Kelolah Karang Mati, Warga Kaur Raup Rupiah

0
Karang Menti
Ujang memanfaatkan terumbu karang yang sudah mati dan tidak berguna, berserakan dipinggir pantai untuk dijadikan sebuah karya seni yang benilai tinggi.

Kaur, kupasbengkulu.com – Jika kita lihat sekilas terumbu karang di pantai-pantai ini memang tidak ada artinya, karena kita tidak tahu apa itu sebuah seni. Namun, berbeda bagi Ujang warga Air Dingin Kecamatan Kaur Selatan Kabupaten Kaur ini, memanfaatkan terumbu karang yang sudah mati dan tidak berguna, berserakan dipinggir pantai untuk dijadikan sebuah karya seni yang benilai tinggi.

Dari kegemarannya pada sebuah seni, Ia mengembangkan, hobi seninya dengan mengolah terumbu karang yang sudah mati dan dijadikan sebuah karya seni yang sangat indah dan menarik. Untuk jenis terumbu karang yang diolah yakni berbagai jenis kerang, betik (kucing-kucingan), tutup keong laut, siput dan masih banyak jenis lainnya.

Terumbu karang yang sudah mati diambilnya sendiri dari pinggir pantai yang kebetukan tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, yakni lebih kurang berjarak tiga kilometer. Untuk mendapatkan terumbu karang yang sesuai dengan yang dibutuhkan tidaklah susah, karena terumbu karang yang sudah mati banyak ditemukan dipinggiran laut.

Tapi tentu saja butuh tenaga untuk mengambilnya, karena banyak yang tertutup pasir dan karang-karangan laut.

Saban hari Ujang, bersama seorang rekannya mengambil terumbu karang hingga siang, dan waktu siang hingga malam mereka mengolah terumbu karang yang ada, untuk dijadikan sebuah benda unik dan menarik, seperti meja, cermin, tempat tissue, hiasan dinding, dan masih banyak lainnya.

“Kami mengatur waktu untuk pembuatan kerajinan tangan ini. Karena kami belum banyak rekan kerja. Kalau pagi kami mengambil terumbu karang hingga siang, dan siang hingga malam kami mengolahnya menjadi sebuah benda unik dan menarik,” kata Ujang.

Terumbu karang yang didapat dari pantai belum langsung diolah, terlebih dahulu dikakukan proses pembersihan kerang supaya bersih dari pasir-pasir dan rasa asin air laut kemudian dikeringkan. Setelah itu barulah proses pembuatan.

Hasil karyanya sangat memuaskan, karena selain unik, karyanya sangat rapi dan punya nilai seni yang tinggi. Ujang yang memang punya darah seni ini tertarik mengembangkan terumbu karang, menjadi sebuah usaha yang nantinya menjadi pusat belanja hiasan terumbu karang sebagai ole-ole khas kaur.

Ia sudah banyak memproduksi hiasan rumah dari trumbu karang, seperti jam dinding, meja, cermin, hiasan lampu dan lainnya dengan harga yang seimbang yakni dari Rp 500 ribu hingga Rp 5 juta rupiah perbuahnya.

Meskipun harganya lumanyan tinggi, namun banyak yang menyukai dan membelinya, saat ini berbagai pesanan sudah ia terima mulai dari hiasan dinding, cermin dan pernak-pernik lainnya.

“Untuk masyarakat disini memang mereka merasa harga yang ditawarkan cukup tinggi, karena mereka tidak asing dan aneh lagi melihat terumbu karang. Tapi bagi masyarakat luar, ini unik sekali dan terlalu indah untuk sebuah karya yang terbuat dari terumbu karang dan dengan harga begini mereka tidak keberatan,” tutup Ujang.(mty)