Pertama masalah sumberdaya manusia dalam hal ini mulai dari nelayan hingga ke bagian pengolahan hasil laut di Bengkulu. Sebagian besar nelayan bengkulu adalah nelayan tradisional dan masih mengandalkan pengetahuan tradisional atau turun temurun dan belum menggunakan pengetahuan secara ilmiah serta teknologi yang memadai.

Persoalan yang kedua adalah sarana dan prasarana yang belum mendukung seperti pelabuhan, kapal- kapal yang berkapasitas besar / Long line yang mampu menempuh jarak yang jauh untuk melakukan penangkapan ikan pada spot-spot strategis. Seperti di Enggano beliau memberi contoh bahwa disana memiliki potensi perikanan yang cukup besar namun masih terhambat pengelolaannya oleh karena belum Es Batu atau pun Cold Strorage, listrik serta air bersih dalam proses pengolahan hasil laut.

Dilanjutkannya, jika Bengkulu mampu mengelola hasil laut setidaknya dalam bentuk beku atau setengah jadi, ini tentu dapat meningkatkan nilai ekonomi dari hasil laut tersebut. Sebagai akademisi ibu Ervina mengakui pentingnya untuk terus melakukan penelitian, penemuan dan penerapan teknologi untuk mendukung pengembangan industri perikanan di Bengkulu.

Eddy Prihantono dari lembaga Pusat Pemberdayaan dan Pelayanan Masyarakat Pesisir, mengulik sejarah maritim Bengkulu yang pernah diduduki Inggris, kerajaan maritim terkuat pada masa kolonial. Bukti sejarah dapat kita lihat dari monumen-monumen Inggris yang terdapat di Bengkulu. Hal ini membuktikan bahwa sejak zaman dahulu Bengkulu memiliki potensi kelautan yang besar dan masyarakat Bengkulu pada mulanya adalah pelaut. Namun seiring berjalannya waktu budaya pelaut tergerus dan mulai ditinggalkan.

Beliau menggagas Pulau Enggano merupakan titik strategis untuk dijadikan basis perikanan mulai dari penangkapan hingga pemasarannya. Enggano memiliki potensi perikanan yang bernilai ekspor seperti tuna dan lobster. Selama ini masyarakat tidak memiliki akses pasar sehingga mereka menjual hasil tangkapannya kepada pengepul dengan harga yang murah kemudian berpindah tangan lagi kepada pengepul yang ada dibengkulu dan seterusnya.

Panjangnya rantai pasar ini menyebabkan hasil tangkapan para nelayan yang berlimpah tetapi tidak memberikan kesejahteraan kepada mereka. Kesalahan pasar ini diatur/ “dimainkan” oleh orang luar yang menyebabkan penjualan hasil laut tidak sesuai dengan daya upaya masyarakat nelayan.

Untuk mengembangkan pulau Enggano menjadi basis perikanan dan pemasaran hasil laut hanya butuh membangun pelabuhan samudera, tersedianya air bersih dan pabrik es yang dapat menyuplai kebutuhan batu es di Enggano dan juga landasan pesawat terbang. Jika pemasaran langsung dilakukan oleh nelayan langsung dari Enggano negara importir, maka akan memotong jalur perdagangan yang panjang dan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Langkah yang dapat diambil adalah menjalin kerjasama pemerintah swasta dan masyarakat. Membangun jaringan dengan kementerian kelautan. “Melalui ini kemungkinan nanti kita bisa minta bantuan pesawat ibu Susi untuk mengangkut tuna dan lobster segar dari Enggano langsung ke luar negeri”, ungkap Eddy berseloroh.

Selanjutnya dari sudut pariwisata bahari RBDC sebagai pegiat olah raga selam Bengkulu mengakui bahwa Bengkulu terdapat spot penyelaman seperti di Enggano, Pulau Tikus, Pulau Mega, dan desa Linau kaur yang bisa mulai dikembangkan sebagai objek wisata bahari.

Persiapan yang harus dilakukan adalah membangun akses menuju lokasi penyelaman oleh pemerintah khususnya dinas pariwisata. Hal ini juga disertai dengan memperkenalkan mempromosikan olah raga bawah air kepada masyarakat dan potensi wisata bahari yang ada di Bengkulu.

APBD Pro Maritim

Firmansyah peserta diskusi lain menambahkan bahwa upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan potensi maritim Bengkulu tentu harus didukung oleh kebijakan pemerintah daerah terutama masalah pendanaannya. Ironisnya pembahasan APBD tahun 2015 tidak mengarah ke laut. DPRD dan pemerintah daerah masih bergelut dengan pengalokasian anggaran sebesar 60 persen untuk biaya konsumsi pegawai.

Persoalan selanjutnya, pemerintah tidak mengcover nelayan dari keadaaan pada saat panceklik yaitu pada saat badai dan cuaca buruk. Koperasi nelayan tidak didayagunakan untuk menolong keluarga nelayan di saat-saat sulit seperti itu. Akibatnya perekonomian masyarakat nelayan tidak mampu bangkit, karena mereka harus berhutang kepada rentenir ketika panceklik dan ketika bisa melaut kembali mereka harus membayar hutang tersebut dengan bunga uang yang tidak tanggung-tanggung.(tim kamisan)