rakittt

Kisah Sang Pengayuh Rakit Kehidupan di Bengkulu Tengah

Bengkulu Tengah, kupasbengkulu.com – Puluhan kambing saling sahut mengembik di pinggir aliran ‘susu cokelat’. Jembatan usang tua reot yang sedang dipugar berderit nyaring saat sebuah sepeda motor melintas diatasnya.

Jarum jam menunjukkan sekiitar pukul 12.31 WIB. Para pekerja jembatan terlihat membuka bekal mereka di bawah niur, yang berjarak 200 meter dari jembatan. Sementara Dulhanan (52) tampak asyik dengan pekerjaannya. Ia tak berhenti untuk makan, tak pula menggubris panasnya terpaan matahari.

“Saya harus selesaikan rakitnya hari ini, untuk dipakai besok,” ujarnya, sambil terus menyelesaikan ikatannya pada rakit dengan panjang 8 meter dan lebar 1,5 meter tersebut.

Pria paruh baya ini, bisa saja bertutur sambil terus bekerja. Ia tak ragu menjelaskan, apapun yang ditanyakan.

“Rakit ini sudah jarang dipakai, tidak ada lagi yang menggunakannya di kabupaten ini kecuali pemungut limbah batu bara disungai,” ujarnya, sambil menunjuk ke aliran sungai Muaro Tigo Desa Penanding, Kabupaten Bengkulu Tengah yang berwarna cokelat pekat, persis susu steril dalam kemasan, dua meter dari ia membuat rakit.

Dia membenarkan, seiring perkembangan zaman, alat transportasi air ini seolah ikut tenggelam dari masa popularitasnya. 30 tahun lalu, saat sungai muaro tigo masih jernih, ia masih bisa menyebrangi sungai dengan rakit sambil berlomba dengan ikan di air yang transparan.

Saat ia masih pria muda, dan jembatan belum ada, rakit ini adalah kendaraan andalan mereka untuk menyebrangi sungai bersama kerabat dan tetangga, untuk menuju ke kebun di seberang sana.
sungai Muaro Tigo adalah salah satu dari beberapa sungai di kabupaten ini yang menjelma menjadi susu cokelat, sejak tercemar oleh limbah batubara di bagian hulu sungai.

Sama seperti kehadiran rakit yang mulai memudar, beningnya air sungai juga ikut menjadi kenangan belaka. Tidak ada lagi ikan yang bisa dipancing disungai untuk dimakan. Jika ingin memakan ikan,
Dullhanan dan puluhan bahkan ratusan orang, harus memungut limbah batubara, mengumpulkan, menjualnya, lalu membeli ikan dari penjual dipasar atau tukang sayur. Angin semilir merayu rumpun bambu di seberang sungai. Dulahanan menyelesaikan ikatan terakhirnya.

“Rakit ini hanya bertahan tiga minggu, kalau sekarang kami para orangtua di sini masih pandai membuat rakit. Kalau sudah habis orangtuanya, tidak ada lagi yang membuat rakit, anak muda bisa beralih ke yang lebih bagus kan,” kata dia, sembari mengeluarkan kreteknya sambil menghela nafas dalam. Bahasa pria ini sangat halus untuk mengungkapkan tentang “banyak kehilangan”. Tapi, alam tak bisa bohong, bahasa alam selalu jujur.

Rakit buatan Dulhanan, menjadi saksi bisu pembicaraan kami. Mungkin rakit itu sedang menangis karena tak bisa lagi menyebrangi sungai yang jernih seperti para pendahulunya, tak ada lagi menyebrang bersama ikan.

Air adalah sumber kehidupan, saat air tercemar, berarti kehidupan terancam. Mungkinkah beberapa tahun lagi cerita tentang rakit dan kejernihan sungai adalah dongeng.

Berakit rakit dahulu, berenang renang ke tepian. Cerita rakit jaman dahulu dan beningnya sungai hanya kenangan. Jawabannya, ada pada kita. Mampukah kita menjaga alam untuk anak cucu kita, bukan nanti, tapi mulai sekarang ?.

Penulis : Evi Valendri, Kabupaten Bengkulu Tengah.