Beranda INSPIRASI Mengenal Lebih Dekat Junaidi Hamsyah, Episode Seorang Oemar Bakrie (Bab I)

Mengenal Lebih Dekat Junaidi Hamsyah, Episode Seorang Oemar Bakrie (Bab I)

0

cover Panggil Aku abi

Bagian 2

Salat yang paling Afdol adalah di Awal Waktu

Saat itu rapat telah berlangsung lebih dari dua jam, rapat tentang kenaikan kelas. Cukup alot perdebatan yang menyita waktu antara beberapa orang guru. Topik yang diperdebatkan tentang siswa-siswa ‘bermasalah’. Semua punya pendapat masing-masing tentang siswa siswa tersebut. Apakah sudah selayaknya dinaikkan atau malah harus mengulang.

Ada yang berpendapat bahwa sikap siswa menentukan naik atau tidaknya ia ke kelas berikutnya, ada pula yang mempertahankan pendapat bahwa nilai rapot lah yang berperan dalam memutuskan kenaikan seorang siswa.

Saat itu seorang guru bersuara cukup lantang. “Kita ini seorang pendidik, maka melaksanakan tugas mendidik bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik. Tapi bagaimana kita mampu mengubah perilaku anak didik kita menjadi lebih baik, istilahnya lebih manusia. Mempunyai akhlak. Oleh karena itu jika ada pendapat bahwa keberhasilan kita mendidik siswa itu terletak pada tingginya nilai pelajaran yang ia dapatkan maka saya tidak sependapat. Tak ada gunanya kita berhari-hari melaksanakan proses KBM jika siswa mendapatkan nilai tinggi dengan cara menyontek.“

“Tapi kita harus ingat, pak! Bahwa dalam nilai yang kita berikan ada dua macam, PK dan Sikap. Dan itu adalah akumulasi dari sikap dan kepribadian yang kita nilai.”

Perdebatan masih saja terjadi, sayup-sayup terdengar adzan Dzuhur, pimpinan rapat masih melanjutkan rapat tersebut. Namun para dewan guru yang hadir pada rapat itu sudah mulai gelisah, kebanyakan ibu-ibu yang mempunyai bayi sudah kasak-kusuk. Sementara pimpinan rapat serta sebagian yang hadir menginginkan rapat tetap dilanjutkan karena tinggal satu keputusan lagi, yakni menentukan kriteria kenaikan kelas.

Seorang guru meminta izin untuk keluar ruangan. Rapatpun tetap dilanjutkan, dengan perdebatan yang masih sengit.

Beberapa menit kemudian sang guru yang meminta izin keluar tadi masuk lagi dalam ruangan, dengan kondisi rambut yang sudah basah. Ternyata ia keluar untuk menunaikan solat dzuhur. Aku malu sendiri, sang ustadz tidak berkoar-koar mengajak untuk menunaikan solat, namun hati seperti disikut, oleh sikap sang ustadz memberikan contoh, agar para dewan guru mengutamakan kewajiban ketimbang menuruti emosi yang belum juga ketemu ujungnya.

Hingga pukul 15.00 rapat hari itu tidak juga mencapai kesepakatan. Sementara waktu solat dzuhur sudah diujung tanduk. Beberapa orang guru berlari kecil menuju mesjid, mengejar waktu solat dzuhur yang tersisa. Jika saja mereka mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Ustadz, solat di awal waktu, tentu mereka tak akan terburu-buru mengejar waktu dzuhur yang tinggal sedikit.(**)

Penulis : M. Firdaus Pimpinan Perusahaan Harian Bengkulu Ekspress
Lanjutan :
– Bagian 1
– Bagian 2
– Bagian 3
– Bagian 4
– Bagian 5
– Bagian 6
– Bagian 7