Dodi Irawan

Oleh Dodi Irawan*

UN atau Ujian Nasional dinilai tidak efektif dalam menentukan kepintaran pada siswa. Ini hanya membuat pusing dari sebagian siswa yang mengikuti ujian nasional tersebut. Dalam kata lain, UN tersebut merupakan ujian yang mengulang dari pelajaran sebelumnya. Hanya saja, dalam pengulangan pelajaran ini sendiri siswa dituntut untuk mempelajari semua pelajaran yang diberikan kepadanya selama duduk di bangku sekolah tersebut.

Sehingga siswa atau pelajar banyak kebingungan dalam menyelesaikan tugas ujian yang diberikan kepada mereka. Pasalnya ditemui setiap sekolah diakhir atau mendekati semester terakhir mendekati ujian, para murid hanya diberikan pengulangan pelajaran selama tiga bulan penuh.

Namun, untuk memperoleh pelajaran yang diberikan kepada mereka murid seharus mempelajari semua pelajaran selama tiga tahun. Karena pada ujian ini murid akan diberikan pertanyaan yang telah mereka pelajari saat duduk dibangku kelas satu dan kelas dua.

Pada saat mereka mengikuti ujian ini, apakah mereka akan ingat dalam tiga bulan untuk melakukan pengulangan ujian ini?, apakah siswa mampu meresap pelajaran yang telah diberikan oleh tenaga pengajar kepada mereka.

Tentunya, serapan otak manusia itu masih belum mampu mengingat semua apa yang telah tenaga pengajar berikan kepada mereka. Kesulitan ini karena kemampuan cara berfikir manusia berbeda dan kemampuan ingatan manusia juga terbatas.

Akan tetapi, walaupun manusia cara pengingatnya terbatas, belum tentu orang tersebut bodoh dalam melakukan hal sesuatu. Karena batasan fikiran manusia ini, bukannya hanya mengingat sesuatu. Karena kebodohan tersebut bukan dinilai dari nilai atau ujian yang diberikan kepadanya.

Sebagai contoh, Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo atau lebih dikenal sebagai Deddy Corbuzier dianggap paling pintar yang Iq hampir menyamai Albert Einsten tersebut sejak sekolah tak begitu pintar.  Jadi bagaiman ujian sekolah tersebut bisa menentukan orang pintar dan mencetak orang-orang yang berkualitas kalau begini caranya.

Perlu dipahami sedikit, kecerdasan tersebut tak bisa dinilai dari pelajaran dan hasil nilai yang diadakan dalam ujian nasioanal. Karena keceradasan tersebut berbagai macam yakni kecerdasan lingustik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.

Apalagi dalam penentukan pelajaran seorang guru banyak menuntut untuk menjadi seperti mereka. Karena tidak mungkin seorang murid yang baru beranjak masuk kuliah harus seperti orang yang baru selesai S3. Apakah mereka bisa menelannya semua ? oh tidak mungkin, karena itu tidakkan bisa dicapai karena otak manusia berbeda daya tampungnya.

Mana mungkin seorang murid bisa menyerap semua pelajaran tersebut, karena dalam sekolah setiap harinya murid disodorkan kurang lebih empat mata pelajaran dan itu dipaksa untuk ditelan semua. Serta dalam seminggu, murid paling tidak 10 hingga 14 mata pelajaran yang harus dipelajari kembali. Apakah mungkin mereka bisa?

Seorang guru matematika saja tidakkan mungkin menguasai mata pelajaran bahasa inggris karena bukan bidangnya. Jadi seperti hal itu juga seorang murid, tidak mungkin mereka bisa mengusasi semua bidang yang diberikan kepada mereka.

Kasus ini hanya kita temui di dalam sekolah, dilihat juga dari luar sekolah. Seperti yang pernah dialami penulis. Dimana pengalaman saya, ada seorang teman dalam satu sekolah orangnya paling bodong dari antara kami. Untuk satu kelas kami berjumlah 32 orang dan saat selesai ujian sekolah teman saya atau rekan saya satu kelas kemudian lulus dengan hasil yang mengagumkan. Sedang salah satu rekan saya yang paling tidak mendapat rengking sepuluh besar, dia tak lulus.

Dan tak hanya itu, banyak dari siswa yang stres hingga tewas mengenaskan setelah mendengar hasil ujian mereka tak lulus. Saat itu pemerintah tak ambil pusing, karena mereka menganggap pintar namun mereka dinyatakan tak lulus. Jadi siswa tersebut dianggap tak layak oleh pemerintah.

Bisakah efektif menentukan seorang tersebut bisa mendapatkan hasil yang memuaskan kalau hanya mendapatkan untung-untungan dari nilai ujian akhir.Serta juga nasib mereka yang sedang mujur, kan tidak masuk akan kalau dengan menilai dengan nilai ujian tersebut siswa dikatakan pintar.

Yang bisa menentukan pintar itu sendiri bisa pihak guru yang dekat dengan mereka, guru yang mengajar disekolah itu sendiri memahami siapa saja yang memang layak mendapat kelulusan. Hal ini malah berbalik, orang yang tidak mengenal dengan siswa itu sendiri yang menilai mereka layak atau tidak. Seharusnya, mereka melihat langsung kecerdasaan seorang siswa tersebut.

Seharusnya pemerintah bisa meniru negara-negara seperti Finlandia, Amerika, Jerman, Kanada dan Australia yang merupakan negara maju, tetapi mereka tak pernah melakukan ujian sekolah untuk setiap sekolah. Bahkan sistem pengajaran mereka bisa dikatan ‘wah’.

Logika pendidikan yang digunakan yaitu Kualitas pendidikan ditentukan oleh individu masing-masing kelulusan. Jadi seorang siswa memiliki kualitas tersendiri di setiap mata pelajaran, karena kualitas setiap manusia tersebut unit tidak bisa dinilai dengan satu mata pelajaran dalam UN.

Namun, pemerintah ditahun ini malah melakukan perubahan kurikulum dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) segera mengubah pola ujian nasional (UN) pada 2015. Dimana pola tersebut membuat siswa makin kebingungan dengan memberikan ujian melalui online.

Tapi apa yang terjadi, banyak dari siswa yang menolah dengan sistem online tersebut. Hal ini pembagian internet dan komputer yang belum merata dab yang menguntungkan hanya orang-orang hidup di Kota dengan pola dan alat-alat yang lebih maju, apakah pemerintah pernah berfikir dengan anak-anak pedalam?

Disaat ujian kali ini saja, banyaknya terjadi kebocoran soal dan kunci jawaban berserakan, namun kementrian tak mempersoalkan masalah ini karena hanya 30 persen saja kunci jawaban tersebut yang tersebar. Apakah itu bukannya pembodohan? Apakah pola pembelajaran dan pembentukan siswa di Indonesia harus seperti ini? hanya pemerintah yang bisa menjawabnya apakah tanpa UN atau terus melakukan UN.

*Penulis wartawan kupasbengkulu.com