Masjid Bubungan Tinggi yang kini di sebut Masjid Jamik  di Kota Bengkulu

Masjid Bubungan Tinggi yang kini disebut Masjid Jamik di Kota Bengkulu (Photo net0

Oleh : Benny Benardie

Kata Bengkulu yang diambil dari terjemahan kata Lu Shiangshe ada kemungkinan dipakai sejak Kerajaan Melayu, yang didirikan Tahun 664 Masehi di Jambi (Lamby) dan Kerajaan Shin Li Fo Shih atau San Fo ts i ang dikenal dengan Kerajaan Sriwijaya.

Pada abad pertengahan (Abad ke-10) karena letaknya secara giografis tidak strategis, membuat kerajaan yang ada pada masa itu tidak memperhatikan lagi negeri ini. Padahal, nama Negeri Lu Shiangshe atau Bengkulu ini, tersebut dalam peta yang dibuat Strabo 63 sM-21 sM, seorang ahli bumi bangsa Amasia Mesir.

Tidak hanya disitu, peta yag dbuat Claudius Ptolemaeus 127 – 151 M, ahli bumi bangsa Yunani yang ditemukan 165 Masehi. Dalam peta itu disebutkan, “Golzden Chersonese” atau Pulau Emas . Itu juga diceritakan dalam syair Ramayana yang ditemukan 106 tahun setelah wafatnya Nabi Isa As. “Periksalah baik-baik Javadwiva yang mempuyai tujuh buah kerajaan, yaitu pulau emas dan perak , negeri yang dihiasi tukang-tukang emas”.

Selanjutnya dalam syair itu diceriterakan, “Pulau itu amat subur tanahnya dan banyak mengandung emas, mempunyai ibu negeri yang bernama Perak dan disebelah baratnya terdapat sebuah penyeberangan”.

Pertanyaannya, negeri manakah yang dimaksud? Alhasil  library riset menyebutkan, itu adalah Negeri Lu Shiangshe atau Sungai Lusang kini di daerah Bengkulu Utara. Satu negeri lagi yang disebutkan adalah Phalimbam atau Desa Panimbang di Pandegelang, Provinsi Banten.

Kunjungan Tokoh Nusantara

Meskipun dalam babad Baten, Cirebon, Jakarta termasuk babad Tanah Sunda, Palembang dan Tanah pasee (Aceh) banyak menceritakan beradaan Negeri Bengkulu yang terletak di pesisir pantai. Ini catatan naskah kuno Gujarat India, Achmad Gulam Khaan saat ke Cirebon.

Dari catatan itulah terkuak kalau Fathahillah atau ulama besar Sultan Maulana Syarif Hidayatullah au Fhatahillah Khaan al Pasee, sempat singgah ke Pantai Bengkulu pada tahun 1521 Masehi. Penulis menduga, kunjungan itu ke Kerajaan Sungai Serut. Itu terjad pada 7 Jumadil awal 927 Hijriah atau 1443 Caka atau 1521 Masehi. Selama 16 hari itu, Ulama besar ini mendapat sangu perjalanan, berupa beras, ternak sebagai bekal pulang ke Kesultanan Banten.

Tempat pemondokan awak Kapal inilah yang oleh anak negeri di sebut Pondok Aceh yang letaknya antara daerah Pasar Bengkulu dengan Pasar Pedati. Mengenai nama daerah Pondok Aceh yang ada di daerah Pulau Baai, Selebar Bengkulu, itu merupakan tempat pemondokan Laskar Aceh, pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Penulis dan Jurnalis di Bengkulu