pelepasan tabit

Prosesi pelepasan Tabot di Gedung Daerah

Kota Bengkulu, kupasbengkulu.com – Malam satu Muharam Tabot Mengambik Tanah. Boneka dari tanah dalam gerga diletak. Itulah sepenggal lirik lagu berjudul “Bulan Tabot”, yang selalu dikumandangkan saat memasuki tanggal 1 Muharam. Itu menandai dimulainya perayaan festival dan ritual Tabot di Kota Bengkulu.

Namun yang mengejutkan, Ketua Keluarga Kerukunan Tabot (KKT) Syafril mengungkapkan, dalam acara pelepasan “Tabot Tebuang” di Gedung Daerah Provinsi Bengkulu, agar lirik tersebut diubah karena tak sesuai dengan prosesi ritual Tabot.

“Kami dari KKT meminta agar lagu Bulan Tabot itu jangan dinyanyikan seperti itu. Karena yang benar bukannya ‘boneka dari tanah’, melainkan hanya mengambil segenggam dua genggam tanah untuk kemudian disimpan di gerga,” kata Syafril, Senin (3/11/2014).

Disebutkan Syafril, hal ini juga terkait dengan banyaknya pihak yang mengatakan ritual Tabot mengandung unsur syirik. Penggunaan kemenyan dalam setiap ritual Tabot menurutnya hanya sebagai pengharum dan untuk menetralisir arena dari aroma tidak sedap, sehingga mereka memastikan bahwa ritual Tabot bukanlah upacara memanggil arwah leluhur.

“Jangan dikatakan kemenyan itu untuk memanggil jin, setan, atau iblis. Kemenyan digunakan untuk menetralisir aroma. Asapnya adalah seni, karena Tabot juga merupakan seni pertunjukkan. Asap melambangkan semangat dan kecintaan kepada Allah SWT. Jadi jangan sekali-sekali mengatakan ini syirik,” demikian Syafril. (val)